PONTIANAK, SP – Meminimalkan risiko fatal akibat gigitan ular berbisa di Kalimantan Barat, tim dosen dari Bagian Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK UNTAN) yang terdiri dari Puji Astuti, M.Sc; dr. Sari Eka Pratiwi, M.Biomed; dr. Florean Hartungi, Sp. PD; ?dr. Robert Christeven. Sp. B; dr. Zulfa Khairunnisa Ishan, M.Sc; dan Dr. Hj. Yanieta Arbiastutie, M.Sc., Apt menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada Rabu (29/7/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respon terhadap tingginya kasus gigitan ular di Kalimantan Barat. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mencatat 424 kasus gigitan ular dengan 4 kematian yang terjadi pada periode Desember 2023 hingga Desember 2025.
Berlokasi di Aula Rumah Dinas Walikota Pontianak, acara ini dilaksanakan secara hybrid dengan menggandeng Tim Penggerak PKK Kota Pontianak serta sejumlah mitra strategis.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua Panitia kegiatan, dilanjutkan dengan pembukaan resmi oleh Ketua TP PKK Kota Pontianak, Dr. Hj. Yanieta Arbiastutie, M.Sc., Apt. Kegiatan kolaboratif ini turut didukung oleh mitra pengabdian antara lain Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, RSUD Tuan Besar Syarif Idrus, UPT RSUD Pontianak Utara, dan Perpustakaan Kota Pontianak.
Dipandu oleh dr. Florean Hartungi, Sp.PD, selaku moderator sekaligus anggota tim pengabdian, edukasi ini diikuti oleh 141 tenaga medis dan tenaga kesehatan. Para peserta secara luring (offline) berasal dari berbagai fasilitas kesehatan di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, sementara peserta daring (online) mencakup tenaga kesehatan dari seluruh pelosok Kalimantan Barat.
Kegiatan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas para nakes dalam memberikan penanganan klinis yang tepat dan cepat bagi pasien gigitan ular.
Mencegah Kepanikan Melalui Edukasi Identifikasi dan Tatalaksana
Sesi materi menghadirkan dua pakar ternama di bidangnya. Pemateri pertama, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., ahli dari Laboratorium Sistematika Hewan Fakultas Biologi UGM, menyampaikan materi secara daring mengenai "Keanekaragaman dan Identifikasi Jenis Ular Berbisa di Indonesia".
Ia memaparkan keragaman taksonomi ular berbisa, mulai dari famili Elapidae (seperti Kobra, King Cobra, Weling, dan Ular Cabe), Viperidae (seperti Ular Gadung Luwuk dan Ular Tanah), hingga Colubridae (Ular Picung). Donan menekankan pentingnya identifikasi ilmiah melalui karakter meristik sisik dan letak gigi taring bisa, ketimbang sekadar mengandalkan mitos visual seperti bentuk kepala atau warna tubuh.
Istimewanya, hadir pula Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.EM, satu-satunya dokter spesialis dan konsultan toksinologi ular berbisa di Indonesia. Dalam pemaparannya mengenai "Update Tatalaksana Penanganan Pasien Gigitan Ular", Dr. Tri menguraikan protokol terbaru Kementerian Kesehatan RI.
Ia menekankan alur penanganan pasien mulai dari triase dan uji pembekuan darah (20-Minute Whole Blood Clotting Test / 20WBCT), prosedur pertolongan pertama yang benar melalui teknik imobilisasi (spalk atau pita tekan/PBI), hingga indikasi pemberian Serum Anti Bisa Ular (SABU) serta penanganan komplikasi envenomasi sistemik.
Peluncuran Buku "TRAUMA" untuk Masyarakat Luas
Tidak hanya menyasar para tenaga kesehatan, tim pengabdian masyarakat FK Untan juga meluncurkan buku panduan edukatif berjudul "TRAUMA". Buku ini disusun khusus sebagai panduan praktis bagi masyarakat umum dalam menghadapi dan memberikan pertolongan pertama pada kasus gigitan ular. Selain itu, buku TRAUMA juga menjadi pedoman dalam pertolongan pertama pada luka.
Sebagai langkah awal penyebaran informasi, buku "TRAUMA" diserahkan secara simbolis kepada mitra Perpustakaan Kota Pontianak. Ke depannya, buku ini direncanakan akan didistribusikan ke berbagai jaringan perpustakaan di seluruh Kota Pontianak agar dapat diakses dengan mudah oleh warga masyarakat. (*)