PONTIANAK, SP - Sebuah perjalanan panjang pengabdian di Perkumpulan Hakka Indonesia Nasional (Perhakin) Kalimantan Barat (Kalbar), resmi memasuki babak akhir.
Setelah mengabdi selama tiga periode kepengurusan, Bruder Stephanus Paiman OFMCap menyatakan tidak lagi bersedia menjadi bagian dari jajaran pengurus organisasi yang telah memberinya kepercayaan sejak 2014.
Bruder Stephanus pernah dipercaya sebagai Dewan Kehormatan Perhakin Kalbar selama dua periode, yakni 2014-2018 dan 2018-2022, kemudian melanjutkan pengabdian sebagai Dewan Penasehat pada periode 2022-2026.
Keputusan tersebut disampaikannya menjelang berakhirnya masa kepengurusan Perhakin Kalbar.
Menurutnya, usia yang semakin bertambah serta keinginan untuk lebih fokus pada pelayanan kemanusiaan menjadi alasan utama dirinya memilih mengakhiri pengabdian di organisasi tersebut.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Hakka Kalbar dan semua pengurus Perkumpulan Hakka Indonesia (Perhakin) Kalbar yang telah mempercayai saya masuk dalam jajaran kepengurusan selama tiga periode, yakni dua periode sebagai Dewan Kehormatan dan satu periode sebagai Dewan Penasehat," ujar Bruder Stephanus.
Ia mengaku hingga kini masih bertanya-tanya mengapa dirinya dipercaya mengemban amanah tersebut.
Menurutnya, masih banyak tokoh lain yang lebih layak dan memiliki kemampuan untuk menduduki posisi tersebut.
"Saya merasa tidak layak karena masih banyak orang yang lebih cakap. Namun karena organisasi ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan lebih banyak berkecimpung di tengah masyarakat melalui karya-karya sosial, saya menerima amanah itu dengan penuh tanggung jawab," sambung Sang Tokoh Kemanusiaan Kalbar ini.
Mengabdi Lewat Karya Nyata
Selama berada di Perhakin Kalbar, Bruder Stephanus, yang juga merupakan Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRK) dikenal aktif mendampingi masyarakat yang mengalami persoalan hukum maupun ketidakadilan.
Baginya, jabatan di organisasi bukan sekadar simbol, tetapi amanah untuk hadir membantu mereka yang membutuhkan.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang pernah didampinginya bersama masyarakat, di antaranya kasus seorang warga yang dikriminalisasi karena dituduh menjual barang ilegal, kasus pemukulan terhadap seorang mahasiswi oleh oknum ASN, pendampingan terhadap 53 kepala keluarga di Gang Haji Taha, Jalan Tanjungpura, Pontianak, yang sempat mengungsi di Sekretariat FRKP, persoalan warga Peniraman akibat aktivitas galian C, hingga pendampingan terhadap warga Desa Inggis, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau, yang mengalami proses kriminalisasi.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui jalur hukum maupun mediasi tanpa pernah membebani organisasi.
"Semua itu saya lakukan tanpa bantuan sepeser pun dari organisasi maupun perorangan. Justru di situlah saya merasakan kebahagiaan karena bisa membantu meringankan beban masyarakat," ungkapnya.
Hadir dalam Berbagai Momentum Perhakin
Sebagai salah satu tokoh yang dipercaya Perhakin Kalbar, Bruder Stephanus juga kerap hadir dalam berbagai kegiatan organisasi.
Salah satunya saat Perayaan Hari Ulang Tahun Perkumpulan Hakka Nusantara ke-11 Provinsi Kalbar, yang digelar di Pontianak pada Minggu, 29 Juni 2025.
Dalam acara yang dihadiri berbagai tokoh masyarakat Tionghoa tersebut, Bruder Stephanus mendapat kehormatan memimpin doa sebagai pembuka rangkaian kegiatan.
Kehadirannya dalam momentum tersebut dinilai mencerminkan semangat kebersamaan, toleransi, serta komitmennya dalam membangun persaudaraan lintas suku dan agama di Kalimantan Barat.
Memilih Mundur dengan Penuh Syukur
Bruder Stephanus menegaskan, keputusan untuk tidak lagi masuk dalam kepengurusan bukan karena adanya persoalan internal, melainkan murni pertimbangan pribadi.
Ia berprinsip bahwa setiap amanah yang diterima harus dijalankan secara maksimal.
"Bagi saya, begitu sudah diberikan mandat, maka saya harus melaksanakan amanah itu dengan sungguh-sungguh melayani masyarakat atau warga yang membutuhkan bantuan. Karena itu, pada usia yang mulai terasa menua, dengan sangat menyesal saya memutuskan tidak bersedia lagi terlibat langsung dalam kepengurusan organisasi ini," tuturnya.
Meski tidak lagi berada dalam struktur organisasi, ia memastikan komitmennya terhadap kegiatan sosial dan kemanusiaan tidak akan pernah berhenti.
Sampaikan Permohonan Maaf
Di akhir masa pengabdiannya, Bruder Stephanus menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar Perhakin Kalbar apabila selama tiga periode kepengurusannya masih terdapat kekurangan.
"Pada kesempatan ini saya juga memohon maaf apabila selama tiga periode di Perkumpulan Hakka Indonesia Kalbar saya belum berbuat banyak, atau ada tutur kata maupun sikap yang kurang berkenan. Dengan hati yang tulus saya mohon maaf," ucapnya.
Ia berharap Perhakin Kalbar terus berkembang sebagai organisasi yang mampu menjaga nilai-nilai budaya Hakka sekaligus semakin aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan bagi seluruh masyarakat Kalbar tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang. (*)