Ponticity post author Kiwi 21 September 2026

Dari Rumah Pelangi, Dua Bruder Menggerakkan Kepedulian untuk Warga Pontianak di Tengah Bencana Karhutla dan Kekeringan

Photo of Dari Rumah Pelangi, Dua Bruder Menggerakkan Kepedulian untuk Warga Pontianak di Tengah Bencana Karhutla dan Kekeringan

PONTIANAK, SP - Di saat kemarau mulai terasa panjang dan sebagian masyarakat harus memikirkan kembali dari mana air bersih untuk kebutuhan sehari-hari diperoleh, ada orang-orang yang memilih untuk tidak sekadar menyaksikan keadaan.

Mereka bergerak dari tempat ke tempat, menghubungkan sumber air dengan masyarakat yang membutuhkan, mengandalkan kendaraan, tenaga relawan dan semangat gotong royong agar air yang tersedia di satu tempat dapat dinikmati oleh warga di tempat lain.

Di tengah situasi seperti itu, nama Bruder Williem Banenok OFMCap dan Bruder Stephanus Paiman OFMCap menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang berupaya menjaga agar kebutuhan dasar masyarakat tetap mendapatkan perhatian.

Bruder Williem Banenok OFMCap, Ketua JPIC Kapusin Kalimantan Barat, bersama Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) yang akrab disapa Si Plontos, bergerak dalam penyaluran air bersih dari Kawasan Konservasi Alam Rumah Pelangi kepada masyarakat Pontianak dan sekitarnya.

Rumah Pelangi sendiri terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Dari kawasan tersebut, air kemudian menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang manfaatnya dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Pontianak dan sekitarnya.

Dari Gunung Benuah, Air Mengalir ke Pontianak

Dari kawasan konservasi Rumah Pelangi, sumber air kemudian diambil dan diangkut untuk disalurkan melalui jejaring relawan kepada warga maupun kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Perjalanan air itu tentu tidak berlangsung begitu saja. Ada orang-orang yang harus menyiapkan kendaraan, mengambil air, mengangkutnya, kemudian memastikan bantuan sampai ke tempat tujuan.

Di situlah peran para penggerak seperti Bruder Williem dan Bruder Stephanus menjadi penting, karena mereka menjadi bagian dari mata rantai yang menghubungkan sumber daya dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi masyarakat yang menerima, bantuan tersebut tentu bukan sekadar persoalan air yang datang dalam sebuah kendaraan pengangkut.

Pada musim kemarau, air menjadi bagian penting dari kehidupan yang tidak dapat ditunda. Air dibutuhkan untuk minum, memasak, membersihkan diri, mencuci dan berbagai keperluan lain yang setiap hari harus tetap berjalan, sementara kemampuan sebagian masyarakat untuk memperoleh air bersih tidak selalu berada dalam kondisi yang sama.

Karena itu, ketika bantuan air datang, ada kebutuhan yang langsung terjawab, meskipun mungkin hanya untuk beberapa waktu.

Salah satu lokasi yang merasakan manfaat dari penyaluran tersebut adalah Graha Werdha Marie Joseph atau Panti Werdha Marie Joseph di Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, yang berada di sekitar akses Jalan 28 Oktober dan Jalan Budi Utomo.

Bagi penghuni panti, ketersediaan air bersih memiliki arti tersendiri karena kebutuhan sehari-hari harus tetap terpenuhi, terlebih bagi para penghuni lanjut usia yang membutuhkan perhatian dan pelayanan secara berkelanjutan. Kehadiran bantuan air menjadi bentuk kepedulian yang langsung menyentuh kebutuhan mereka.

Namun, penyaluran bantuan tersebut tidak berhenti di satu lokasi.

Bantuan air bersih dari Rumah Pelangi juga telah menyasar sejumlah wilayah lain di Pontianak dan sekitarnya. Di antaranya warga Sungai Rengas, warga Purnama, warga Selat Panjang Siantan, serta warga Seruni.

Jangkauan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan air bersih di tengah kondisi kemarau tidak hanya dirasakan oleh satu kelompok masyarakat. Bantuan kemudian bergerak dari satu tempat ke tempat lain mengikuti kebutuhan warga yang membutuhkan.

Di setiap lokasi, air yang diambil dari kawasan Rumah Pelangi diangkut menggunakan kendaraan dan kemudian disalurkan kepada masyarakat. Proses tersebut melibatkan tenaga relawan dan berbagai pihak yang bekerja bersama agar air dapat sampai kepada penerima manfaat.

Dari Sungai Rengas, Purnama, Selat Panjang Siantan hingga Seruni, bantuan tersebut menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang berupaya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Ketika Kepedulian Tidak Cukup Hanya Dibicarakan

Bruder Williem mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya JPIC untuk tetap hadir bersama masyarakat dan mengambil bagian dalam persoalan kemanusiaan yang muncul di sekitarnya.

Sebelumnya, JPIC juga terlibat dalam pelayanan kemanusiaan di luar Kalimantan Barat, termasuk pelayanan pascagempa di Nusa Tenggara Timur. Setelah kembali, perhatian diarahkan kepada persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah sendiri.

“Kami JPIC baru pulang melayani pascagempa di NTT. Sekarang kami mencoba berbuat untuk warga Kalbar, khususnya Kota Pontianak,” ujar Bruder Williem.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kerja kemanusiaan bagi Bruder Williem tidak berhenti pada satu tempat atau satu bentuk kegiatan.

Ketika kebutuhan muncul, bentuk pelayanan dapat menyesuaikan keadaan. Jika sebelumnya masyarakat di daerah lain membutuhkan pertolongan akibat bencana, maka di Kalimantan Barat kebutuhan yang terlihat adalah persoalan air bersih yang mulai dirasakan masyarakat akibat kondisi kemarau.
Dari situlah kemudian gerakan sederhana dibangun, dengan mencari sumber air yang dapat dimanfaatkan dan menghubungkannya dengan masyarakat yang membutuhkan.

Si Plontos dan Jejaring Relawan yang Terus Bergerak
Dalam proses tersebut, Bruder Stephanus Paiman menjadi salah satu sosok yang ikut menggerakkan jejaring relawan di lapangan.

Ketua FRKP yang dikenal dengan sapaan Si Plontos itu selama ini berada dalam berbagai aktivitas sosial dan kemanusiaan, sehingga persoalan yang menyangkut kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada pembicaraan.

Bersama relawan, ia ikut memastikan air yang tersedia di Rumah Pelangi dapat diambil, diangkut dan kemudian didistribusikan kepada penerima manfaat di sejumlah wilayah.

“Saya sebagai anggota JPIC hanya berupaya berbuat yang terbaik sesuai rencana,” kata Bruder Stephanus.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah karakter gerakan kemanusiaan yang mereka lakukan.

Tidak semua persoalan harus dijawab dengan sesuatu yang besar. Ada kalanya sebuah kebutuhan masyarakat dapat dibantu melalui langkah yang sangat sederhana, selama ada orang yang bersedia mengambil tanggung jawab untuk menggerakkannya.

Air tersedia di satu tempat, masyarakat membutuhkan di tempat lain, dan dibutuhkan orang-orang yang bersedia menjadi penghubung agar sumber daya tersebut tidak berhenti di tempat asalnya.
Dari Rumah Pelangi, air kemudian bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat.

Prosesnya melibatkan banyak tangan, mulai dari mereka yang menyediakan sumber air, para relawan yang membantu proses pengambilan dan pengangkutan, hingga orang-orang yang memastikan bantuan tiba di tempat tujuan.
Tidak semua nama tercatat, tidak semua pekerjaan terlihat, tetapi seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian penting dari sebuah gerakan yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bantuan Menjangkau Sejumlah Wilayah

Penyaluran air bersih tersebut kemudian berkembang menjadi bantuan yang menjangkau sejumlah kelompok masyarakat di wilayah berbeda.

Warga Sungai Rengas menjadi salah satu penerima manfaat. Demikian pula warga Purnama, warga Selat Panjang Siantan dan warga Seruni.

Setiap wilayah memiliki kebutuhan dan kondisi masyarakat yang berbeda. Namun, persoalan yang dihadapi memiliki satu kesamaan, yakni kebutuhan terhadap air bersih di tengah kondisi kemarau.

Bagi warga yang menerima, kedatangan air menjadi bantuan yang berarti karena kebutuhan dasar tersebut harus tetap dipenuhi. Air dapat digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Di sisi lain, proses distribusi juga menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya. Dibutuhkan koordinasi, kendaraan, tenaga dan orang-orang yang bersedia turun langsung ke lapangan.

Relawan menjadi bagian penting dalam rangkaian tersebut. Mereka membantu mengambil air, mengangkutnya dan mendistribusikannya ke lokasi yang telah ditentukan.

Dengan demikian, satu sumber air di kawasan Rumah Pelangi dapat memberikan manfaat kepada masyarakat di beberapa wilayah.

Dari Gunung Benuah, air bergerak menuju berbagai tempat di Pontianak dan sekitarnya. Perjalanan tersebut menjadi gambaran sederhana bagaimana sebuah sumber daya dapat dimanfaatkan bersama ketika ada jejaring kepedulian yang menghubungkannya dengan masyarakat yang membutuhkan.

Lebih dari Sekadar Mengantarkan Air

Di sinilah aktivitas Bruder Williem dan Bruder Stephanus memiliki makna yang lebih luas.

Keduanya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jejaring kepedulian yang mempertemukan sumber daya dengan kebutuhan.

JPIC Kapusin Kalbar membawa semangat pelayanan kemanusiaan, sementara FRKP memiliki jaringan relawan yang memungkinkan gerakan di lapangan dilakukan secara lebih cepat dan langsung.

Ketika keduanya bertemu dengan sumber air di Rumah Pelangi dan kebutuhan masyarakat Pontianak, lahirlah sebuah aktivitas yang sederhana tetapi nyata.

Bagi Bruder Williem, persoalan kemanusiaan tidak selalu harus menunggu sampai menjadi berita besar.

Ada kebutuhan yang sebenarnya sudah berada di depan mata, tetapi sering kali baru terasa ketika seseorang bersedia turun dan melihat langsung keadaan masyarakat.
Air bersih adalah salah satu contohnya.

Ketika musim kemarau berlangsung, masyarakat yang biasanya dapat memperoleh air dengan mudah bisa saja menghadapi kesulitan. Pada kondisi seperti itu, kehadiran bantuan menjadi penting karena menyangkut kebutuhan dasar yang tidak mungkin ditunda.

Sementara bagi Bruder Stephanus, kerja kemanusiaan juga berkaitan dengan kesediaan untuk terus menjaga hubungan dengan masyarakat dan relawan.

FRKP tidak hanya hadir ketika terjadi bencana besar, tetapi juga berusaha merespons berbagai kebutuhan sosial yang muncul di tengah masyarakat.

Karena itu, ketika ada sumber air yang dapat dimanfaatkan dan ada warga yang membutuhkan, gerakan tersebut kemudian diupayakan bersama.

Air Mengalir, Kepedulian Pun Menyebar

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan air tersebut.

Ia bermula dari sebuah sumber di kawasan konservasi Rumah Pelangi di Gunung Benuah, Kubu Raya, kemudian berpindah melalui kendaraan, melewati jalan, diterima oleh tangan relawan dan akhirnya sampai kepada masyarakat di Pontianak dan sekitarnya.

Perjalanan itu barangkali terlihat biasa jika hanya dilihat dari hasil akhirnya. Tetapi di balik satu kali pengiriman air terdapat koordinasi, tenaga, waktu dan kemauan untuk membantu.

Semua itu menjadi bagian dari kerja kemanusiaan yang sering kali tidak banyak dibicarakan.

Air yang mengalir dari Rumah Pelangi pada akhirnya bukan hanya membawa manfaat bagi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ia juga membawa pesan tentang bagaimana kepedulian dapat bekerja ketika ada orang-orang yang mau menggerakkannya.

Bruder Williem dan Bruder Stephanus menjadi dua sosok yang berada di tengah gerakan tersebut, menghubungkan sumber air, relawan dan masyarakat penerima dalam satu rangkaian pelayanan.
Dari Panti Werdha Marie Joseph di Siantan Hulu, warga Sungai Rengas, Purnama, Selat Panjang Siantan hingga Seruni, bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk membantu masyarakat melewati kondisi kemarau.

Di tengah kehidupan kota yang terus bergerak, persoalan seperti kekurangan air bersih terkadang mudah luput dari perhatian.

Orang-orang masih pergi bekerja, kendaraan masih memenuhi jalan, aktivitas ekonomi tetap berjalan, sementara di tempat lain ada warga yang harus memikirkan bagaimana mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga.
Pada kondisi seperti itu, bantuan yang datang mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi setidaknya memberikan ruang bernapas bagi mereka yang sedang membutuhkan.

Dan mungkin memang seperti itulah kerja kemanusiaan berjalan.

Tidak selalu tentang menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu waktu, tetapi tentang hadir ketika ada kebutuhan, melakukan apa yang bisa dilakukan dan mengajak lebih banyak orang untuk mengambil bagian.

Bruder Williem dan Bruder Stephanus memilih jalan tersebut melalui air bersih yang disalurkan dari Rumah Pelangi.

Dari sumber air di kawasan konservasi yang terletak di Dusun Gunung Benuah itu, air bergerak menuju Pontianak dan sekitarnya, membawa sedikit kelegaan bagi masyarakat yang tengah menghadapi kemarau.

Dan di balik aliran itu, ada dua sosok yang memilih untuk bergerak, Bruder Williem Banenok OFMCap dan Bruder Stephanus Paiman OFMCap, bersama para relawan yang percaya bahwa kemanusiaan selalu bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: melihat, peduli, lalu bergerak.(mul)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda