LANDAK, SP - Anggota MPR RI dari unsur DPD RI, Maria Goreti, mengajak umat Katolik di Stasi Mansio, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, untuk semakin menghayati iman sekaligus memperkuat kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan tersebut disampaikan Maria Goreti dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang digelar di gedung Gereja Katolik Stasi Mansio, Menjalin. Kegiatan berlangsung dalam suasana akrab dan komunikatif serta diikuti umat Katolik setempat dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu hingga bapak-bapak.
Di hadapan umat, Maria menegaskan bahwa menjadi umat Katolik di Indonesia tidak berarti harus memilih antara kesetiaan kepada iman dan kesetiaan kepada negara. Keduanya, kata dia, justru harus berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Maria mengutip pesan tokoh Katolik Indonesia, uskup pribumi pertama sekaligus Pahlawan Nasional, Mgr. Soegijapranata, yang terkenal dengan semboyan bahwa umat Katolik Indonesia harus menjadi “seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia.”
Menurut Maria, pesan tersebut tetap relevan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia saat ini.
“Kekatolikan tidak dapat dipertentangkan dengan keindonesiaan. Iman dan nasionalisme bukan dua hal yang harus dibenturkan, melainkan dua hal yang berjalan beriringan,” ujar Maria dalam kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, seorang Katolik yang hidup dan bertumbuh di Indonesia memiliki dua dimensi tanggung jawab yang tidak perlu dipertentangkan. Di satu sisi, umat memiliki kewajiban untuk menghidupi iman dan menjalankan ajaran Kristus. Di sisi lain, sebagai warga negara, umat juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama, menaati aturan, mencintai tanah air, serta ikut membangun bangsa.
Maria kemudian mengingatkan umat pada ajaran Yesus mengenai kewajiban manusia terhadap Tuhan dan negara.
“Apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar berikanlah kepada Kaisar, dan apa yang wajib kamu berikan kepada Allah berikanlah kepada Allah,” katanya, mengutip ajaran Yesus dalam Kitab Suci.
Menurut Maria, pesan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan iman tidak menghapus tanggung jawab seseorang sebagai warga negara. Sebaliknya, iman yang dihayati secara utuh seharusnya mendorong seseorang untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan kebangsaannya dengan baik.
“Jadi, untuk beriman Kristiani yang penuh, kewajiban kepada Tuhan maupun kepada negara wajib dijalankan keduanya,” tegasnya.
Iman Harus Diwujudkan dalam Perbuatan
Dalam sosialisasi 4 Pilar MPR tersebut, Maria juga mengajak umat untuk tidak berhenti pada pengakuan iman maupun kecintaan kepada tanah air yang hanya bersifat verbal.
Ia menekankan bahwa iman Kristiani bukanlah iman yang kosong. Iman harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Maria mengutip pesan Kitab Suci bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah kosong. Karena itu, menurutnya, menjadi pengikut Kristus bukan hanya soal mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi juga menghidupi ajaran-Nya melalui sikap dan tindakan.
“Ini adalah tantangan kita sebagai pengikut Kristus sekaligus sebagai orang Indonesia,” katanya.
Menurut Maria, tantangan yang sama juga berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seseorang tidak cukup hanya mengatakan mencintai Indonesia, menerima Pancasila sebagai falsafah hidup dan dasar negara, tetapi pada saat yang sama tidak mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Mengimani Kristus tetapi tidak mengamalkan ajaran-ajaran-Nya dalam perbuatan dan tindakan nyata pada hakikatnya kosong. Begitu juga mengaku mencintai tanah air, menerima Pancasila sebagai falsafah hidup dan dasar bernegara tetapi tidak mengamalkan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari, sama saja kosong,” jelas Maria.
Ia melihat persoalan tersebut sebagai salah satu tantangan dalam kehidupan beragama sekaligus kehidupan bernegara saat ini. Menurutnya, masih terdapat jarak antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.
“Problem hidup beragama maupun hidup bernegara kita hari ini adalah iman yang tanpa perbuatan, pengakuan tanpa tindakan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Maria, membuat kehidupan bermasyarakat dan bernegara belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama.
Ia mengatakan, nilai-nilai kasih, keadilan, persaudaraan, penghormatan terhadap sesama manusia, kepedulian terhadap kelompok yang lemah, serta kesediaan hidup berdampingan merupakan bagian penting dari penghayatan iman Kristiani sekaligus memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai Pancasila.
Mengamalkan Kasih Sekaligus Mengamalkan Pancasila
Maria kemudian mengajak umat Stasi Mansio melihat Pancasila tidak hanya sebagai materi yang harus dihafalkan, tetapi sebagai nilai yang harus dihidupkan.
Menurutnya, pengamalan iman Kristiani dalam kehidupan sehari-hari memiliki titik temu yang kuat dengan pengamalan Pancasila.
“Dengan mengamalkan iman Kristiani sepenuhnya, yaitu hidup dengan saling mengasihi, otomatis telah mengamalkan juga Pancasila,” kata Maria.
Ia menilai, kasih terhadap sesama tidak boleh berhenti pada lingkungan keluarga atau kelompok sendiri. Kasih harus diwujudkan dalam kehidupan sosial yang lebih luas, termasuk dengan menghormati orang yang berbeda agama, suku, budaya, maupun latar belakang sosial.
Dalam konteks Indonesia yang sangat majemuk, Maria mengajak umat Katolik untuk menjadi bagian dari kekuatan yang menjaga persatuan dan kerukunan.
Menurutnya, semangat persaudaraan dan gotong royong merupakan bagian penting dalam menjaga keutuhan bangsa. Umat Katolik juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar melalui tindakan nyata.
Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari substansi Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang menempatkan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bagi Maria, pengenalan terhadap empat pilar tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian materi secara formal. Nilai-nilai kebangsaan harus dibawa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk kehidupan umat beragama.
Nasionalisme Lewat Lagu
Untuk membangun suasana yang lebih akrab, Maria Goreti tidak hanya menyampaikan materi sosialisasi secara satu arah. Ia mengajak umat untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan.
Salah satunya dilakukan dengan menyanyikan sejumlah lagu nasional bersama-sama. Selain mencairkan suasana, kegiatan menyanyikan lagu nasional tersebut dimaksudkan untuk menanamkan dan memperkuat semangat nasionalisme, khususnya kepada generasi muda yang hadir dalam kegiatan.
Maria juga mengajak umat menyanyikan sejumlah lagu dari buku Madah Bakti yang memiliki tema nasionalisme dan Pancasila. Suasana pun menjadi semakin cair. Anak-anak, remaja, orang tua, ibu-ibu dan bapak-bapak ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Cara tersebut membuat sosialisasi berlangsung tidak kaku. Pesan tentang kebangsaan disampaikan melalui percakapan, refleksi iman, lagu dan interaksi langsung dengan umat.
Antusiasme umat terlihat sepanjang kegiatan. Peserta tidak hanya mengikuti rangkaian acara, tetapi juga memberikan respons terhadap pesan-pesan yang disampaikan Maria.
Bagi Maria, pendekatan seperti ini penting agar nilai-nilai kebangsaan tidak terasa sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak. Pancasila dan kecintaan terhadap Indonesia harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat, termasuk dalam kehidupan menggereja dan kehidupan keluarga.
Melalui kegiatan tersebut, Maria berharap umat Katolik Stasi Mansio semakin memahami bahwa iman dan kebangsaan bukan dua pilihan yang saling berlawanan.
Menjadi Katolik, kata dia, berarti tetap menjadi bagian utuh dari Indonesia. Sebaliknya, menjadi warga negara Indonesia yang baik juga tidak mengharuskan seseorang meninggalkan keyakinan dan identitas keagamaannya.
Pesan tersebut pada akhirnya kembali kepada gagasan Soegijapranata tentang “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.”
Bagi umat Katolik, kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada tanah air dapat diwujudkan secara bersamaan melalui kehidupan yang nyata: mengasihi sesama, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, menjalankan kewajiban sebagai warga negara, serta menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam tindakan sehari-hari.
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Stasi Mansio pun tidak sekadar menjadi ruang penyampaian materi kebangsaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara iman, kehidupan sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Dengan suasana yang akrab dan komunikatif, umat Katolik setempat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Dari gedung gereja tersebut, pesan kebangsaan disampaikan dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan umat, bahwa iman tidak boleh berhenti pada kata-kata, dan kecintaan kepada Indonesia tidak cukup hanya diucapkan. Keduanya harus diwujudkan dalam perbuatan nyata. (*)