Ponticity post author elgiants 28 Agustus 2026

Air PDAM Payau, Harga Galon Naik Dua Kali Lipat, Kemenkes Sebut Udara Pontianak Berbahaya, Kalbar Terkepung Asap Pekat Akibat Karhutla

Photo of Air PDAM Payau, Harga Galon Naik Dua Kali Lipat, Kemenkes Sebut Udara Pontianak Berbahaya, Kalbar Terkepung Asap Pekat Akibat Karhutla

PONTIANAK, SP - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) parah melanda wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Kota Pontianak dan sekitarnya saat ini dalam kondisi terkepung kabut asap pekat dengan jarak pandang (visibility) merosot tajam hingga di bawah satu kilometer.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, saat ini terdapat 2.610 hotspot (titik panas) dan 64 firespot (titik api) di Kalbar.

Secara nasional, total luas lahan terbakar telah mencapai 72.798 hektare, dengan Provinsi Kalbar mencatatkan dampak terluas se-Indonesia yakni mencapai 38.310,89 hektare, disusul Riau 16.249,24 hektare, Kalsel 8.019,62 hektare, Kalteng 7.634,46 hektare, Sumsel 1.926,23 hektare, dan Jambi keurang lebih 658,29 hektare.

Kondisi ibu kota Kalbar yang tenggelam dalam pekatnya asap ini juga memicu krisis lingkungan dan kesehatan tingkat lanjut. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kualitas udara di Pontianak berstatus berbahaya karena dampak karhutla.

"Yang masih berbahaya statusnya itu ada di Pontianak, Kalimantan Barat," kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Dante mengatakan kualitas udara di Pontianak sempat tembus lebih dari 300. Data tersebut diambil pada 27 Agustus 2026 pukul 16:25 WIB.

"Kalau berbahaya itu kadarnya lebih dari 300 untuk PM 2.5, partikel molekular yang ukurannya kecil dan berbahaya itu di Pontianak," ungkapnya.

Sebelumnya pada Rabu (26/8/2026) pukul 11.30 WIB, berdasarkan data real-time pantauan alat pengukur kualitas udara IQAir, Kota Pontianak bahkan dinobatkan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk nomor satu di Indonesia dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 660 berbasis polutan partikulat halus PM2.5. Angka tersebut berada jauh di atas ambang batas kategori berbahaya (minimum AQI 300).

Kemenkes juga mencatat secara nasional karhutla berdampak pada 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota dengan populasi terdampak mencapai 5.419.467 orang. Kasus kumulatif Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) periode Juli-Agustus 2026 mencapai 13.449 kasus (dengan 4.082 kasus aktif per 27 Agustus).

Wamenkes menegaskan bahwa paparan PM2,5 berisiko tinggi memicu peradangan saluran napas, asma, hingga gangguan kardiovaskular pada kelompok rentan (anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan).

Kemenkes sebelumnya mencatat kasus ISPA secara kumulatif pada Juli-Agustus 2026 mencapai 13.449 kasus, dengan 4.082 kasus masih tercatat pada 27 Agustus. Wilayah terdampak karhutla mencakup tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota, dengan populasi terdampak mencapai sekitar 5,42 juta orang.

Dante mengatakan paparan PM2,5 dapat menimbulkan peradangan pada saluran pernapasan dan mencetuskan asma, terutama pada masyarakat yang memiliki riwayat asma. Paparan tersebut juga dapat berdampak pada sistem inflamasi di pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular pada kelompok rentan.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus, kata dia, meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, serta pekerja luar ruangan.

Untuk mengurangi dampak kesehatan, Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah dengan kualitas udara berbahaya untuk tidak keluar rumah dan menggunakan masker. Pemerintah juga telah mendistribusikan sekitar 5,3 juta masker ke wilayah terdampak serta menyiapkan oksigen konsentrator dan fasilitas pelayanan kesehatan.  

Krisis Air Bersih

Selain kesehatan, bencana karhutla di musim kemarau ini juga memicu efek domino yang menghantam berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Pasokan air PDAM di Kota Pontianak berubah menjadi payau. Hal ini memicu kelangkaan air bersih bagi warga.

Tingginya permintaan bantuan air bersih akibat dampak krisis air membuat Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalbar kewalahan. PMI Kalbar mengumumkan penutupan sementara pendaftaran permohonan pendistribusian air bersih gratis karena antrean pengantaran telah melebihi batas kapasitas operasional armada serta menyusutnya pasokan sumber air.

Sebelumnya, PMI Kalbar meluncurkan program tanggap darurat dengan jargon "Lapor Kami, Butuh Air Bersih?" yang melayani pendistribusian air konsumsi atau air bersih gratis menggunakan armada truk tangki. Layanan tersebut dapat diakses masyarakat melalui Call Center di nomor 0812 870000 60.

Namun, lonjakan permohonan yang masuk dalam beberapa waktu terakhir membuat kapasitas distribusi terlampaui.

Berdasarkan keterangan resmi pihak admin Call Center Air Bersih PMI Kalbar pada Jumat (28/8/2026), layanan penerimaan permintaan air bersih terpaksa dihentikan sementara karena daftar antrean permintaan air bersih gratis saat ini telah menumpuk dan mencakup lebih dari 100 titik lokasi di wilayah terdampak.

Selain itu, pasokan air bersih yang biasa diambil dan didistribusikan dari anjungan penampungan PMI kini dilaporkan mulai mengering akibat kemarau panjang.

"Mohon maaf untuk saat ini kami sudah off sementara penerimaan permintaan air bersih karena sudah melebihi batas antrian kemampuan pengantaran kami dan antrian saat ini sudah lebih dari 100 lokasi. Dan kondisi air yg kami distribusi dari anjungan juga sudah mulai kering," tulis pihak PMI Kalbar dalam pesan tertulisnya.

Lonjakan permintaan air minum kemasan juga membuat harga air galon di pasaran membengkak hingga dua kali lipat. Warga terpaksa mengantre panjang demi mengamankan pasokan air minum harian di tengah kepungan kabut asap pekat.

Kondisi ini mendorong masyarakat beralih mencari alternatif air minum higienis dengan harga terjangkau di depo-depo isi ulang.

Pemandangan antrean panjang terlihat jelas di Depo Air Isi Ulang Biru yang berlokasi di Jalan Tabrani Ahmad, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, pada Selasa (25/8/2026). Puluhan warga memadati depo tersebut sejak pagi. Masyarakat silih berganti mendatangi lokasi menggunakan kendaraan roda dua hingga roda empat untuk mengisi ulang galon keluarga mereka.

Demi mengamankan cadangan air bersih di rumah, tak sedikit warga yang rela memboyong hingga empat galon kosong sekaligus dalam sekali angkut.

Jarak Pandang

Gangguan operasional penerbangan di Kalbar juga terganggu. Kabut asap pekat memicu penurunan visibility ekstrem hingga di bawah 1.000 meter. Berdasarkan data Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA), kondisi ini mengganggu keselamatan penerbangan akibat risiko penyumbatan filter turbin mesin dan pitot-static tube oleh jelaga asap.

Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, melaporkan bahwa di Bandara Supadio Pontianak dan Bandara Singkawang, terjadi lebih dari 21 gangguan penerbangan yang meliputi keterlambatan (delay), pengalihan rute (divert), hingga pembatalan (cancelation).

Gangguan serupa juga terjadi di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru (Kalsel) dengan jarak pandang tersisa 200 meter, Bandara Iskandar Pangkalan Bun (Kalteng), Jambi, hingga Nabire (Papua Tengah).

Sementara itu, permintaan pembelian masker juga melonjak drastis. Pemilik Apotek Agung Kalbar, Sukamto, mengungkapkan penjualan masker di cabang Pontianak melonjak 300 persen hingga mencapai 500 boks per hari selama dua pekan terakhir.

Namun fenomena kontradiktif justru terjadi di tengah masyarakat. Kendati angka penjualan dan permintaan masker di pasaran mengalami peningkatan pesat, tingkat kesadaran warga untuk memakainya saat beraktivitas di luar rumah terpantau masih sangat minim.

Berdasarkan pantauan di lapangan, masih banyak warga yang lalu lalang di jalan raya maupun area publik tanpa menggunakan alat pelindung diri pernapasan tersebut. Padahal, konsentrasi polutan udara di ibu kota Kalbar ini telah masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan.

Kondisi ini kian menambah daftar panjang dampak sistemik dari bencana kemarau panjang dan karhutla yang saat ini tengah mengepung Kota Pontianak dan sekitarnya.

Sikap abai sebagian masyarakat terhadap penggunaan masker di tengah tingginya ancaman Paparan Partikulat Halus (PM2,5) ini berpotensi memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan kesehatan serius lainnya. (din/tik/ind)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda