“Cinta Indonesia dimulai dari keberanian orang muda menjaga dirinya sendiri, menjauhi narkoba, menolak perilaku destruktif, dan memilih jalan hidup yang membangun masa depan,”
Anggota MPR RI/DPD RI, Maria Goreti, S.Sos., M.Si.,
LANDAK, SP - Anggota MPR RI, Maria Goreti, S.Sos., M.Si., menegaskan pentingnya peran strategis orang muda dalam menjaga masa depan bangsa melalui penghayatan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Pahauman, yang digelar di Gedung Serbaguna Paroki Pahauman, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, beberapa hari lalu.
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta ini merupakan bagian dari tugas konstitusional Anggota MPR RI dalam memasyarakatkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika. Sosialisasi dikemas dalam suasana dialogis dan reflektif, dengan tema utama “Mencintai Tanah Air dengan Menjadi Generasi Muda yang Positif, Berintegritas, dan Bebas Narkoba.”
Dalam pengantarnya, Trio Kusuma sebagai moderator menekankan bahwa cinta tanah air tidak berhenti pada simbol-simbol formal seperti upacara atau slogan nasionalisme, melainkan diwujudkan melalui sikap dan pilihan hidup sehari-hari.
“Cinta Indonesia dimulai dari keberanian orang muda menjaga dirinya sendiri, menjauhi narkoba, menolak perilaku destruktif, dan memilih jalan hidup yang membangun masa depan,” tegasnya.
Menyambung pengantar dari moderator, Maria Goreti mengingatkan bahwa narkoba tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan keluarga, merusak tatanan sosial, dan pada akhirnya melemahkan negara. Karena itu, sikap tegas orang muda untuk berkata “tidak” terhadap narkoba merupakan bentuk nyata bela negara.
“Menjaga diri adalah bentuk tanggung jawab moral, sekaligus wujud cinta tanah air,” ujarnya.
Lebih lanjut, Maria Goreti menjelaskan bahwa Pancasila harus dipahami sebagai kompas moral, bukan sekadar teks normatif. Nilai-nilai Pancasila, menurutnya, membentuk karakter pribadi yang berintegritas, jujur, peduli, dan inklusif.
Ketika nilai-nilai ini hidup dalam diri orang muda, maka mereka akan memiliki ketahanan moral untuk menghadapi tekanan pergaulan, godaan instan, serta arus negatif zaman.
Dalam konteks OMK, Maria Goreti juga menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan iman Katolik, bahkan saling menguatkan.
Ia menjabarkan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa sejalan dengan penghayatan iman kepada Allah, sila Kemanusiaan mencerminkan ajaran kasih, sila Persatuan sejalan dengan sifat Gereja yang universal, sila Kerakyatan menghargai martabat manusia, dan sila Keadilan Sosial sejalan dengan semangat kesejahteraan bersama (bonum commune).
“Menjadi Katolik yang baik tidak membuat kita kurang Indonesia, dan menjadi warga negara yang setia pada Pancasila tidak membuat kita kurang beriman.
Keduanya justru saling meneguhkan, seperti semboyan kita 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia,” ujar Maria Goreti, disambut antusias para peserta.
Ia juga menguraikan makna Empat Pilar secara utuh sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Pancasila sebagai identitas moral bangsa, UUD NRI 1945 sebagai arsitektur kehidupan bernegara yang menjamin hak dan kewajiban warga, NKRI sebagai rumah besar bersama yang harus dijaga persatuannya, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai keindahan dalam keberagaman yang menuntut sikap toleran dan inklusif.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dinamis melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan kritis, mulai dari isu keteladanan elite, ketidakadilan hukum, politik identitas, hingga keraguan terhadap efektivitas kampanye anti-narkoba.
Menanggapi hal tersebut, Maria Goreti menyampaikan bahwa kegagalan sebagian elite tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan nilai-nilai Pancasila.
“Ketika ada pemimpin yang melanggar Pancasila, itu bukan bukti bahwa Pancasila salah, tetapi tanda bahwa bangsa ini membutuhkan generasi baru yang lebih jujur dan berintegritas,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa idealisme bukanlah kelemahan, melainkan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas kepemimpinan masa depan.
Terkait politik identitas, Maria Goreti menegaskan bahwa Pancasila berfungsi sebagai benteng agar negara tidak dikuasai oleh satu kelompok tertentu.
Menurutnya, orang muda memiliki peran penting dalam membangun budaya inklusif yang meredam ekstremisme dan intoleransi.
Di akhir kegiatan, sejumlah masukan strategis juga muncul dari peserta, di antaranya perlunya metode sosialisasi Empat Pilar yang lebih dialogis dan solutif, dengan menjadikan persoalan keadilan sosial sebagai pintu masuk utama.
Peserta berharap MPR RI tidak hanya hadir sebagai penyampai nilai, tetapi juga sebagai jembatan aspirasi masyarakat kepada lembaga negara terkait.
Menutup kegiatan, Maria Goreti mengajak OMK Pahauman untuk menjadi generasi yang tidak hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi juga layak dibanggakan oleh Indonesia.
“Bangsa ini menunggu peran orang muda. Gereja menunggu karya orang muda. Masyarakat menunggu teladan orang muda. Jadilah terang, bagi sesama, bagi bangsa, dan bagi masa depan,” pungkasnya.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini diharapkan mampu memperkuat wawasan kebangsaan, karakter moral, serta komitmen orang muda Katolik di Kabupaten Landak untuk berkontribusi aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan nilai-nilai Pancasila. (*)