PONTIANAK, SP - Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak mengizinkan pihak sekolah menyelenggarakan acara perpisahan. Namun acara tersebut harus dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan konsep yang sederhana.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyerukan agar seluruh sekolah menyelenggarakan acara perpisahan secara sederhana agar tidak memberatkan orang tua siswa.
Imbauan ini bukan semata-mata soal efisiensi, tapi menyentuh substansi, yakni meringankan beban finansial orang tua dan menanamkan nilai kesederhanaan kepada peserta didik.
"Perpisahan sekolah sebaiknya dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan kegiatan simbolis, seperti upacara. Tidak perlu diadakan di hotel atau tempat mewah yang memerlukan biaya besar, karena tidak semua orang tua mampu,” tegas Edi Rusdi Kamtono, kemarin.
Nada tegas Edi mencerminkan kegelisahan yang barangkali dirasakan banyak orang tua setiap akhir tahun ajaran, dimana acara perpisahan sekolah kerap menjelma menjadi ajang gengsi dan simbol status sosial.
Pemkot Pontianak tak melarang sekolah menggelar perpisahan, namun mencoba menarik rem darurat agar acara perpisahan kembali ke nilai esensial pendidikan, yakni kebersamaan dan bukan kemewahan.
Edi menegaskan, meski bersifat imbauan, namun pihaknya tidak akan tinggal diam jika ada pelanggaran.
“Jika ada laporan atau aduan terkait pelanggaran imbauan ini, kami akan memberikan sanksi sesuai ketentuan,” ujarnya.
Sikap ini menyatu dengan komitmen lebih besar dari Pemkot Pontianak dalam membenahi wajah pendidikan. Sebelumnya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025, Edi telah menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar warga negara yang wajib dipenuhi negara.
“Pemkot Pontianak tengah membenahi infrastruktur pendidikan, termasuk penambahan unit sekolah dan ruang kelas baru, serta mengusulkan pembangunan Sekolah Rakyat,” tuturnya.
Imbauan terkait perpisahan sekolah ini pun dilihat sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada pembentukan karakter generasi muda.
Dengan cara ini, Pemkot Pontianak berupaya mengikis potensi diskriminasi akibat kesenjangan ekonomi di ruang-ruang pendidikan.
Dengan menyederhanakan perpisahan sekolah, pemerintah ingin mengembalikan makna acara tersebut, yakni sebuah penanda perjalanan belajar, bukan parade kemewahan. Nilai-nilai kebersamaan dan kesederhanaan, harus ditanamkan sejak dini.
“Kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun SDM yang unggul dan berdaya saing,” pungkasnya.
Bukan hanya soal aula dan dekorasi, imbauan ini adalah cermin bahwa Pontianak ingin menjadi kota yang mendidik bukan hanya lewat kurikulum, tapi juga lewat sikap. (din)