Potret post authorBob 06 Januari 2026

Merawat Kehidupan, dari Hutan Kalimantan hingga Lima Anak Kucing di FRKP Jalan Purnama: Kisah Menjaga Alam Demi Kehidupan dari Bruder Stephanus Paiman

Photo of Merawat Kehidupan, dari Hutan Kalimantan hingga Lima Anak Kucing di FRKP Jalan Purnama: Kisah Menjaga Alam Demi Kehidupan dari Bruder Stephanus Paiman

PONTIANAK, SP - Bagi banyak orang di Kalimantan Barat (Kalbar), nama Bruder Stephanus Paiman OFMCap, identik dengan kerja-kerja kemanusiaan.

Sebagai Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), ia telah lama berdiri di garis depan kepedulian: mendampingi korban bencana, membela masyarakat adat, merangkul kaum miskin kota, serta menjadi suara bagi mereka yang kerap diabaikan.

Namun, di balik kesibukan yang tak pernah benar-benar usai itu, ada satu benang merah yang senantiasa menuntun langkah hidupnya: cinta yang utuh pada seluruh ciptaan Tuhan.

Bagi Bruder Stephanus, kemanusiaan tidak berhenti pada relasi antar-manusia. Ia menjalar lebih luas, menyentuh tanah yang diinjak, pepohonan yang tumbuh, sungai yang mengalir, dan semua makhluk bernyawa yang hidup berdampingan dengan manusia.

“Kalau kita mengaku mencintai Tuhan, tetapi membiarkan ciptaan-Nya menderita,” ujarnya pelan suatu sore di sekretariat FRKP, Jalan Purnama 9, “itu cinta yang belum utuh.”

 

Menanam Harapan, Merawat Kehidupan

Di halaman FRKP, kehidupan tumbuh dalam bentuk yang paling nyata. Pohon buah, tanaman obat, bunga, dan aneka tanaman lokal berdiri rapi, sebagian ditanam oleh tangan Bruder Stephanus sendiri, sebagian dirawat bersama para relawan.

Menanam, baginya, bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah doa yang ditanam ke dalam tanah, sebuah pernyataan iman dan tanggung jawab lintas generasi.

“Menanam pohon itu seperti berdoa untuk masa depan,” katanya lirih. “Kita mungkin tak menikmati buahnya, tapi kehidupan akan menikmatinya.”

Prinsip yang sama ia terapkan pada dunia fauna. Selama bertahun-tahun, Bruder Stephanus terlibat langsung dalam upaya penyelamatan satwa liar di Kalbar, dari laporan warga hingga evakuasi darurat, dari hutan yang tergerus hingga pemukiman manusia.

Beruang madu, binturong, orangutan, kelempiau, bekantan, landak, dan berbagai satwa lain pernah berada dalam pendampingan dan perhatiannya.

“Mereka tidak pernah memilih lahir di hutan yang rusak,” katanya tegas. “Mereka korban keserakahan manusia. Tugas kita bukan menghakimi, tetapi memulihkan.”

 

Dari Satwa Liar ke Lima Anak Kucing

Namun kepedulian itu tak hanya hadir dalam bentuk penyelamatan satwa langka. Ia juga menjelma dalam wujud yang jauh lebih sederhana, lebih dekat, lebih sunyi, yakni lima anak kucing kecil** yang kini diasuhnya.

Kisah itu bermula pada malam tahun baru. Seekor kucing betina yang biasa tinggal di area FRKP disuntik KB oleh seorang relawan. Namun keesokan harinya, kucing itu tak pernah kembali. Hingga hari ini, ia tak kunjung muncul.

Yang tertinggal hanyalah lima anak kucing mungil, masih menyusu, rapuh, dan sepenuhnya bergantung pada uluran tangan manusia.

“Mereka tidak salah apa-apa,” kata Bruder Stephanus sambil tersenyum, meski lelah tampak di matanya. “Kalau induknya tidak kembali, berarti kamilah yang harus menjadi orangtuanya.”

Ia pun membeli susu khusus, botol dot, dan kandang kecil. Sejak saat itu, hari-harinya bertambah satu ritme baru: bangun malam, menyusui, menjaga suhu tubuh, memastikan kebersihan, dan mencatat waktu makan satu per satu.

“Ini tugas baru,” katanya sambil tertawa kecil. “Lima kali dua puluh empat jam. Siap kurang tidur, siap capek.”

“Merawat kehidupan itu memang tidak pernah praktis,” tambahnya pelan. “Tapi justru di situlah letak kasih.”

 

Spiritualitas yang Membumi

Sebagai seorang OFMCap, Bruder Stephanus menghidupi spiritualitas Fransiskan yang memandang seluruh ciptaan sebagai saudara. Santo Fransiskus dari Assisi baginya bukan sekadar figur sejarah, melainkan napas hidup sehari-hari.

“Beruang madu itu saudara kita. Orangutan itu saudara kita. Anak kucing ini juga saudara kita,” katanya sambil mengelus lembut salah satunya.

“Kalau satu ciptaan menderita, seharusnya hati kita ikut terusik.”

Tak sedikit relawan FRKP yang mengaku terinspirasi olehnya. Mereka yang awalnya datang untuk kerja sosial, perlahan belajar mencintai alam, satwa, dan kehidupan secara utuh.

“Beliau mengajarkan kami bahwa kemanusiaan dan ekologi itu satu napas,” ujar seorang relawan. “Tidak bisa dipisahkan.”

 

Setia pada Hal-Hal Kecil

Ke mana pun ia pergi, Bruder Stephanus hampir selalu membawa pesan yang sama: rawatlah kehidupan. Ia menyampaikannya bukan hanya lewat kata-kata, tetapi terutama lewat teladan.

“Menjaga hewan dan menanam pohon bukan soal hobi atau belas kasihan,” katanya suatu kali.

“Ini soal keberlangsungan hidup manusia. Kalau hutan rusak, hewan punah, pohon habis, manusia sedang menggali kuburnya sendiri.”

Baginya, manusia tidak hidup di atas alam, melainkan di dalam alam. Merusaknya berarti merusak masa depan sendiri. Karena itu, ia mengajak orang menyentuh tanah, menanam bibit, memberi makan hewan, dan belajar memahami kebutuhan makhluk lain.

“Kalau tangan kita kotor oleh tanah karena menanam,” tuturnya, “biasanya hati kita jadi lebih lembut. Dan orang yang hatinya lembut, jarang tega merusak.”

Dalam dunia yang gaduh oleh isu besar dan janji-janji megah, Bruder Stephanus memilih setia pada hal-hal kecil: menanam, merawat, menyelamatkan, dan menjaga kehidupan, satu demi satu.

“Tidak ada kehidupan yang kecil di mata Tuhan,” katanya. “Yang kecil justru sering menentukan keberlangsungan yang besar.”

Dan di Jalan Purnama 9, Pontianak, kasih itu terus hidup: dalam pohon yang bertumbuh, satwa yang terselamatkan, dan lima anak kucing kecil yang kini memiliki harapan.

Sebuah kesaksian sunyi bahwa merawat ciptaan, sejatinya, adalah cara paling jujur untuk merawat kemanusiaan.  (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda