Ponticity post authorelgiants 07 Januari 2026

Bangunan Sekolah Era 1902 Disiapkan Jadi Museum Kota Pontianak

Photo of Bangunan Sekolah Era 1902 Disiapkan Jadi Museum Kota Pontianak MUSEUM KOTA – Bangunan SDN 14 Jalan Tamar yang berdiri sejak 1902 kini berstatus cagar budaya akan dipersiapkan Pemkot Pontianak untuk menjadi Museum Kota Pontianak.

PONTIANAK, SP – Pemkot Pontianak berencana membangun Museum Kota Pontianak sebagai bagian dari upaya pelestarian nilai sejarah dan penguatan edukasi bagi generasi muda. Museum tersebut direncanakan berlokasi di Jalan Tamar, dengan memanfaatkan bangunan SDN 14 Kota Pontianak yang telah berstatus sebagai cagar budaya.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, museum kota bukan sekadar ruang penyimpanan benda bersejarah, melainkan tempat bercerita tentang perjalanan panjang Kota Pontianak sejak awal berdiri hingga saat ini.

“Kita ke depan ingin membangun Museum Kota Pontianak. Ini bagian dari upaya menjaga dan melestarikan nilai sejarah. Museum itu tempat bercerita, selain nilai sejarah juga menjadi pelajaran bagi generasi muda agar tidak lupa perjalanan Kota Pontianak,” ujar Edi, Rabu (7/1).

Menurutnya, gedung SDN 14 dipilih karena memiliki nilai historis yang sangat kuat. Bangunan tersebut akan direhabilitasi dengan konsep pelestarian, yakni mengembalikan kondisi bangunan ke bentuk aslinya tanpa menghilangkan karakter arsitektur lama.

“Gedungnya kita rehab, kita kembalikan ke bentuk aslinya karena sudah mulai rusak. Konsepnya bangunan yang ada tetap kita pertahankan, lalu ruang-ruang di dalamnya kita fungsikan sebagai ruang museum,” jelasnya.

Ruang-ruang kelas yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar akan dialihfungsikan menjadi ruang pameran yang menampilkan berbagai material dan benda bersejarah yang memiliki narasi perjalanan Kota Pontianak.

“Mulai dari material hingga benda-benda yang bisa bercerita tentang sejarah Kota Pontianak akan ditampilkan di sana,” kata Edi.

Bangunan SDN 14 Pontianak memiliki nilai sejarah yang panjang. Sekolah ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1902. Pada masa kolonial, sekolah tersebut dikenal dengan nama Hooge Indische School (HIS) dan hanya diperuntukkan bagi anak-anak pegawai Belanda yang bertugas di Pontianak.

Pada tahun 1928, pemerintah kolonial mulai membuka HIS bagi penduduk pribumi. Namun, saat itu yang diperbolehkan bersekolah hanyalah anak-anak dari kalangan bangsawan dan pejabat. Lima tahun setelah Indonesia merdeka, sekolah ini akhirnya dibuka untuk umum dan dapat diakses oleh seluruh anak-anak Indonesia.

Seiring penetapannya sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi, SDN 14 Pontianak membangun gedung sekolah baru pada tahun 2017. Seluruh aktivitas belajar mengajar kemudian dipindahkan ke gedung baru yang berada tepat di belakang bangunan lama, sementara bangunan asli tetap dipertahankan tanpa renovasi besar guna menjaga keasliannya.

SDN 14 Pontianak tercatat sebagai salah satu dari 14 bangunan cagar budaya yang ada di Kota Pontianak. Sebagai sekolah pertama di Kota Pontianak, bangunan ini tetap berdiri kokoh meski telah berusia 118 tahun.

Bangunan sekolah berbahan dasar kayu belian, dengan ciri arsitektur perpaduan kolonial dan tradisional Melayu. Bentuknya berupa bangunan panggung persegi panjang dengan tujuh ruang kelas yang dipisahkan oleh dinding kayu, mencerminkan karakter bangunan pendidikan era awal abad ke-20.

Terkait proses pembelajaran, Edi memastikan tidak akan mengganggu hak pendidikan peserta didik. Para siswa akan diregruping dan dialihkan ke sekolah lain yang lokasinya berdekatan. “Untuk proses belajar siswa, akan diregruping ke sekolah terdekat,” tegasnya. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda