Potret post authorBob 11 Februari 2026

Di Antara Debu Lapangan dan Asa yang Tumbuh: TMMD Reg ke-127 Kodim 1203/Ketapang Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa

Photo of Di Antara Debu Lapangan dan Asa yang Tumbuh: TMMD Reg ke-127 Kodim 1203/Ketapang Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa

KETAPANG, SP - Pagi itu, embun masih menggantung tipis di rerumputan Lapangan Bola Desa Selangkut Raya, Kecamatan Sungai Laur. Langit Ketapang membentang cerah, seolah ikut menyambut langkah-langkah penuh harap yang berkumpul di tengah desa.

Di sanalah, TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-127 Tahun Anggaran 2026 resmi dibuka, Selasa (10/2/2026).

Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, S.Tp., M.Si., berdiri berdampingan dengan Dandim 1203/Ketapang Letkol Inf Abu Hanifah, S.H., M.I.P.

Di hadapan barisan prajurit, aparat, dan masyarakat yang memadati lapangan, keduanya menegaskan satu komitmen yang sama: membangun desa bukan sekadar program, melainkan panggilan pengabdian.

Tema yang diusung, “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”*, bukan sekadar rangkaian kata.

Ia menjadi napas yang menyatukan TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam satu irama gotong royong.

Barisan peserta upacara terdiri dari Batalyon TP 832/Pawan Asasta, Lanal Ketapang, Polres Ketapang, Kodim 1203/Ketapang, serta unsur masyarakat setempat.

Hadir pula Kasi Teritorial Korem 121/Abw dan para tamu undangan lainnya. Namun lebih dari sekadar seremoni, pembukaan itu menjadi penanda dimulainya kerja nyata di tengah denyut kehidupan desa.

Dalam sambutannya, Bupati Ketapang menyampaikan apresiasi atas konsistensi TNI dalam membantu percepatan pembangunan, khususnya di wilayah pedesaan yang masih membutuhkan sentuhan infrastruktur dan penguatan sumber daya manusia.

“TMMD bukan hanya membangun jalan atau rumah, tetapi membangun harapan dan masa depan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Letkol Inf Abu Hanifah selaku Dansatgas TMMD Reguler Ke-127 menegaskan bahwa TMMD adalah wujud kemanunggalan TNI dan rakyat, sebuah ikatan yang tidak lekang oleh waktu.

“Kami hadir bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk menyatu dengan masyarakat. Bersama-sama kita wujudkan desa yang lebih maju dan mandiri,” tegasnya.

Di balik bunyi cangkul dan deru alat kerja yang segera menggema, TMMD Reguler Ke-127 membawa misi besar.

Sasaran fisik mencakup pembukaan dan peningkatan jalan desa, rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), serta pembangunan fasilitas umum yang menjadi kebutuhan mendesak warga.

Bagi masyarakat, jalan bukan sekadar hamparan tanah atau aspal. Ia adalah urat nadi ekonomi. Dengan akses yang lebih baik, hasil kebun lebih mudah dibawa ke pasar, anak-anak lebih aman menuju sekolah, dan layanan kesehatan lebih cepat dijangkau.

Tak hanya pembangunan fisik, TMMD juga menyentuh sisi nonfisik yang tak kalah penting. Penyuluhan wawasan kebangsaan, bela negara, kesehatan, pencegahan stunting, bahaya narkoba, hingga penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Di ruang-ruang pertemuan sederhana dan di bawah tenda penyuluhan, ilmu dibagikan. Di sana, kesadaran ditumbuhkan. Bahwa membangun desa bukan hanya soal beton dan kayu, tetapi juga tentang pengetahuan, karakter, dan semangat kebersamaan.

Manfaat TMMD Reguler Ke-127 pun terasa luas. Program ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, memperbaiki kualitas hunian, serta memperkuat budaya gotong royong yang menjadi jati diri bangsa.

Lebih jauh, ia menjadi bagian dari upaya mempercepat pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Di Desa Selangkut Raya, TMMD bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cerita tentang kolaborasi. Tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa memandang seragam atau latar belakang. Tentang prajurit yang menyatu dengan warga, menanam harapan di setiap jengkal tanah yang dibuka.

Ketika upacara usai dan langkah-langkah mulai bergerak menuju titik-titik pekerjaan, satu hal menjadi jelas: pembangunan tidak selalu dimulai dari kota.

Ia tumbuh dari desa, dari kebersamaan, dari semangat gotong royong, dan dari keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik bisa dibangun bersama.

Dan di bawah langit Ketapang yang pagi itu begitu teduh, asa itu mulai bersemi. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda