Ponticity post authorelgiants 12 Mei 2026

Satu Kasus Virus Hanta Terkonfirmasi di Kalbar

Photo of Satu Kasus Virus Hanta Terkonfirmasi di Kalbar

PONTIANAK, SP – Sekda Kalbar Harisson, membenarkan adanya satu kasus terkonfirmasi virus Hanta di Kalbar. Kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah setelah sebelumnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis data nasional terkait penyebaran virus Hanta di Indonesia.

Berdasarkan laporan resmi Kementerian Kesehatan RI melalui kanal media sosialnya, tercatat sebanyak 23 kasus virus Hanta telah terkonfirmasi di Indonesia dan satu di antaranya berasal dari Kalimantan Barat.

“Iya, ditemukan satu kasus virus Hanta di Kalbar, ini berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes Provinsi, salah satunya  Kalimantan Barat,” ujar Harisson, Selasa (12/5).

Ia menjelaskan, kasus tersebut telah ditangani sesuai prosedur penanganan penyakit zoonosis dan standar operasional yang berlaku dari Kementerian Kesehatan.

Menurut Harisson, pasien yang terkonfirmasi virus Hanta sempat menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kalbar sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Pasien ini sempat dirawat sehari di rumah sakit. Masuk pada 2 Maret 2026 dan dinyatakan meninggal pada 3 Maret 2026,” katanya.

Ia mengungkapkan, saat tiba di rumah sakit kondisi pasien sudah sangat buruk. Pasien mengalami ikterik atau tubuh menguning, tidak mengeluarkan urine (anuri), serta mengalami demam tinggi yang telah berlangsung selama empat hari sebelum mendapatkan penanganan medis.

“Pasien datang ke rumah sakit dalam keadaan umum yang jelek, sudah terjadi ikterik dan anuri serta demam tinggi,” jelasnya.

Harisson mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Hanta dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun lingkungan yang berpotensi terkontaminasi.

Ia juga meminta masyarakat lebih memperhatikan kebersihan makanan dan minuman agar tidak terpapar air liur, urine, maupun kotoran tikus yang menjadi media penularan hantavirus.

“Menutup makanan atau minuman agar tidak terkontaminasi oleh liur tikus, air kencing, atau kotoran tikus sangat penting dilakukan,” ujarnya.

Harisson menerangkan, penanganan virus Hanta berfokus pada deteksi dini, isolasi pasien, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan sebagai sumber penularan.

“Penanganan virus Hanta mengacu pada SOP Kementerian Kesehatan dan tata laksana infeksi zoonosis. Fokusnya pada deteksi dini, isolasi, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan dan tikus sebagai sumber penularan,” terangnya.

Ia menjelaskan, pasien yang dicurigai terinfeksi hantavirus umumnya mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual muntah, sesak napas, gangguan ginjal, hingga memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan tercemar.

Dalam proses penanganan, tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan riwayat paparan, pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan laboratorium, hingga skrining PCR atau serologi apabila tersedia.

Meski sebagian besar jenis hantavirus tidak mudah menular antarmanusia, Harisson menegaskan fasilitas kesehatan tetap menerapkan SOP kewaspadaan secara ketat.

Pasien dengan kondisi berat ditempatkan di ruang isolasi, sementara tenaga medis diwajibkan menggunakan alat pelindung diri seperti masker N95, sarung tangan, pelindung mata, hingga gown atau hazmat sesuai tingkat risiko.

“Penerapan kebersihan tangan yang ketat serta disinfeksi ruangan dan alat medis juga menjadi bagian penting dalam penanganan,” katanya.

Selain itu, seluruh fasilitas kesehatan diwajibkan melaporkan kasus suspek maupun terkonfirmasi kepada dinas kesehatan guna mendukung proses surveilans dan pelacakan paparan lingkungan.

Pemerintah juga terus mengedukasi masyarakat agar menjaga sanitasi lingkungan, rutin mencuci tangan, menghindari kontak dengan tikus, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah terpapar lingkungan yang tercemar. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda