Opini post author Kiwi 27 September 2026

Mengapa Luka Batin Tak Pernah Dijenguk seperti Luka Fisik?

Photo of Mengapa Luka Batin Tak Pernah Dijenguk seperti Luka Fisik?

Oleh: Ahmad Jais

Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat
Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Rasa sakit mental tidak sedramatis rasa sakit fisik, namun lebih banyak terjadi dan lebih sulit ditanggung. Lebih mudah mengatakan gigiku sakit daripada mengatakan hatiku hancur." (C.S. Lewis, gagasan dari The Problem of Pain, 1940)

Ketika seorang teman sakit demam dan dirawat di rumah sakit, kabar itu menyebar cepat di grup WhatsApp "Ayo kita jenguk", "Aku bawa buah", "Semoga cepat sembuh ya".
Namun ketika seorang teman yang sama sedang patah hati, kehilangan orang tercinta, atau tenggelam dalam keputusasaan yang dalam, tidak ada yang mengabarkan di grup, tidak ada yang berinisiatif menjenguk, bahkan sering kali tidak ada yang tahu sama sekali bahwa ia sedang terluka.

Luka fisik terlihat, terukur, dan mudah dipahami; luka batin tersembunyi, sulit dijelaskan, bahkan oleh pemiliknya sendiri.
Padahal, sebagaimana yang diingatkan C.S. Lewis, penderitaan mental justru lebih sering terjadi dan lebih berat ditanggung dibanding penderitaan fisik, namun ironisnya jauh lebih jarang mendapat perhatian dan kepedulian yang layak.

Fenomena ketimpangan kepedulian ini sesungguhnya telah lama menjadi perhatian dalam ajaran Islam, yang mengajarkan bahwa kepedulian terhadap sesama seharusnya menyeluruh, tidak hanya pada yang tampak, tetapi juga pada yang tersembunyi.

Rasulullah saw sendiri mengajarkan bahwa umat yang beriman ibarat satu tubuh, yang seharusnya merasakan penderitaan saudaranya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Beliau bersabda, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan berlemah lembut satu sama lain adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kepekaan terhadap penderitaan sesama seharusnya tidak berhenti pada apa yang terlihat oleh mata, melainkan menjangkau hingga ke penderitaan batin yang tidak selalu tampak, sebagaimana satu tubuh yang merasakan demam meski hanya satu bagian kecil yang sakit.

Allah Swt berfirman, "Dia mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang lebih tersembunyi lagi." (QS. Thaha: 7).
Ayat ini bagaikan pengingat yang begitu mendalam bahwa ada dimensi penderitaan manusia yang tidak selalu bisa dilihat oleh mata sesama, namun tidak pernah luput dari pengetahuan Allah, doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian malam, air mata yang jatuh tanpa disaksikan siapa pun, dan kesabaran yang terus dijaga meski hati sudah begitu lelah, semuanya tercatat meski manusia di sekitarnya tidak pernah menyadarinya.

Kisah Nabi Ya'qub as. memberikan gambaran mendalam tentang luka batin yang begitu berat namun tidak selalu dipahami orang lain.
Setelah kehilangan putra kesayangannya, Yusuf AS, ia menangis hingga matanya memutih karena kesedihan yang mendalam, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, "Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah orang yang menahan amarahnya (terhadap kesedihannya)." (QS. Yusuf: 84).
Anak-anaknya yang lain bahkan menganggap kesedihan ayah mereka berlebihan, tidak sepenuhnya memahami kedalaman luka batin yang dirasakannya.
Namun Nabi Ya'qub as. tidak pernah mengeluh kepada manusia, melainkan menyampaikan kesedihannya hanya kepada Allah, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf: 86).

Penjelasan di atas sejalan dengan penegasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, "Luka fisik akan sembuh dengan obat yang tampak, namun luka batin memerlukan obat yang tidak selalu terlihat: kehadiran, pendengaran yang tulus, dan doa yang tak henti." (gagasan dari Zadul Ma'ad).
Kata hikmah ini menegaskan bahwa menjenguk luka batin tidak selalu membutuhkan kunjungan fisik seperti menjenguk orang sakit di rumah sakit, melainkan kehadiran hati, meluangkan waktu untuk mendengarkan, menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, dan tidak menghakimi ketika seseorang berani bercerita tentang lukanya.

Di era digital saat ini, ironi ini semakin nyata, status kesehatan fisik seseorang mudah diketahui dan direspons dengan cepat, sementara status emosional yang tersembunyi di balik unggahan "baik-baik saja" sering kali luput dari perhatian, bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun.
Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat." (HR. Muslim).
Hadis ini merupakan sebuah janji yang begitu besar bagi siapa saja yang mau meluangkan waktu untuk peduli, mendengarkan, dan hadir bagi mereka yang sedang berjuang dengan luka yang tidak terlihat.
Ketidakpedulian kita pada sesama yang sedang mengalami luka batin hendaknya tidak berkembang menjadi kelalaian kolektif, sebab tidak sedikit kasus yang berujung fatal justru karena tidak ada yang menyadari seseorang sedang berjuang sendirian dengan bebannya.
Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah: 2).
Ayat ini mengajak kita untuk memperluas makna tolong-menolong, tidak hanya pada bantuan yang tampak nyata, tetapi juga pada kepedulian terhadap penderitaan batin yang sering kali tersembunyi rapat di balik senyum yang dipaksakan.

Jadilah seperti telinga yang benar-benar mendengar, bukan sekadar menunggu giliran berbicara, sebab kadang yang dibutuhkan seseorang yang terluka bukanlah nasihat, melainkan kehadiran yang tulus.
Jadilah pula seperti pelukan hangat di tengah dingin, yang tidak perlu banyak kata untuk menyampaikan bahwa seseorang tidak sendirian menghadapi badainya.
Ingatlah bahwa setiap kepedulian yang kita berikan kepada mereka yang terluka batinnya, sekecil apa pun bentuknya, akan menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah sebagaimana luka yang tak terlihat itu pun tidak pernah luput dari pengetahuan-Nya.

Ya Allah, bukakanlah mata hati kami untuk peka terhadap luka batin saudara-saudara kami yang tersembunyi, jadikanlah kami pendengar yang tulus bagi mereka yang membutuhkan, dan sembuhkanlah setiap luka batin yang sedang dipendam dalam diam oleh siapa pun yang membacanya. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda