Opini post author Kiwi 28 September 2026

Perlukah Budaya Melayu Masuk Sekolah?

Photo of Perlukah Budaya Melayu Masuk Sekolah?

Oleh: Syamsul Kurniawan / Anggota Departemen Pendidikan dan Pelatihan, Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat

“Budaya Melayu tidak harus tinggal di ruang museum atau panggung festival; ia dapat hidup kembali melalui ruang kelas.”

ADA sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan besar tentang masa depan sebuah masyarakat: perlukah budaya Melayu masuk sekolah?

Pertanyaan ini bukan hanya berbicara tentang perlu atau tidaknya sebuah tradisi diajarkan dalam ruang kelas, melainkan tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Sebab pendidikan pada dasarnya bukan hanya tempat mempersiapkan manusia untuk masa depan, tetapi juga tempat sebuah masyarakat mengingat siapa dirinya.

Sekolah sering kali dipahami sebagai ruang yang menghasilkan kecakapan akademik. Anak-anak belajar matematika, ilmu pengetahuan, bahasa, dan berbagai keterampilan yang dianggap penting untuk menghadapi dunia modern.

Namun, di balik semua itu, sekolah juga memiliki fungsi sosial yang lebih dalam: menjadi tempat nilai, norma, dan identitas diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam perspektif teori sosial Talcott Parsons (1991), pendidikan merupakan bagian dari sistem sosial yang memiliki fungsi menjaga keberlangsungan masyarakat.

Sekolah tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan keluarga, masyarakat, kebudayaan, dan berbagai institusi sosial lainnya. Melalui pendidikan, masyarakat berusaha memastikan bahwa nilai-nilai yang dianggap penting tidak hilang ditelan perubahan.

Karena itu, pembicaraan mengenai muatan lokal budaya Melayu di sekolah-sekolah Kalimantan Barat tidak semata-mata berkaitan dengan pelajaran tambahan dalam kurikulum. Ia adalah pembicaraan mengenai keberlanjutan ingatan sosial. Sebab masyarakat yang kehilangan hubungan dengan akar budayanya akan mengalami kesulitan memahami dirinya sendiri.

Kalimantan Barat memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Di antara berbagai identitas yang tumbuh dan berkembang, budaya Melayu memiliki jejak yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia hadir dalam bahasa, kesenian, adat istiadat, arsitektur, kuliner, hingga cara masyarakat membangun hubungan sosial.

Namun, budaya tidak pernah hidup dalam ruang yang beku. Tradisi selalu berhadapan dengan perubahan. Teknologi, globalisasi, dan arus informasi telah mengubah cara generasi muda melihat dunia. Apa yang dahulu diwariskan melalui keluarga dan komunitas kini harus berhadapan dengan berbagai budaya baru yang hadir melalui layar digital.

Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Muatan lokal tidak seharusnya dipahami sebagai upaya mengembalikan masyarakat ke masa lalu, melainkan sebagai cara agar masa lalu tetap memiliki percakapan dengan masa kini. Budaya tidak perlu dijadikan benteng yang menolak perubahan, tetapi menjadi kompas yang membantu generasi muda berjalan dalam perubahan.

Menimbang Muatan Lokal Budaya Melayu

Menimbang muatan lokal budaya Melayu berarti melihat kembali apa yang sebenarnya hendak diwariskan kepada siswa. Apakah yang diwariskan hanya bentuk luar budaya seperti pakaian, tarian, atau upacara adat? Ataukah nilai-nilai sosial yang berada di balik semua itu? Pertanyaan inilah yang perlu menjadi dasar ketika budaya Melayu dipertimbangkan sebagai bagian dari pendidikan.

Salah satu tradisi yang menarik untuk direnungkan adalah Saprahan. Bagi sebagian orang, Saprahan mungkin hanya dipandang sebagai cara penyajian makanan dalam acara tertentu.

Tetapi jika dilihat melalui perspektif sosial, Saprahan menyimpan gagasan tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya. Duduk bersama dalam satu ruang, menikmati hidangan yang sama, dan berada dalam posisi yang sejajar mengandung pesan tentang kebersamaan.

Prinsip "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi" menunjukkan bahwa tradisi tersebut membawa nilai kesetaraan dan penghormatan sosial. Di tengah kehidupan modern yang sering menilai manusia berdasarkan status ekonomi, jabatan, dan kepemilikan, nilai Saprahan menjadi semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa hubungan sosial tidak hanya dibangun oleh perbedaan posisi, tetapi juga oleh rasa kebersamaan.

Begitu pula dengan tradisi Tepung Tawar. Ritual ini tidak hanya dapat dilihat sebagai simbol adat, tetapi sebagai ekspresi tentang pentingnya doa, penghormatan, dan restu sosial. Dalam masyarakat Melayu, keberhasilan seseorang tidak hanya dilihat sebagai hasil usaha pribadi, tetapi juga berkaitan dengan dukungan komunitas.

Jika nilai tersebut diajarkan melalui sekolah, siswa tidak hanya mengenal sebuah tradisi, tetapi memahami cara sebuah masyarakat membangun solidaritas. Pendidikan budaya dengan demikian bukan sekadar mengenalkan warisan, melainkan membentuk cara berpikir sosial.

Budaya Melayu juga berbicara melalui seni. Tari Jepin, misalnya, bukan hanya pertunjukan gerak dan musik. Ia adalah bahasa budaya yang menyimpan ekspresi kegembiraan, kreativitas, dan hubungan masyarakat dengan seni.

Demikian pula pantun dan Tundang. Tradisi berpantun menunjukkan bahwa masyarakat Melayu memiliki cara tersendiri dalam menggunakan bahasa. Kata-kata tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga kesopanan, kebijaksanaan, dan keindahan komunikasi. Dalam dunia digital yang sering membuat komunikasi menjadi singkat dan terburu-buru, tradisi bahasa seperti pantun dan Tundang memiliki nilai pendidikan yang penting. Ia mengajarkan bahwa berbicara bukan hanya persoalan menyampaikan informasi, tetapi juga mempertimbangkan etika.

Budaya Melayu Kalimantan Barat juga dapat dipahami melalui arsitektur tradisional. Rumah panggung dan rumah terapung bukan sekadar bangunan, melainkan hasil hubungan panjang antara manusia dan lingkungan alam.

Rumah panggung menunjukkan bagaimana masyarakat menyesuaikan kehidupan dengan kondisi geografis, terutama kawasan yang dekat dengan sungai. Sementara rumah terapung memperlihatkan kemampuan manusia beradaptasi terhadap perubahan alam, khususnya kehidupan yang dipengaruhi pasang surut air.

Dalam perspektif Parsons (1991), kemampuan beradaptasi merupakan salah satu fungsi utama dalam keberlangsungan sistem sosial. Tradisi arsitektur Melayu memperlihatkan bahwa masyarakat terdahulu memiliki pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan.

Karena itu, mempelajari budaya Melayu tidak hanya berarti mempelajari masa lalu. Ia juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan masa kini, seperti hubungan manusia dengan lingkungan, keberlanjutan pembangunan, dan cara hidup yang selaras dengan alam.

Hal yang sama berlaku pada pakaian tradisional seperti Baju Kurung, Songket, dan Teluk Belanga. Pakaian adat bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga membawa nilai tentang identitas, kesopanan, dan ekspresi budaya.

Dalam dunia yang semakin seragam akibat pengaruh globalisasi, keberadaan pakaian tradisional mengingatkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus kehilangan identitas. Kemajuan dan kebudayaan lokal sebenarnya dapat berjalan bersama.

Aspek lain yang penting dipertimbangkan adalah pembelajaran baca tulis Arab Melayu. Tradisi ini menunjukkan perjalanan intelektual masyarakat Melayu yang memiliki hubungan erat antara bahasa, pengetahuan, dan nilai keagamaan.

Mengajarkan Arab Melayu kepada siswa bukan berarti mengajak mereka hidup dalam masa lalu. Sebaliknya, hal tersebut membuka kesempatan bagi generasi muda untuk memahami jejak pemikiran dan sejarah masyarakatnya sendiri.

Budaya juga hadir dalam hal-hal sederhana seperti makanan. Bubur Padas, Asam Pedas, dan lain-lain bukan hanya persoalan rasa, tetapi merupakan cerita tentang lingkungan, bahan alam, kreativitas, dan kebiasaan sosial yang diwariskan turun-temurun.

Kuliner adalah salah satu bentuk kebudayaan yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Ia hidup di meja makan keluarga, dalam pertemuan masyarakat, dan dalam ingatan kolektif yang terus bergerak dari generasi ke generasi.

Namun, pelestarian budaya tidak dapat hanya bergantung pada keluarga atau komunitas adat. Dalam masyarakat modern, sekolah memiliki posisi strategis karena sekolah merupakan ruang tempat berbagai latar belakang anak bertemu dan belajar bersama.

Lembaga seperti Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Melayu. Akan tetapi, budaya tidak cukup hanya dirawat melalui lembaga adat atau festival budaya.

Ia perlu hadir dalam pengalaman pendidikan sehari-hari. Festival budaya memang penting karena menjadi ruang perayaan identitas. Namun pendidikan memiliki fungsi yang lebih mendalam: menjadikan budaya sebagai kesadaran, bukan hanya sebagai tontonan.

Pada akhirnya, pertanyaan "Perlukah Budaya Melayu Masuk Sekolah?" bukanlah pertanyaan tentang mempertentangkan budaya lokal dengan pendidikan modern. Pertanyaan tersebut justru mengajak kita melihat bagaimana pendidikan modern dapat memberi ruang bagi identitas lokal untuk tumbuh.

Muatan lokal budaya Melayu dapat menjadi jalan untuk membangun karakter siswa yang memahami kebersamaan, menghargai keberagaman, mencintai lingkungan, dan memiliki kesadaran sejarah. Ia bukan sekadar pelajaran tentang tradisi, tetapi pendidikan tentang menjadi manusia yang memiliki akar.

Sebab masyarakat yang maju bukan masyarakat yang melupakan masa lalunya, melainkan masyarakat yang mampu membawa nilai terbaik dari masa lalu untuk menghadapi masa depan.

Budaya Melayu tidak harus tinggal di ruang museum atau panggung festival; ia dapat hidup kembali melalui ruang kelas. Dan mungkin, sekolah adalah tempat terakhir bagi sebuah masyarakat untuk memastikan bahwa ingatan tidak hilang.

Sebab ketika generasi muda tidak lagi mengenal cerita tentang dirinya sendiri, maka yang hilang bukan hanya sebuah tradisi, tetapi sebagian dari cara sebuah masyarakat memahami keberadaannya. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda