Ponticity post author elgiants 30 Juni 2026

Firdaus: Sang Legenda Buser Berambut Gondrong yang Melintasi ‘Empat Alam’ Kepolisian

Photo of Firdaus: Sang Legenda Buser Berambut Gondrong yang Melintasi ‘Empat Alam’ Kepolisian

Bagi pengunjung Warung Kopi Hijas di Kota Pontianak yang belum mengenalnya, sosok pria berkepala plontos ini mungkin akan dikira sebagai seorang pengusaha sukses keturunan Tionghoa atau bos besar tambang emas. Penampilannya nyentrik dan mencolok, lengkap dengan kalung dan gelang berukuran besar dari emas putih yang melingkar di tubuhnya.

Namun, di balik tampilan glamor tersebut, pria ini adalah Kompol (Purn) Firdaus (66). Ia adalah seorang mantan polisi buru sergap (Buser) legendaris yang telah mendedikasikan 35 tahun hidupnya di korps Bhayangkara, menghadapi berbagai kriminalitas jalanan hingga kasus-kasus sadis yang sempat menggemparkan Kalimantan Barat.

Menjelajahi ‘Empat Alam’ Kepolisian

Perjalanan karier Firdaus di kepolisian terbilang sangat langka dan lengkap. Pria kelahiran Mempawah ini memulai pengabdiannya dari bawah hingga berhasil meraih pangkat Perwira Menengah (Pamen).

"Akhirnya saya di kepolisian mendapatkan empat alam: alam tamtama, bintara, alam pama (perwira pertama), dan alam pamen," kenang Firdaus sembari tertawa.

Catatan akademis dan karier Firdaus di kepolisian melintasi jalur yang panjang:

Tahun 1978/1979: Masuk melalui jalur Tamtama dan menempuh pendidikan selama 4 bulan di SPN (Sekolah Polisi Negara) Pontianak.

Tahun 1987 – 1988: Melanjutkan pendidikan Bintara di Banyu Biru, Ambarawa, Jawa Tengah selama 6 bulan.

Tahun 2003 – 2004: Lolos Secapa (Sekolah Calon Perwira) di Sukabumi selama 6 bulan dan resmi menyandang pangkat Perwira Pertama (Pama).

1 Januari 2018: Mendapatkan promosi pangkat Perwira Menengah sebagai Komisaris Polisi (Kompol) sebelum akhirnya pensiun pada Mei 2018.

Era Emas "Zig Zag 64" dan Buser Berambut Gondrong

Nama Firdaus tidak bisa dipisahkan dari sejarah unit buru sergap pertama di Polresta Pontianak yang dikenal dengan kode "Zig Zag 64". Unit ini digagas oleh Kapolres saat itu, yang kelak pensiun dengan pangkat bintang tiga, Irjen Pol (Purn) Imam Sugianto, serta dipimpin oleh Iptu Toto Dewanto sebagai Kanit Buser.

Pada era 1990-an, Kota Pontianak dan Kubu Raya (yang saat itu masih menyatu di bawah Polresta Pontianak) rawan oleh aksi kejahatan jalanan seperti jambret, penodongan, dan modus pecah kaca mobil. Tim Buser yang hanya beranggotakan 12 orang dibagi menjadi dua tim untuk mengover wilayah yang sangat luas, mulai dari Pontianak Barat, Timur, Selatan, Pontianak Kota, hingga Ambawang, Sungai Raya, Kakap, dan Punggur.

Demi tuntutan penyamaran di lapangan, Firdaus dan timnya kala itu diizinkan berambut gondrong.

"Rambut panjang bukan sekadar untuk melawar (gaya-gayaan) atau mejeng, tetapi buktikan hasilnya. Sehingga warga masyarakat Kota Pontianak benar-benar merasa aman dengan terbentuknya Buser," tegas Firdaus.

Mengungkap Kasus Mutilasi hingga Penjahat "Kebal Peluru"

Selama 4 hingga 5 tahun di unit Buser, Firdaus kerap bekerja lebih dari 24 jam mengejar pelaku kejahatan dan penadah. Dua kasus paling fenomenal yang berhasil diungkapnya antara lain:

Kasus Mutilasi Kampung Dalam: Pembunuhan sadis yang menggemparkan di mana tubuh korban dipotong menjadi 6 bagian. Pelaku dan korbannya merupakan sesama waria (pelaku bernama Wati) dengan motif cemburu buta.

Melumpuhkan "Cong Kember CS": Komplotan penjahat sadis asal Punggur yang dikenal kejam di kampungnya sendiri dan diisukan kebal peluru. Firdaus dan tim berhasil melumpuhkannya, yang seketika menurunkan tingkat kriminalitas di daerah PAL secara drastis.

Pembobolan Bank Pemda: Pengungkapan kasus hilangnya uang miliaran rupiah milik bank plat merah daerah.

Roda berputar, setelah lulus dari Secapa Sukabumi, Firdaus kembali ke unit yang membesarkannya tersebut. Namun, kali ini bukan lagi sebagai anak buah, melainkan menjabat sebagai Kanit Buser Polresta Pontianak (Buser 54), bersanding dengan AKP Nardi (Buser 53). Di bawah didikannya, banyak anak buahnya yang kini sukses menjadi Kasat Serse hingga Kapolsek.

Menjaga Darat, Laut, dan Udara

Setelah sukses di ranah kriminal umum, Firdaus ditarik ke Polda Kalbar dan masuk ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Subdit IV. Di sini, ia ditugaskan menangani kejahatan lingkungan dan ekonomi seperti illegal logging, tambang emas ilegal, hingga membasmi jaringan penyelundupan puyak-puyak (timah hitam) asal Ketapang yang marak dikirim ke Bangka Belitung.

Kariernya terus menanjak dengan memegang sejumlah posisi strategis:

Tahun 2013 – 2014: Menjabat sebagai Kapolsek KP3 Pelabuhan Dwikora Pontianak dengan pangkat AKP.

Tahun 2016: Menjabat sebagai Kapolsek Sungai Duri di Polres Bengkayang. Di sini, ia mengukir prestasi menangani kasus pembacokan maut dengan menangkap pelaku di atas jembatan hanya dalam waktu 5 menit setelah kejadian.

Tahun 2018: Menutup karier mulianya di Subdit Binmas Polda Kalbar dengan pangkat Kompol.

Menikmati Masa Pensiun di Warung Kopi

Kini, suami dari Sarifah Yulia Alkadrie tersebut memilih menikmati masa tuanya dengan tenang. Ayah dari tiga anak—yang salah satunya meneruskan jejaknya menjadi anggota Polri—mengaku tidak tertarik untuk terjun ke dunia bisnis atau politik. Menyeruput kopi di kawasan Hijas sembari mengobrol santai adalah rutinitas yang membuatnya bahagia.

Menutup perbincangan dalam momentum Hari Bhayangkara, sang mantan pemburu kriminal ini menitipkan pesan mendalam untuk generasi muda kepolisian:

"Tunjukkan kerja kita di masyarakat, nanti masyarakat yang akan menilai siapa diri kita. Menanam padi tumbuh padi, sesuai amal perbuatan. Apa yang ditabur, itu yang dituai. Jangan berharap dengan manusia, karena yang menilai kita baik atau tidak adalah orang lain, bukan diri kita sendiri."

Penulis: Odi
Editor: Bob

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda