Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ia dikenal orang besar, melainkan dari seberapa peduli ia mengenal orang-orang kecil di sekitarnya." (Ibnu Athaillah As-Sakandari)
"Siapa nama petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan ruang kelas Anda?" Pertanyaan sederhana inilah yang diajukan seorang Rektor kepada tiga wisudawan di depan panggung wisuda dan jawabannya membongkar sebuah pelajaran penting yang Senin kemarin dibagikan Faisal Abdullah, S.Pd.I., M.S.I., melalui video TikTok ke grup Kabinet IAIN Pontianak 2026-2030. Kepada wisudawan pertama, Rektor bertanya seperti di atas.
Jawabnya singkat, "Tidak tahu." Kepada wisudawan kedua, ia bertanya, "Siapa nama satpam di Pascasarjana?" Jawabnya, "Saya kurang tahu namanya, tapi saya selalu mengingat wajahnya."
Kepada wisudawan ketiga, ia bertanya tentang makanan favoritnya, dijawab nasi goreng, lalu ditanya siapa nama penjual nasi goreng langganannya. Jawabnya pun sama, "Tidak tahu."
Sang Rektor kemudian menyimpulkan dengan tajam: ketiga wisudawan itu hafal betul nama kepala program studinya, namun tidak mengenal nama orang-orang yang justru berjasa nyata dalam keseharian mereka.
Ini bukan sekadar kelalaian kecil, melainkan cermin dari pola pikir yang sesungguhnya telah lama diingatkan oleh para nabi dan orang-orang shaleh bahwa kemuliaan sejati justru terlihat dari cara kita memperlakukan mereka yang dianggap "kecil" di mata dunia.
Rasulullah saw sendiri adalah teladan agung dalam mengenal dan menghargai setiap orang di sekitarnya, tanpa memandang status sosial mereka. Anas bin Malik ra, yang menjadi pembantu Rasulullah saw selama sepuluh tahun, bersaksi, "Aku melayani Rasulullah saw selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah sekali pun berkata kepadaku 'ah' (kata keluhan), dan tidak pernah bertanya mengapa aku melakukan sesuatu atau mengapa aku tidak melakukannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesaksian ini menunjukkan betapa Rasulullah saw memperlakukan seorang pembantu dengan penuh penghormatan dan kepedulian, jauh dari sikap mengabaikan atau menganggap remeh keberadaan mereka yang melayani kebutuhan sehari-harinya.
Allah Swt berfirman, "Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat." (QS. An-Nisa: 36).
Ayat ini bagaikan peta yang begitu luas, merangkul siapa saja di sekitar kehidupan kita termasuk mereka yang setiap hari hadir dalam rutinitas kita namun jarang mendapat perhatian, sebagaimana petugas kebersihan, penjaga keamanan, atau pedagang kecil yang justru menopang kenyamanan hidup kita tanpa pernah kita sadari sepenuhnya.
Kisah Khalifah Umar bin Khattab ra memberikan teladan berharga tentang kepekaan terhadap orang-orang yang sering terlupakan. Ia dikenal senantiasa berkeliling malam hari untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang menderita tanpa sepengetahuannya, bahkan mengenal langsung kondisi para pedagang kecil di pasar Madinah.
Suatu ketika ia menegur seorang pedagang susu yang mencampur air ke dalam dagangannya, menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya mengenal para pembesar di sekitarnya, melainkan juga peduli dan mengenal betul kehidupan rakyat kecil yang jarang dilirik oleh kebanyakan orang.
Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Imam Al-Ghazali, "Barangsiapa yang memuliakan orang-orang kecil di sekitarnya, Allah akan memuliakannya di hadapan-Nya.
Namun barangsiapa yang hanya sibuk menghormati orang besar demi kepentingan dirinya, ia telah kehilangan esensi penghormatan itu sendiri." (gagasan dari Ihya' Ulumuddin). Kata hikmah ini menegaskan bahwa mengenal dan menghargai mereka yang melayani kita bukan sekadar basa-basi sosial, melainkan cerminan kedalaman akhlak seseorang di hadapan Allah.
Di era kehidupan urban dan kampus modern saat ini, jarak sosial semacam ini semakin nyata, mahasiswa hafal nama-nama dosen dan pejabat kampus, namun jarang menyapa apalagi mengenal nama petugas kebersihan atau satpam yang setiap hari menjaga kenyamanan mereka belajar.
Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia, maka ia tidak akan disayangi oleh Allah." (HR. At-Tirmidzi). Hadis ini merupakan sebuah pengingat bahwa kepedulian kita terhadap sesama, tanpa memandang status sosialnya, adalah cerminan langsung dari kasih sayang Allah yang kita harapkan bagi diri kita sendiri.
Perlu diwaspadai agar ketidakpedulian semacam ini tidak berkembang menjadi sikap sombong yang membedakan penghormatan berdasarkan status sosial, sebab hal ini bertentangan dengan prinsip kesetaraan manusia di hadapan Allah.
Sebagai solusi, Allah Swt berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh ketakwaan, yang salah satu wujudnya adalah kepedulian terhadap sesama tanpa memandang kedudukannya.
Jadilah seperti akar yang bekerja diam-diam di dalam tanah, tidak pernah dikenal namanya oleh dedaunan yang rindang di atasnya, namun tetap layak dihargai sebagai penopang kehidupan seluruh pohon.
Jadilah pula seperti cahaya matahari yang menyinari setiap sudut bumi dengan adil, tidak hanya menyinari gedung-gedung megah, melainkan juga gang-gang kecil tempat para pedagang sederhana mencari nafkah.
Ingatlah bahwa setiap kepedulian yang kita berikan kepada sesama, sekecil apa pun kedudukan sosial mereka, akan ditimbang di hadapan Allah, apakah kita mengenal manusia berdasarkan kedudukannya, ataukah berdasarkan kemanusiaannya yang setara.
Ya Allah, bukakanlah mata hati kami untuk mengenal dan menghargai setiap orang yang berjasa dalam keseharian kami, jauhkanlah kami dari sikap memandang manusia hanya berdasarkan kedudukan sosialnya, dan jadikanlah kami hamba yang mampu memuliakan sesama sebagaimana Engkau memuliakan setiap ciptaan-Mu. Amin. (*)