PONTIANAK, SP – Kreativitas guru di Kalimantan Barat (Kalbar) terus berkembang, bahkan di tengah keterbatasan sarana dan fasilitas pendidikan. Hal itu terlihat dalam Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) yang digelar Pengurus Provinsi PGRI Kalbar di Kota Singkawang, sebagai bagian dari rangkaian Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Guru (Porsenijar) PGRI 2026.
Sebanyak 12 guru dan tenaga kependidikan dari 12 kabupaten/kota ambil bagian dalam ajang tersebut. Mereka datang membawa beragam karya inovatif yang menggabungkan materi pembelajaran dengan teknologi tepat guna, potensi daerah, hingga persoalan lingkungan di sekitar sekolah.
Peserta berasal dari Kabupaten Sanggau, Kapuas Hulu, Sekadau, Melawi, Sintang, Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Sambas, Landak, Bengkayang, serta Kota Singkawang.
Dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, hanya peserta dari Kota Pontianak dan Kabupaten Mempawah yang tidak hadir pada hari perlombaan. Sementara itu, guru dari daerah yang memiliki jarak tempuh cukup jauh, seperti Kapuas Hulu, Sintang, dan Melawi, tetap datang ke Singkawang untuk mempresentasikan karya mereka.
Di hadapan dewan juri, para peserta tidak hanya menjelaskan konsep inovasi, tetapi juga memperlihatkan alat peraga dan melakukan demonstrasi langsung.
Kesungguhan itu tampak dari berbagai perlengkapan yang dibawa, mulai dari kompor untuk mempraktikkan alat penyuling air hingga replika mesin berbahan kayu yang dibuat menyerupai bentuk aslinya karena peralatan sebenarnya tidak memungkinkan dibawa ke lokasi lomba.
Ketua PGRI Provinsi Kalbar, Muhamad Firdaus, mengatakan Inobel menjadi wadah bagi guru untuk menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran dapat lahir dari mana saja, termasuk sekolah di daerah terpencil.
“Guru Kalbar tidak kalah dengan guru dari daerah lain. Hari ini kita melihat sendiri, dengan keterbatasan sarana, mereka mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan siswa. PGRI akan terus mendorong dan memfasilitasi guru-guru seperti ini,” ujarnya.
Menurut Firdaus, kreativitas dan kemampuan guru dalam mengembangkan metode pembelajaran perlu terus didukung agar dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.
Sekretaris Umum PGRI Kalbar, Suherdiyanto, berharap inovasi yang ditampilkan dalam perlombaan dapat menjadi praktik baik yang diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah.
“Inovasi ini jangan berhenti di ruang lomba. Kami berharap praktik baik para peserta dapat dibagikan dan diterapkan oleh rekan-rekan guru di kabupaten masing-masing, sehingga dampaknya dirasakan lebih banyak siswa,” katanya.
Salah satu dewan juri, Dedi Irwan, juga mengapresiasi antusiasme peserta. Menurutnya, para guru menunjukkan kreativitas dan kerja keras dalam menyiapkan karya, termasuk mereka yang harus menempuh perjalanan jauh menuju Singkawang.
“Terlepas dari tantangan dan jarak tempuh yang jauh ke Singkawang, hal itu tidak menyurutkan mereka untuk menampilkan yang terbaik,” tuturnya.
Beragam inovasi yang ditampilkan memperlihatkan upaya guru menghubungkan materi pelajaran dengan kebutuhan dan potensi lingkungan sekitar.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah mesin pencacah daun purik atau kratom yang dikembangkan Sri Widarti, guru SMA Negeri 1 Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Melalui pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL) dengan pendekatan STEAM, siswa diajak mempelajari materi hubungan roda setali dengan merancang bagian-bagian mesin. Alat tersebut mampu memisahkan daun dari batang serta menghasilkan tiga tingkat cacahan, yakni agak kasar, sedang, dan halus.
Dari Kabupaten Ketapang, Asim Setiadi menghadirkan alat desalinasi yang dapat mengubah air asin menjadi air tawar. Inovasi tersebut dikembangkan melalui pembelajaran materi siklus air. Bahkan, dewan juri telah mencoba langsung air hasil penyulingan tersebut.
“Dewan juri sudah mencoba langsung air hasil sulingannya, dan benar-benar menjadi air tawar,” ungkap Dedi.
Inovasi sains dan teknologi juga ditampilkan Betzy Carolin dari Sepauk, Kabupaten Sintang. Ia memanfaatkan sistem hidrolik berbahan alat suntik untuk mengajarkan materi fisika dan robotika. Bersama siswa, Betzy membuat sejumlah miniatur, mulai dari jembatan hidrolik, parkir mobil hidrolik, hingga ekskavator.
Sementara itu, Teguh Sebtu Udin dari Kota Singkawang mengembangkan media pembelajaran digital bagi siswa SMK untuk praktik menangani pemesanan tiket pesawat melalui telepon. Aplikasi tersebut memungkinkan siswa berlatih menerima pesanan sekaligus menghadapi berbagai skenario dalam proses pelayanan.
Arif Supriyadi dari Kabupaten Sanggau turut menghadirkan website pembelajaran biologi yang membahas materi enzim dan metabolisme.
Dari Kabupaten Kayong Utara, Muh Khamid, guru SMA Negeri 3 Simpang Hilir, mengembangkan Proyek Duta Hutan. Inovasi pembelajaran geografi tersebut mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa.
Adapun Mila Sopiana dari Kabupaten Landak menghadirkan pembelajaran fermentasi dengan memanfaatkan kulit nanas. Peserta lainnya menampilkan inovasi bertema teknologi tepat guna dan solusi sains untuk lingkungan, termasuk pengolahan minyak jelantah menjadi sabun.
Beragam karya tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kreatif tidak selalu harus bergantung pada teknologi canggih atau fasilitas yang lengkap. Potensi alam, persoalan lingkungan, serta kebutuhan masyarakat dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru untuk menciptakan metode belajar yang lebih aplikatif.
Melalui Inobel Porsenijar PGRI 2026, PGRI Kalbar berharap karya-karya peserta tidak hanya menjadi kebanggaan dalam perlombaan, tetapi juga dapat dikembangkan dan dibagikan kepada guru lainnya. Dengan begitu, inovasi yang lahir dari ruang kelas dapat memberikan manfaat lebih luas bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kalbar.(din)