Potret post author Kiwi 16 Juli 2026

Saat Jalan Baru Menghidupkan Harapan Warga Perbatasan

Photo of Saat Jalan Baru Menghidupkan Harapan Warga Perbatasan

KAPUAS HULU, SP - Pagi itu, matahari belum benar-benar tinggi ketika Desa Ulak Pauk, Kecamatan Embaloh Hulu, mulai menggeliat dengan cara yang berbeda.

Kabut tipis yang biasanya masih bergelayut di sela pepohonan perlahan menghilang, digantikan langkah-langkah kecil anak-anak yang berlarian menuju pinggir jalan.

Mereka mengenakan seragam sekolah yang rapi, sebagian menggenggam bendera kecil, sebagian lagi hanya menyimpan senyum lebar yang tak putus sejak pagi.

Di depan rumah-rumah kayu yang berdiri sederhana, para orang tua sudah lebih dahulu menunggu. Wajah-wajah yang sehari-hari akrab dengan ladang, sungai, dan jalan tanah itu hari ini memancarkan harapan yang sulit disembunyikan.

Bukan karena pesta. Bukan pula karena perayaan adat. Melainkan karena sebuah harapan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi percakapan di beranda rumah, kini mulai menampakkan wujudnya.

Hari itu, Rabu (15/7/2026), Desa Ulak Pauk menjadi pusat perhatian. Ratusan warga memadati sepanjang jalan menuju Lapangan SD Negeri 06 Apan untuk menyambut pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Perbatasan ke-129.

Mengusung tema "TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa". Program ini secara serentak dibuka di berbagai wilayah kabupaten/kota di Indonesia pada pertengahan 15 Juli hingga 13 Agustus 2026 untuk mengakselerasi pembangunan daerah.

Ketika iring-iringan kendaraan yang membawa Komandan Kodim 1206/Putussibau, Letkol Inf Andreas Prabowo Putro, S.I.Pem., M.I.P., M.Han., bersama Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan dan jajaran Forkopimda memasuki desa, tepuk tangan warga pecah tanpa dikomando.

Dentuman gong, alunan musik tradisional, dan tarian penyambutan menyatu dengan riuh tawa anak-anak yang berusaha melihat lebih dekat para tamu yang datang.

Tidak ada kemewahan. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga.

Keikhlasan sebuah desa yang menyambut harapan. Bagi masyarakat perbatasan seperti Ulak Pauk, jalan bukan sekadar hamparan tanah yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya.

Jalan adalah harapan. Jalan adalah kesempatan. Jalan adalah penentu apakah hasil panen bisa tiba di pasar dengan harga yang layak atau justru rusak sebelum sampai tujuan.

Jalan adalah penentu apakah seorang ibu hamil dapat segera memperoleh pertolongan medis ketika malam tiba. Jalan pula yang menentukan seberapa jauh mimpi anak-anak dapat melangkah menuju sekolah.

Selama bertahun-tahun, masyarakat hidup berdampingan dengan keterbatasan akses. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur yang sulit dilalui. Kendaraan kerap menyerah, sementara warga tak punya banyak pilihan selain berjalan kaki atau menunggu cuaca membaik.

Karena itulah, ketika TMMD hadir membawa rencana pembangunan jalan penghubung antara Desa Ulak Pauk dan Desa Belatung, harapan yang lama terpendam kembali menemukan cahaya.

Mungkin bagi sebagian orang, membangun jalan hanyalah pekerjaan konstruksi. Namun bagi warga di sini, jalan berarti membuka masa depan.

Di hadapan masyarakat yang memenuhi lapangan, Komandan Kodim 1206/Putussibau, Letkol Inf Andreas Prabowo Putro, menegaskan bahwa TMMD bukan hanya tentang membangun fisik.

Lebih dari itu, TMMD adalah membangun kebersamaan. Membangun semangat gotong royong. Membangun keyakinan bahwa negara hadir hingga ke beranda rumah masyarakat perbatasan.

"TMMD adalah wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kami ingin kehadiran TNI benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, baik melalui pembangunan infrastruktur maupun kegiatan pemberdayaan yang mendukung peningkatan kesejahteraan warga," ujarnya.

Kalimat itu sederhana. Namun bagi warga yang selama ini hidup jauh dari hiruk-pikuk kota, kehadiran para prajurit bukan hanya membawa alat berat.

Mereka membawa keyakinan bahwa desa mereka tidak dilupakan.

Senada dengan itu, Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu akan terus mendukung pelaksanaan TMMD sebagai bagian dari percepatan pembangunan di kawasan perbatasan.

Baginya, sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya.

"Infrastruktur yang dibangun diharapkan membuka akses ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik yang semakin baik bagi masyarakat perbatasan," katanya.

Harapan itu tidak hanya berhenti di podium. Usai upacara, Dandim, Bupati, dan jajaran Forkopimda memilih berjalan mendekati warga. Mereka menyapa para tetua adat. Berjabat tangan dengan para petani. Mengobrol dengan ibu-ibu.

Bahkan melayani anak-anak yang dengan malu-malu meminta berfoto bersama. Tak banyak kata yang diucapkan. Tetapi senyum yang saling bertukar seolah menjadi bahasa yang paling mudah dipahami.

Di sudut kerumunan, Zulkarnaen Effendi berdiri memperhatikan suasana.

Sebagai tokoh masyarakat Desa Ulak Pauk, ia mengetahui betul bagaimana sulitnya kehidupan di daerah perbatasan.

Baginya, TMMD bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah jawaban atas doa-doa panjang masyarakat desa.

"Kami bersyukur desa kami dipilih menjadi lokasi TMMD. Jalan yang dibangun akan sangat membantu aktivitas masyarakat, mempermudah pemasaran hasil pertanian, membuka akses pendidikan, dan memudahkan masyarakat menuju fasilitas kesehatan. Kami berharap semangat kebersamaan ini terus terjaga," ucapnya.

Matanya tampak berbinar. Boleh jadi bukan karena pembangunan itu telah selesai. Melainkan karena masyarakat akhirnya memiliki alasan untuk percaya bahwa masa depan bisa berubah.

Selama satu bulan ke depan, desa kecil di perbatasan ini akan menjadi rumah bagi gotong royong. Prajurit TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat akan bekerja berdampingan.

Mereka akan membuka jalan. Memperbaiki fasilitas pendidikan. Merenovasi tempat ibadah. Menggelar penyuluhan kesehatan. Memberikan wawasan kebangsaan. Menguatkan bela negara. Mendorong pelayanan keluarga berencana. Hingga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Semua dilakukan dengan satu tujuan sederhana. Membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Sore nanti, anak-anak itu mungkin kembali bermain di lapangan yang sama.

Mereka belum benar-benar memahami arti kata "infrastruktur", "konektivitas", atau "pemerataan pembangunan".

Yang mereka tahu hanyalah satu hal. Suatu hari nanti, jalan menuju sekolah akan lebih mudah dilalui. Orang tua mereka tak lagi kesulitan membawa hasil panen. Ambulans bisa datang lebih cepat ketika ada yang membutuhkan pertolongan.

Dan desa tempat mereka dilahirkan perlahan akan semakin dekat dengan masa depan. Karena sejatinya, setiap jalan yang dibangun bukan hanya menyambungkan dua desa.

Ia juga menyambungkan harapan. Menghubungkan mimpi. Dan mengingatkan bahwa di ujung utara Kalimantan Barat, di sebuah desa bernama Ulak Pauk, Indonesia terus tumbuh melalui langkah-langkah kecil yang dikerjakan bersama. (mul)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda