Opini post author Kiwi 21 September 2026

Sunyi di Rumah, Gaduh di Hati: Dampak Silent Treatment pada Keluarga

Photo of Sunyi di Rumah, Gaduh di Hati: Dampak Silent Treatment pada Keluarga

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com


"Rumah yang penuh kesunyian karena kemarahan yang tak terucap sesungguhnya lebih berisik daripada rumah yang dipenuhi tangis anak-anak." (Imam Al-Ghazali, gagasan dari Ihya' Ulumuddin, abad ke-11 M)

Rumah seharusnya menjadi tempat paling hangat bagi setiap anggota keluarga, tempat pulang setelah lelah bekerja, tempat anak-anak merasa aman untuk bercerita, tempat suami istri saling menopang ketika badai kehidupan menerpa.

Namun tidak sedikit rumah yang justru berubah menjadi ruang sunyi yang mencekam, ketika salah satu anggota keluarga memilih mendiamkan yang lain sebagai bentuk hukuman atas kekecewaan yang tak pernah diucapkan.

Meja makan yang seharusnya menjadi tempat berkumpul berubah menjadi arena kecanggungan, anak-anak yang menyaksikan orang tuanya tidak saling menyapa selama berhari-hari, atau seorang anak yang didiamkan orang tuanya, padahal ia sendiri tidak benar-benar tahu apa kesalahannya.

Di luar tampak sunyi dan tenang, namun di dalam hati setiap orang yang mengalaminya justru bergemuruh dengan kebingungan, kecemasan, dan luka yang tak terlihat. Fenomena ini sesungguhnya telah lama menjadi perhatian para nabi dan ulama, sebab keluarga adalah fondasi utama yang harus dijaga keharmonisannya dengan komunikasi yang jujur, bukan dengan kesunyian yang menghukum.

Rasulullah saw sendiri memberikan teladan yang begitu indah tentang bagaimana menjaga komunikasi yang hangat di dalam rumah tangganya, bahkan ketika menghadapi kesalahpahaman dengan istri-istrinya.

Diriwayatkan bahwa ketika terjadi ketegangan antara beliau dengan sebagian istrinya, beliau tidak memilih mendiamkan mereka berlarut-larut tanpa penjelasan, melainkan mengambil waktu untuk menenangkan diri sejenak, kemudian kembali dengan penuh kelembutan menyelesaikan persoalan tersebut secara terbuka.

Beliau bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menjadi teladan penting bahwa kebaikan seseorang justru diukur dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya di rumah termasuk bagaimana ia menyelesaikan konflik, bukan dengan kesunyian yang menyiksa, melainkan dengan komunikasi yang penuh kasih sayang.

Allah Swt berfirman, "Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa: 19).

Ayat ini menegaskan bahwa pergaulan yang baik (mu'asyarah bil ma'ruf) harus tetap dijaga bahkan di saat-saat ketidaksukaan atau kekecewaan muncul, sebab kesabaran dalam komunikasi terbuka jauh lebih membawa kebaikan dibanding kesunyian yang membekukan hubungan.

Kisah keluarga Nabi Ya'qub as memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana kesunyian dan ketidakterbukaan dalam keluarga dapat menimbulkan luka yang begitu dalam dan berkepanjangan. Kecemburuan saudara-saudara Yusuf as yang terpendam tanpa pernah diungkapkan secara jujur kepada ayah mereka akhirnya melahirkan tindakan ekstrem, membuang Yusuf ke dalam sumur.

Nabi Ya'qub as sendiri, meski menahan kesedihan mendalam kehilangan putra kesayangannya, tidak membiarkan hatinya dipenuhi kemarahan yang membisu, melainkan tetap berkata jujur tentang kesedihannya sembari berserah kepada Allah, "Hanya kesabaran yang baik (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18).

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya keterbukaan dalam keluarga, sebab kecemburuan dan kekecewaan yang dipendam dalam diam justru dapat berkembang menjadi luka yang jauh lebih besar dan menyakitkan bagi seluruh anggota keluarga.

Penjelasan di atas berkesesuain dengan yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, "Anak-anak belajar bahasa cinta bukan dari kata-kata yang diajarkan kepada mereka, melainkan dari suasana rumah yang mereka rasakan setiap hari.

Jika rumah dipenuhi kesunyian yang menghukum, mereka akan tumbuh dengan ketakutan untuk jujur, bukan keberanian untuk terbuka." (gagasan dari Tuhfatul Maudud). Kata hikmah ini menjadi peringatan penting bagi setiap orang tua bahwa pola silent treatment yang diterapkan kepada anak, sekecil apa pun bentuknya, dapat membentuk pola komunikasi yang tidak sehat bagi anak tersebut kelak, baik dalam hubungannya dengan orang tua maupun dalam relasinya dengan orang lain di masa depan.

Di tengah kesibukan hidup modern, silent treatment dalam keluarga sering kali muncul tanpa disadari, orang tua yang lelah bekerja memilih diam alih-alih menjelaskan kekesalannya, pasangan yang menghindari konflik dengan cara menjauh secara emosional, atau anak remaja yang mengunci diri di kamar berhari-hari tanpa penjelasan.

Rasulullah saw mengingatkan, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini merupakan sebuah pengingat bahwa menjaga komunikasi yang sehat di rumah adalah bagian dari amanah kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Perlu diwaspadai agar kebiasaan mendiamkan di dalam keluarga tidak diwariskan turun-temurun sebagai pola komunikasi yang dianggap normal, sebab anak-anak yang tumbuh dalam rumah yang penuh kesunyian menghukum cenderung mengulangi pola yang sama ketika mereka membangun keluarganya sendiri kelak.

Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan: 74).

Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga yang menjadi penyenang hati adalah keluarga yang dibangun dengan keterbukaan dan kasih sayang, bukan dengan kesunyian yang menyimpan kegaduhan batin.

Jadilah seperti rumah dengan jendela yang selalu terbuka, membiarkan udara segar dan cahaya matahari masuk menerangi setiap sudutnya, bukan seperti ruangan tertutup rapat yang membuat udara di dalamnya semakin pengap dan menyesakkan.

Jadilah pula seperti pelukan yang terbuka lebar menyambut siapa pun yang pulang, meski hati sedang kecewa, sebab pelukan yang tulus mampu meluluhkan kesalahpahaman yang bertahun-tahun terpendam dalam diam. Ingatlah bahwa setiap kesunyian yang kita ciptakan di dalam rumah akan menjadi tembok yang membuat mereka yang kita cintai justru merasa paling jauh dan sendirian.

Ya Allah, jadikanlah rumah kami sebagai tempat yang dipenuhi keterbukaan dan kasih sayang, jauhkanlah kami dari kebiasaan mendiamkan yang menyakiti hati keluarga kami.

Ajarkanlah kami untuk berani berkata jujur ketika kecewa, dan bukakanlah pintu komunikasi yang hangat di antara kami sebagaimana Engkau ridhai bagi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda