PONTANAK, SP – Ribuan orang memadati Taman Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak, dalam peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat (Kalbar), pada Senin (28/6/2026).
Di tengah khidmatnya upacara mengenang ribuan korban pembantaian Jepang pada 1943-1944 itu, ada satu momen yang menyita perhatian. Seorang pria berdiri cukup lama di depan deretan makam, sesekali menundukkan kepala sambil menahan haru.
Pria itu adalah Hermawan Soewono. Bersama sang adik, Heru Soewono, ia datang bukan hanya untuk mengikuti peringatan tahunan, melainkan menapaki kembali jejak sejarah keluarganya yang menjadi bagian dari salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Kalbar.
Bagi Hermawan, Taman Makam Juang Mandor bukan sekadar situs sejarah. Tempat itu menjadi pengingat bahwa salah satu anggota keluarganya, Saliman Sastro Loekito, turut menjadi korban keganasan tentara pendudukan Jepang.
Di hadapan pusara para tokoh masyarakat, tokoh politik, bangsawan, cendekiawan, ulama, hingga rakyat biasa yang menjadi korban pembantaian, Hermawan mengaku diliputi perasaan yang sulit diungkapkan.
“Ini rasa yang campur aduk. Sedih, bangga, sekaligus berterima kasih. Melihat langsung tempat para pejuang gugur, salah satunya adalah kakek kami bernama Saliman SastroLoekito yang merupakan salah satu kepala sekolah di SDN Kota Singkawang dan juga tokoh masyarakat, rasanya seperti dipanggil untuk tidak melupakan,” ungkap Hermawan dengan suara bergetar.
Menurutnya, kisah pengorbanan para korban Tragedi Mandor tidak boleh berhenti menjadi catatan sejarah semata. Generasi sekarang harus memahami bahwa kedamaian yang dinikmati hari ini lahir dari pengorbanan ribuan orang yang kehilangan nyawa akibat kekejaman perang.
Hermawan mengatakan, keluarganya selama ini terus menjaga cerita tentang sang kakek agar tidak hilang ditelan waktu. Baginya, mengenang para korban bukan sekadar menghormati leluhur, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral agar sejarah kelam itu tidak pernah terulang.
“Sejarah ini harus terus hidup. Anak-anak muda Kalimantan Barat harus tahu bahwa begitu banyak tokoh, guru, ulama, bangsawan, dan masyarakat biasa yang menjadi korban. Jangan sampai mereka hanya mengenal Mandor sebagai nama tempat tanpa mengetahui peristiwa besar yang pernah terjadi di sini,” katanya.
Tragedi Mandor merupakan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Kalimantan Barat. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga 1944, sekitar 21.037 orang dilaporkan menjadi korban pembantaian. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemimpin kerajaan, tokoh masyarakat, kaum intelektual, guru, pemuka agama, hingga masyarakat sipil.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan para korban, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007.
Setiap tahun, peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang jasa para korban sekaligus mengingatkan generasi penerus akan pentingnya menjaga persatuan, kemanusiaan, dan perdamaian.
Bagi Hermawan Soewono, kehadirannya di Mandor tahun ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia merasa seolah sedang menyapa kembali sosok sang kakek yang gugur demi mempertahankan martabat masyarakat Kalimantan Barat.
Di tengah suasana yang hening, ia berharap peringatan Hari Berkabung Daerah tidak hanya menjadi agenda seremonial pemerintah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sejarah bagi generasi muda.
“Kalau kita melupakan sejarah, kita akan kehilangan identitas. Semoga Mandor terus menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga dan tragedi seperti ini tidak boleh pernah terulang lagi,” pungkasnya. (din)