PONTIANAK, SP - Di tengah riuh perubahan dunia pendidikan tinggi, khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar), IAIN Pontianak menapaki sebuah fase penting dalam sejarahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kampus Islam negeri di Bumi Khatulistiwa ini bergerak dengan ritme yang berbeda, lebih terukur, lebih terbuka terhadap perubahan, dan semakin menegaskan identitasnya sebagai perguruan tinggi yang ingin tumbuh melampaui batas-batas lama.
Di tempat inilah sebuah perjalanan kelembagaan perlahan ditata, tidak selalu gaduh, tetapi berlangsung konsisten dengan langkah yang terarah.
Dalam beberapa tahun terakhir, IAIN Pontianak memang berada pada persimpangan penting. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat belajar, tetapi dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki tata kelola yang baik, menghasilkan riset berkualitas, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Di tengah dinamika tersebut, nama Prof. Dr. KH. Syarif, M.A. menjadi salah satu sosok yang lekat dengan berbagai ikhtiar pembenahan kampus.
Jejak kepemimpinannya tidak hanya tampak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan budaya mutu, modernisasi tata kelola, digitalisasi layanan akademik, perluasan jejaring kerja sama, hingga mengawal proses transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN).
Menjadikan Mutu sebagai Nafas Institusi
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Pontianak, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd., menilai salah satu ciri utama kepemimpinan Prof. Syarif adalah komitmennya terhadap peningkatan mutu kelembagaan.
"Beliau selalu menempatkan mutu sebagai salah satu perhatian utama. Dalam banyak kesempatan, kami didorong untuk memperkuat sistem penjaminan mutu, melakukan evaluasi secara berkelanjutan, dan memastikan setiap unit bekerja berdasarkan standar yang jelas," ujarnya.
Menurut Prof. Edi, perubahan yang paling terasa adalah tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa pengembangan perguruan tinggi harus dibangun di atas sistem yang kuat.
"Budaya mutu tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Namun ada upaya yang konsisten untuk memperbaiki sistem, meningkatkan akreditasi, memperkuat dokumen akademik, dan memastikan proses pendidikan berjalan sesuai standar."
Ia juga menilai kepemimpinan Prof. Syarif membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
"Yang membedakan adalah semangat membangun jejaring. Kampus tidak hanya melihat ke dalam, tetapi juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga, termasuk pada level internasional. Itu menjadi modal penting bagi pengembangan institusi ke depan."

Fondasi Menuju Universitas Islam Negeri
Salah satu agenda terbesar selama masa kepemimpinan Prof. Syarif adalah mengawal transformasi IAIN Pontianak menjadi UIN.
Bagi Prof. Edi, proses tersebut bukan sekadar perubahan nomenklatur.
"Transformasi menuju UIN bukan hanya mengganti nama. Yang paling penting adalah menyiapkan substansi akademiknya. Penguatan program studi, peningkatan kualitas dosen, tata kelola, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga penjaminan mutu terus dipersiapkan."
Sebagai bagian dari proses tersebut, LPM IAIN Pontianak pada 15 Juni 2026 menggelar rapat pembahasan proposal alih bentuk. Forum tersebut menjadi tahapan strategis dalam penyempurnaan dokumen usulan transformasi kelembagaan, meliputi pemenuhan persyaratan administratif, akademik, tata kelola, hingga penguatan argumentasi akademik yang menjadi dasar usulan perubahan status menjadi UIN.
Melalui proses itu, seluruh perangkat kelembagaan dipastikan memenuhi ketentuan yang berlaku sehingga proposal alih bentuk mampu menggambarkan kesiapan institusi secara komprehensif.
Menjaga Tradisi, Menyambut Perubahan
Pandangan senada disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Ali Hasmy, M.Si.
Menurutnya, kepemimpinan Prof. Syarif berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi akademik dan tuntutan perubahan zaman.
"Beliau memiliki perhatian yang besar terhadap pengembangan akademik dan kelembagaan. Banyak kebijakan diarahkan agar kampus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kebutuhan masyarakat, dan tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif."
Salah satu perubahan yang paling dirasakan adalah percepatan digitalisasi layanan akademik.
"Berbagai layanan akademik terus diperbaiki melalui pemanfaatan teknologi. Ini membantu mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam menjalankan aktivitas akademik secara lebih efektif."
Selain itu, pengembangan sarana-prasarana berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Kita melihat adanya upaya memperkuat kompetensi dosen, mendorong penelitian dan publikasi, serta meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa. Semua itu dilakukan sebagai bagian dari penguatan institusi."
Menurut Ali Hasmy, fondasi menuju UIN tidak hanya dibangun melalui pemenuhan administrasi, tetapi juga melalui budaya akademik, kualitas SDM, jejaring kerja sama, dan tata kelola yang semakin matang.

Persiapan Alih Bentuk Capai 99 Persen
Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. KH. Syarif, M.A., menegaskan bahwa secara keseluruhan persiapan menuju alih bentuk menjadi Universitas Islam Negeri telah hampir sepenuhnya selesai.
"Persiapan alih bentuk IAIN Pontianak menjadi UIN pada prinsipnya sudah rampung sekitar 99 persen. Seluruh persyaratan administratif, akademik, pengembangan program studi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, sistem penjaminan mutu, hingga dokumen usulan telah kami siapkan."
Menurut Prof. Syarif, saat ini hanya tersisa satu persyaratan yang masih dalam proses penyelesaian.
"Yang masih menjadi kekurangan hanya sekitar 0,7 hektare lahan sebagai bagian dari persyaratan luas kawasan kampus. Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kekurangan tersebut dapat segera terpenuhi sehingga proses alih bentuk dapat dilanjutkan sesuai mekanisme yang berlaku."
Ia optimistis seluruh tahapan dapat segera dituntaskan sehingga transformasi IAIN Pontianak menjadi UIN dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.
"Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama institusi, tetapi merupakan langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi Islam yang lebih komprehensif, memperkuat integrasi ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan, sekaligus meningkatkan daya saing perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional."
Sebuah Jejak yang Akan Dikenang
Menjelang petang, kampus kembali tenang. Langkah mahasiswa mulai berkurang, suara diskusi perlahan mereda, sementara cahaya matahari jatuh di antara bangunan yang menjadi saksi perjalanan panjang sebuah institusi.
Setiap pemimpin meninggalkan jejaknya dengan cara yang berbeda. Ada yang dikenang karena keberaniannya mengambil keputusan, ada yang diingat melalui pembangunan fisik, dan ada pula yang meninggalkan warisan berupa sistem yang terus bekerja bahkan setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Bagi banyak sivitas akademika, jejak Prof. Dr. KH. Syarif, M.A. hadir melalui upaya membangun fondasi tersebut: memperkuat budaya mutu, menata tata kelola, memperluas kerja sama, mempercepat digitalisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengawal transformasi IAIN Pontianak menuju UIN.
Kini, ketika persiapan alih bentuk telah mencapai sekitar 99 persen dan hanya menyisakan pemenuhan kekurangan lahan sekitar 0,7 hektare, harapan itu terasa semakin dekat menjadi kenyataan. Perjalanan memang belum selesai, tetapi fondasi telah dibangun.
Seperti aliran Sungai Kapuas yang terus mengalir menuju laut, perjalanan IAIN Pontianak pun terus bergerak menuju babak baru, menjadi UIN yang diharapkan mampu memperluas cakrawala keilmuan, memperkuat moderasi beragama, serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan Kalimantan Barat dan Indonesia. (aep mulyanto)