Opini post author Kiwi 23 September 2026

Jerat Prasangka Tak Berujung di Era Digital

Photo of Jerat Prasangka Tak Berujung di Era Digital

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com


"Barangsiapa yang menghabiskan hidupnya untuk meluruskan pandangan manusia, ia akan mati dalam keadaan lelah, sebab pandangan manusia tidak pernah benar-benar selesai diluruskan." (Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam, abad ke-13 M)

Setiap kali seseorang difitnah atau disalahpahami di ruang digital, dorongan pertama yang muncul hampir selalu sama, segera membuat unggahan klarifikasi, menuliskan thread panjang berisi bukti dan penjelasan, atau membalas satu per satu komentar yang menuduh.

Namun anehnya, semakin gigih seseorang membela diri, semakin banyak pula prasangka baru yang lahir, ada yang menganggap klarifikasi itu sebagai pengakuan tersembunyi, ada yang justru menemukan celah baru untuk dipertanyakan, dan ada pula yang tetap tidak percaya apa pun yang dijelaskan. Setelah satu tuduhan dibantah, akan muncul prasangka lain; setelah satu penjelasan diberikan, akan muncul penilaian baru.

Jika hidup terus dihabiskan untuk mengejar pembenaran semacam ini, hati tidak akan pernah benar-benar beristirahat. Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru dalam pergulatan batin manusia, para sufi dan orang-orang shaleh telah lama memahami bahwa penilaian manusia tidak pernah benar-benar tuntas, jauh sebelum dunia mengenal kolom komentar dan thread klarifikasi.

Rasulullah saw sendiri berulang kali difitnah dengan tuduhan yang berubah-ubah dan saling bertentangan, namun beliau tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk membantah setiap tuduhan satu per satu.

Beliau lebih memilih untuk tetap fokus pada dakwahnya, menyerahkan penilaian akhir kepada Allah. Beliau bersabda,

"Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah dengan cara membuat manusia murka, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya.

Namun barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya." (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa mengejar penerimaan manusia melalui pembelaan diri yang terus-menerus justru bisa menjauhkan hati dari ketenangan yang sesungguhnya bersumber dari keridhaan Allah.

Allah Swt berfirman, "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian." (QS. Al-Ankabut: 52).

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika penjelasan sudah disampaikan namun tetap tidak dipercaya, cukuplah Allah sebagai saksi kebenaran, tanpa perlu terus-menerus terseret dalam lingkaran bantahan yang melahirkan prasangka baru.

Kisah Sayyidah Aisyah ra dalam peristiwa haditsul ifki memberikan pelajaran mendalam tentang jerat ini. Selama sebulan penuh, fitnah tentang kehormatannya tersebar luas, dan sekeras apa pun ia maupun keluarganya berusaha menjelaskan kebenaran, prasangka buruk tetap saja bermunculan dari berbagai arah. Ia sendiri berkata, "Demi Allah, aku tidak mendapati perumpamaan diriku dan kalian kecuali seperti perkataan ayah Nabi Yusuf, 'Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).'" (merujuk QS. Yusuf: 18).

Kesabarannya yang tulus dalam menghadapi jerat prasangka yang tak berujung inilah yang akhirnya dibalas Allah dengan menurunkan wahyu yang membersihkan namanya secara langsung, membuktikan bahwa penyelesaian sejati tidak selalu datang dari usaha membantah manusia, melainkan dari kesabaran yang disertai penyerahan diri kepada Allah.

Sebagai penguat, terdapat kata hikmah dari Imam Asy-Syafi'i, "Jika seluruh manusia berkumpul untuk memujiku, aku tidak akan bertambah bahagia melebihi apa yang telah Allah tetapkan.

Dan jika seluruh manusia berkumpul untuk mencelaku, aku tidak akan bertambah sedih melebihi apa yang telah Allah tetapkan."

Kata hikmah ini menjadi pengingat penting bahwa energi yang dihabiskan mengejar validasi atau membantah setiap prasangka sesungguhnya tidak sebanding dengan hasil yang didapat, sebab penilaian manusia memang dirancang untuk tidak pernah benar-benar final.

Di era digital saat ini, jerat ini semakin nyata dengan hadirnya algoritma yang justru memperbesar kontroversi, semakin seseorang membalas komentar, semakin ramai perdebatan itu muncul di beranda orang lain, menciptakan lingkaran setan di mana upaya meluruskan justru memperbesar jangkauan fitnah itu sendiri.

Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa yang tidak mampu menahan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat, maka Allah akan mempersulit urusannya." (HR. Abu Dawud dengan makna serupa).

Hadis ini merupakan sebuah peringatan yang begitu relevan bagi siapa saja yang terjebak dalam siklus tanpa akhir membalas setiap komentar dan tuduhan di ruang digital.

Perlu diwaspadai agar keinginan untuk terus meluruskan setiap prasangka ini tidak berkembang menjadi kesombongan tersembunyi yang ingin selalu dianggap benar oleh semua orang, sebab hati yang dikuasai kebutuhan semacam ini tidak akan pernah menemukan kedamaian sejati.

Allah Swt berfirman, "Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (QS. Al-Muzzammil: 10).

Ayat ini mengajarkan bahwa ada saatnya kesabaran dan menjaga jarak dengan bijak jauh lebih menyelamatkan hati dibanding terus terseret dalam pertarungan opini yang tak berkesudahan.

Jadilah seperti sungai yang terus mengalir tenang menuju muaranya, tidak berhenti untuk berdebat dengan setiap batu yang menghalangi jalannya, sebab air yang tenang justru menemukan celah untuk terus bergerak maju tanpa kehilangan arah.
Jadilah pula seperti bulan yang tetap bersinar meski anjing-anjing menyalak di kejauhan, sebab cahayanya tidak pernah ditentukan oleh suara yang berusaha mengganggunya.
Ingatlah bahwa setiap energi yang kita habiskan untuk membantah prasangka manusia akan menjerumuskan kita pada kelelahan batin yang tak pernah benar-benar berujung.

Ya Allah, jagalah hati kami agar tidak terjerat dalam lingkaran membela diri yang tak berkesudahan, cukupkanlah kami dengan pengetahuan-Mu atas kebenaran yang kami perjuangkan, dan anugerahkanlah kesabaran sebagaimana yang Engkau berikan kepada Rasul-Mu dan Sayyidah Aisyah ra dalam menghadapi fitnah yang tak berujung. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda