Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Kegelisahan terbesar seorang hamba bukanlah pada apa yang belum terjadi, melainkan pada prasangka buruknya terhadap apa yang akan Allah tetapkan baginya." (Ibn 'Arabi, abad ke-13 M)
Seorang siswa duduk termenung di sudut kelas, matanya menatap kosong ke arah papan tulis yang penuh rumus yang belum juga ia pahami.
Di rumah, seorang mahasiswa semester akhir membolak-balik draft skripsinya berkali-kali tanpa berani mengirimkannya kepada dosen pembimbing, takut mendapat kritik yang menghancurkan kepercayaan dirinya.
Ada pula remaja yang scroll media sosial larut malam, melihat unggahan teman-teman sebaya yang tampak sudah "berhasil" magang di perusahaan bergengsi, diterima beasiswa luar negeri, memulai bisnis sendiri, sementara dirinya masih berkutat dengan tugas kuliah yang menumpuk.
Dari sinilah lahir kecemasan yang tidak selalu terlihat dari luar: senyum yang dipaksakan, jawaban "baik-baik saja" yang sebenarnya menutupi kegelisahan mendalam tentang masa depan yang terasa kabur dan penuh ketidakpastian.
Riset psikologi pendidikan mencatat bahwa kecemasan menghadapi masa depan pada pelajar dan mahasiswa erat kaitannya dengan fenomena perbandingan sosial yang kian intens di era digital, semakin sering seseorang membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain di media sosial, semakin besar pula rasa tidak cukup baik yang dirasakannya, meski perbandingan itu sesungguhnya tidak adil dan tidak proporsional.
Jika dibiarkan berlarut, kecemasan semacam ini dapat berkembang menjadi gangguan tidur, menurunnya motivasi belajar, bahkan gejala psikosomatis seperti sakit kepala dan nyeri lambung yang justru menghambat performa akademik itu sendiri, sebuah lingkaran yang terus berputar, di mana cemas akan kegagalan justru mendekatkan seseorang pada kegagalan yang ditakutkannya.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru dalam perjalanan manusia. Rasulullah saw pun memahami betul kegelisahan hati generasi muda pada zamannya, sebagaimana sabdanya, "Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin.
Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya" (HR. Muslim).
Teladan lain datang dari Nabi Musa as ketika diutus menghadapi tugas besar yang menakutkan hatinya, berhadapan dengan Fir'aun yang berkuasa. Alih-alih memendam kecemasannya sendirian, beliau berdoa dengan jujur, "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku" (QS. Thaha: 25-26).
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang menenangkan: bahwa merasa cemas menghadapi tantangan besar bukanlah aib atau tanda kelemahan iman, melainkan hal manusiawi yang justru harus diarahkan menjadi doa dan ikhtiar, bukan dibiarkan melumpuhkan langkah.
Sebagai ikhtiar pendamping, bukan pengganti, usaha belajar dan doa yang telah dilakukan, pendekatan Mind Healing Technique (MHT) dapat membantu pelajar dan mahasiswa mengelola beban batin ini secara lebih sehat.
Caranya sederhana: luangkan beberapa menit untuk duduk tenang, tarik napas dalam melalui hidung, tahan sejenak, lalu hembuskan perlahan melalui mulut, ulangi hingga ketegangan di dada dan bahu mulai mengendur.
Setelah tubuh mulai rileks, ucapkan dalam hati kalimat afirmasi penuh tawakal, "Dengan izin Allah swt, aku telah dan akan terus berusaha sebaik mungkin menghadapi setiap ujian dan masa depanku, dan hasilnya aku serahkan sepenuhnya kepada-Nya."
Sebagaimana ditegaskan Imam Al-Ghazali, "Barangsiapa yang menyerahkan hasil akhir kepada Allah swt setelah bersungguh-sungguh berusaha, ia akan menemukan ketenangan yang tidak dimiliki oleh mereka yang hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri" (gagasan dari Ihya' Ulumuddin).
Kata hikmah ini merupakan sebuah pengingat bahwa ketenangan sejati lahir bukan dari kepastian hasil, melainkan dari kepasrahan setelah ikhtiar.
Allah Swt berfirman, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Janji ini diulang dua kali sebagai penegasan bahwa kesulitan yang dihadapi hari ini senantiasa disertai kemudahan yang telah Allah tetapkan. Jadilah seperti benih yang harus melewati gelapnya tanah sebelum tumbuh menjadi tunas hijau menjulang ke arah cahaya, dan jadilah seperti anak panah yang ditarik mundur sejenak sebelum melesat jauh ke depan, sebab setiap tekanan yang dirasakan hari ini bisa jadi justru persiapan menuju lompatan besar yang telah Allah rencanakan bagi masa depanmu.
Ya Allah, lapangkanlah dada anak-anak dan generasi muda kami yang sedang menghadapi ujian dan kecemasan akan masa depan. Kuatkanlah hati mereka dengan kesabaran dan kesungguhan berusaha, tenangkanlah jiwa mereka melalui setiap ikhtiar yang mereka lakukan, dan yakinkanlah hati mereka bahwa Engkau senantiasa memberi kemudahan setelah setiap kesulitan. Amin. (*)