BANDUNG,SP - Ketua Umum Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang), Osman Sapta Odang (OSO) menghadiri pengukuhan jajaran pengurus Gebu Minang Provinsi Jawa Barat Periode 2026-2031 di Gedung Balai Kota Bandung, Sabtu (30/5/2026).
OSO tiba di lokasi sekitar pukul 09.47 WIB dengan mengenakan batik khas Gebu Minang. Kedatangannya disambut hangat oleh Wali Kota Padang Fadly Amran dan Ketua DPD Gebu Minang Jawa Barat, Mulya.
Setibanya di lokasi acara, OSO disambut pertunjukan Silek Singo Harau yang dibawakan komunitas Singo Harau Pencak Silat Minangkabau. Bersama rombongan, dia kemudian menuju area utama acara.
Prosesi penyambutan berlanjut dengan Tarian Pasambahan, salah satu tradisi khas Minangkabau. Dalam prosesi tersebut, OSO dan rombongan dipersilakan mengunyah sirih yang disajikan di atas carano, wadah tradisional masyarakat Minangkabau, sebagai simbol penghormatan dan penerimaan tamu.
Selain itu, OSO juga meresmikan Gala Mak Adang dan Mak Etek kepada Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bandung.
Dalam kesempatan itu, Pengamat filsafat Rocky Gerung menyampaikan pidato kunci bertajuk “Bukan Budaya, tapi Pikiran”. Pernyataan itu langsung menjadi sorotan karena mengajak masyarakat Minangkabau kembali pada esensi berpikir kritis sebagai modal membangun bangsa.
Di hadapan pengurus baru Gebu Minang Jabar dan ratusan undangan, Rocky Gerung menegaskan bahwa kebudayaan Minangkabau yang kaya adat, falsafah, dan tradisi akan kehilangan daya jika tidak dihidupkan oleh pikiran yang merdeka.
“Bukan budayanya yang menyelamatkan kita, tapi pikirannya. Kalau budaya diulang tanpa pikiran, dia jadi ritual kosong. Minangkabau besar karena tradisi berpikirnya: bertanya, merantau, berdialog, dan berfilsafat,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Ia menyoroti falsafah “Alam takambang jadi guru” sebagai contoh konkret bagaimana masyarakat Minang sejak dulu dilatih berpikir, membaca alam, dan menarik kesimpulan. Menurutnya, inilah yang harus dihidupkan kembali di era digital agar generasi muda tidak terjebak dalam budaya ikut-ikutan tanpa nalar.
Rocky mendorong Gebu Minang Jawa Barat tidak hanya menjadi wadah silaturahmi dan pelestarian adat, tetapi juga “rumah berpikir” bagi perantau Minang di tanah Sunda.
“Surau dulu adalah tempat orang berdebat gagasan sampai subuh. Kalau Gebu bisa menghidupkan kembali surau-surau intelektual itu, maka perantau Minang di Jabar akan jadi kekuatan besar, bukan hanya secara ekonomi tapi juga gagasan,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tradisi musyawarah dan mufakat tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi budaya berpikir bersama dalam menyelesaikan persoalan sosial, pendidikan, hingga politik.
Ketua Gebu Minang Jabar terpilih menyampaikan apresiasi atas pesan Rocky Gerung. Ia menilai pidato itu relevan untuk memandu arah organisasi ke depan.
“Kami ingin Gebu Jabar tidak sekadar merayakan budaya, tapi juga melahirkan pemikir-pemikir muda yang berani bersuara untuk bangsa. Pesan Pak Rocky jadi pengingat bahwa merantau tanpa berpikir kritis hanya akan membuat kita kehilangan jati diri,” ungkapnya.
Pelantikan ditutup dengan diskusi interaktif antara Rocky Gerung dan peserta, membahas peran filsafat Minangkabau dalam menghadapi tantangan zaman. Suasana dialog yang cair menunjukkan bahwa gagasan “pikiran di atas budaya” benar-benar menggugah semangat hadirin.
Pidato Rocky Gerung diharapkan menjadi titik awal Gebu Minang Jabar memperkuat identitas budaya dengan fondasi berpikir kritis, sehingga kontribusi perantau Minang di Jawa Barat semakin terasa bagi Indonesia. (***)