Ponticity post authorKiwi 16 Oktober 2020

Kampung Caping Jadi Destinasi Wisata Unggulan

Photo of Kampung Caping Jadi Destinasi Wisata Unggulan

PONTIANAK, SP - Pemerintah Kota Pontianak akan mengembangkan Kampung Caping yang berlokasi di Gang Mendawai, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, menjadi destinasi wisata baru dan unggulan.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebut Kampung Caping yang berada di pinggir Sungai Kapuas bisa menjadi role model, tidak hanya di Kota Pontianak tetapi juga bagi daerah-daerah lainnya.

"Keberadaan Kampung Caping bisa berdampak untuk pertumbuhan ekonomi," ujarnya usai rapat koordinasi (rakor) penelitian dan pengembangan se-Kalbar di Kota Pontianak secara virtual di Ruang Pontive Center, Kamis (15/10).

Caping merupakan topi yang berbentuk kerucut yang umumnya terbuat dari anyaman bambu, sejenis daun pandan atau daun kelapa. Caping kerap digunakan oleh para petani maupun peladang ketika bercocok tanam. Caping digunakan sebagai tutup kepala untuk menghindari panas matahari.

"Jika Kampung Caping ini dikerjakan secara fokus melalui penelitian yang baik, maka akan menjadi role model daerah lainnya untuk berkembang," ungkap Edi.

Ia menilai keberadaan penelitian dan pengembangan (litbang) sangat penting dalam hal menangani permasalahan yang ada, khususnya di Provinsi Kalbar dan Kota Pontianak. Keterlibatan litbang penting dalam mengoptimalkan hasil program yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak bersama masyarakat.

"Jadi ini program kolaborasi bersama," tuturnya.

Menurutnya, apapun permasalahan di Kota Pontianak terlebih di era pandemi Covid-19 ini dinilainya akan lebih efektif kalau melalui Litbang. Sebab dengan data, evaluasi dan analisis akan diketahui yang harus dilakukan.

"Litbang meliputi semua sektor baik sosial, budaya, ekonomi, infrastruktur, dan sektor lain," pungkasnya.

Camat Pontianak Tenggara, Rendrayani menjelaskan, sebagaimana namanya, daerah tersebut merupakan sentra produksi caping yang dijual ke Kota Pontianak dan sekitarnya.

Ia menjelaskan, caping merupakan topi yang berbentuk kerucut yang umumnya terbuat dari anyaman bambu, sejenis daun pandan atau sejenis rumputan, ataupun daun kelapa. Sebuah caping umumnya dilengkapi dengan tali dagu yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan caping.

"Kami mendukung apa yang dilakukan oleh masyarakat khususnya di kampung Mendawai. Apalagi caping sudah ada sejak nenek moyang kita atau sudah satu abad lamanya, namun kita harus mengupayakan bagaimana caping ini tidak hanya dipakai di kalangan petani saja namun bisa juga dijadikan hiasan," ujarnya, belum lama ini.

Rendrayani menyebutkan pengunjung di Kampung Wisata Caping akan melihat pajangan caping warna- warni di sejumlah titik sehingga wisatawan menjadikan caping itu sebagai latar belakang saat berfoto.

Terkait pembuatan caping di daerah itu, ia menjelaskan, produksi caping bisa capai 20 buah per hari dan wisatawan yang datang bisa ikut praktek pembuatannya atau mengecat sendiri caping yang tersedia di daerah tersebut. Bahkan wisatawan bisa membawa pulang caping yang sudah dicat untuk dijadikan hiasan.

"Pembuatan caping terkendala keterbatasan pada bahan baku. Bahan di sini dari Kubu Raya dan setiap pengambilan hanya tiga sampan saja," katanya.

Sementara itu, Pendamping Kampung Wisata Caping, Beny Than Heri menyebutkan bahwa jenis caping beragam mulai dari kecil sedang dan besar

"Untuk harga menyesuaikan mulai dari harga Rp30 ribu sampai Rp50 ribu. Harga tersebut masih untuk uji coba karena pembuatan yang sulit agar mendapatkan harga yang layak dan sesuai pengerjaan nanti harga akan dinaikkan," jelas dia. 

Kembangkan Kawasan Sungai

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa sebelumnya juga mendorong Pemerintah Kota Pontianak melakukan optimalisasi lokasi tepian sungai. Menurutnya, lokasi-lokasi strategis yang berada di pinggiran sungai Kota Pontianak harus dipertahankan karena Kota Pontianak sempat terkenal menjadi kota seribu parit.

"Pengembangan lokasi pinggiran sungai harus dilakukan hingga bisa menjadi pusat wisata," katanya, belum lama ini.

Ia juga menginginkan Pemkot Pontianak melakukan penataan terhadap aset yang berada di tepi sungai diantaranya kawasan Parit Sungai Jawi. Lokasi tersebut bisa menjadi objek wisata sehingga menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Para pecinta sepeda bisa melakukan fun bike, ada wisata kuliner, out bond, sehingga sebenarnya aset ini berpotensi," ungkapnya.

Bebby mengingatkan masyarakat lokasi sekitar Parit Sungai Jawi diharapkan bisa menyambut baik dan bekerjasama dengan pemerintah Kota Pontianak. Karena keterlibatan masyarakat juga menjadi penting dalam upaya menciptakan iklim wisata yang naik.

"Kami selaku anggota DPRD Kota Pontianak menyambut baik," tutupnya. (din)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda