Oleh: Syamsul Kurniawan (Wakil Direktur Pascasarjana, IAIN Pontianak; Ketua Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban PW Muhammadiyah Kalimantan Barat)
PERISTIWA wafatnya Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 segera mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca ketika kuliah di Yogyakarta pada 2001.
Buku itu berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) karya Samuel P. Huntington. Huntington berargumen bahwa konflik utama dunia modern bukan lagi ideologi atau ekonomi, melainkan identitas peradaban.
Dunia, menurut Huntington, terbagi ke dalam blok-blok besar seperti Barat, Islam, Sinik, dan Ortodoks. Ketika ideologi tak lagi dominan, identitas budaya menjadi poros konflik. Di sepanjang “garis patahan” peradaban itulah ia memprediksi benturan akan muncul.
Hubungan Barat dan Islam menjadi salah satu garis patahan yang ia soroti. Kebangkitan peradaban non-Barat dipandang sebagai respons atas dominasi historis Barat. Dalam kerangka itu, ketegangan bukan anomali, melainkan konsekuensi logis.
Kematian Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel segera dibaca dalam narasi besar tersebut. Media pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung dan menyebutnya wafat sebagai martir. Tuduhan diarahkan langsung kepada Washington dan Tel Aviv.
Di pihak lain, operasi militer disebut sebagai langkah preventif. Infrastruktur nuklir Iran diklaim menjadi target utama. Keamanan regional dan perlindungan Israel dijadikan dasar legitimasi.
Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei memimpin Iran dengan sikap tegas terhadap Barat. Ia mempertahankan program nuklirnya di tengah sanksi dan tekanan diplomatik. Dukungan terhadap aktor-aktor regional memperkuat posisi Iran sebagai pemain utama di Timur Tengah.
Bagi Israel, kombinasi retorika keras dan pengembangan militer Iran adalah ancaman eksistensial. Bagi Amerika Serikat, potensi nuklir Iran dinilai mengganggu keseimbangan kekuatan kawasan. Eskalasi yang berujung pada serangan ini bukan peristiwa mendadak, melainkan akumulasi panjang.
Jika mengikuti logika Huntington, peristiwa ini seperti pembenaran atas tesis benturan peradaban. Barat dan dunia Islam kembali dipertemukan dalam konfrontasi terbuka. Simbol agama dan bahasa moral mempertebal batas identitas.
Namun membaca konflik ini hanya sebagai benturan identitas terlalu menyederhanakan. Kritik dari Edward Said relevan untuk diajukan. Dalam Covering Islam (1981), Said menunjukkan bagaimana Islam kerap direpresentasikan sebagai entitas tunggal yang keras dan irasional.
Said menjelaskan permainan kata “covering”. Media Barat “meliput” Islam sebagai berita, tetapi sekaligus “menutupi” keragaman dan kompleksitasnya dengan stereotip. Realitas yang majemuk direduksi menjadi citra yang mudah dipahami dan ditakuti.
Ia mencontohkan bagaimana Krisis Sandera Iran 1979 membentuk persepsi publik Barat tentang Islam. Peristiwa politik spesifik berubah menjadi generalisasi tentang satu peradaban. Di titik itu, pengetahuan dan kekuasaan bertemu.
Said berargumen bahwa produksi pengetahuan tidak pernah sepenuhnya netral. Laporan yang tampak objektif bisa menjadi legitimasi kebijakan luar negeri. Ketika Islam diposisikan sebagai ancaman, tindakan keras menjadi lebih mudah diterima publik.
Maka, pertanyaan mendasar muncul: apakah kematian Khamenei adalah bab benturan peradaban, atau bab persaingan kepentingan? Narasi identitas sering kali menutupi logika strategis yang lebih dingin. Di sinilah analisis perlu diperluas.
Dari Asap Menduga Asal Api
Setiap asap tentu memiliki sumber api. Konflik besar jarang berdiri semata di atas perbedaan keyakinan. Di balik retorika moral dan simbol keagamaan, selalu ada kepentingan material yang bekerja.
Timur Tengah adalah kawasan dengan cadangan energi besar dan jalur perdagangan vital. Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling strategis dalam distribusi minyak global. Stabilitas atau ketidakstabilan Iran berdampak langsung pada ekonomi dunia.
Dalam perspektif Karl Marx (1887), kapitalisme adalah sistem yang memusatkan alat produksi pada segelintir pemilik modal. Logika akumulasi keuntungan mendorong perebutan sumber daya. Skala global memperluas pertarungan itu menjadi geopolitik.
Konsep surplus value menjelaskan bagaimana keuntungan diperoleh dari selisih nilai kerja dan upah. Dalam tataran negara, analoginya adalah selisih antara nilai sumber daya dan kontrol atas distribusinya. Siapa menguasai produksi dan jalur distribusi, ia menguasai keuntungan.
Marx juga berbicara tentang pertentangan kelas yang inheren dalam kapitalisme. Kepentingan memaksimalkan profit berbenturan dengan kepentingan mempertahankan kesejahteraan. Dalam geopolitik, ketimpangan kekuatan menciptakan relasi dominan dan resisten.
Iran di bawah Khamenei memilih posisi resisten terhadap dominasi Barat. Ia menolak integrasi penuh dalam arsitektur keamanan dan ekonomi global yang dipimpin Amerika Serikat. Penolakan itu membuatnya berada dalam orbit tekanan dan sanksi berkepanjangan.
Dari sudut pandang Washington dan Tel Aviv, sikap itu dipandang sebagai ancaman strategis. Program nuklir dan rudal balistik Iran dianggap dapat mengubah keseimbangan kawasan. Serangan militer kemudian diklaim sebagai tindakan pencegahan.
Namun pencegahan selalu membawa risiko eskalasi. Mengganti kepemimpinan bukan berarti menghapus ideologi atau kepentingan nasional suatu negara. Justru, tindakan keras bisa memperkuat narasi perlawanan.
Dengan demikian, asap konflik tidak hanya berasal dari teologi. Ia lahir dari persilangan antara ideologi, keamanan, dan ekonomi. Memahami asal api berarti melihat ketiganya secara bersamaan.
Setelah Khamenei, Iran memasuki fase transisi politik yang sensitif. Mekanisme konstitusional untuk memilih pemimpin baru memang tersedia, tetapi dinamika internalnya kompleks. Arah kebijakan luar negeri Iran bergantung pada konfigurasi kekuatan baru.
Di luar Iran, dunia Islam merespons dengan spektrum yang luas. Ada simpati atas kematian seorang pemimpin, ada pula kritik atas kebijakan konfrontatifnya. Tidak ada suara tunggal yang mewakili keseluruhan umat.
Indonesia memiliki konteks berbeda dari Timur Tengah. Tradisi Islam Indonesia berkembang dalam sistem demokrasi dan pluralitas sosial. Respons publik cenderung menekankan aspek kemanusiaan dan hukum internasional.
Serangan militer sepihak menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi dan standar ganda. Jika prinsip kedaulatan dilanggar, preseden berbahaya dapat tercipta. Negara kecil akan menjadi pihak yang paling rentan.
Dalam membaca peristiwa ini, emosi mudah tersulut oleh simbol dan retorika. Namun analisis yang matang membutuhkan jarak dari euforia dan kemarahan. Konflik global selalu memiliki banyak lapisan.
Setelah Khamenei, dunia tidak otomatis menjadi lebih aman atau lebih berbahaya. Ia hanya bergerak ke fase baru dengan aktor dan kalkulasi berbeda. Stabilitas bergantung pada pilihan politik para pemimpin berikutnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi mendasar. Apakah dunia akan terus membaca konflik sebagai takdir benturan, atau berusaha membongkar asal apinya untuk mencegah kobaran berikutnya. Jawabannya menentukan apakah sejarah akan berulang sebagai tragedi atau berubah arah melalui kesadaran kolektif. (*)