SINTANG, SP - Kabut pagi menggantung pelan di atas aliran Sungai Kapuas. Di Kelurahan Kapuas Kanan Hilir, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), hari baru selalu dimulai dengan suara alam: gemerisik daun, kokok ayam, dan percakapan pelan warga yang bersiap ke ladang.
Namun sejak 10 Februari 2026, ada suara lain yang ikut menjadi bagian dari irama desa, deru mesin molen, denting cangkul, dan komando singkat para prajurit.
Mereka datang melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127 Tahun Anggaran 2026. Dipimpin Letkol Inf Zulfikar Akbar Helmi, Komandan Kodim 1205/Sintang, sebanyak 118 personel TNI bergabung bersama 15 anggota Polri, 17 unsur pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.
Selama 30 hari, hingga 11 Maret 2026, mereka melebur dalam satu barisan: membangun dari desa.
Jalan yang Dulu Berlumpur, Kini Menguatkan Langkah
Di sebuah ruas yang dulu hanya tanah merah, kini terbentang rabat beton sepanjang 664 meter. Lebarnya cukup untuk dua kendaraan bersimpangan, tebalnya kokoh menahan beban. Jalan itu bukan sekadar konstruksi; ia adalah nadi yang menghubungkan harapan.
Dulu, ketika hujan turun, anak-anak harus melangkah hati-hati agar tak tergelincir. Petani mendorong sepeda motor penuh hasil panen menembus lumpur. Kini, langkah menjadi lebih ringan. Hasil kebun lebih cepat sampai ke pasar. Sekolah terasa lebih dekat.
“Kalau akses lancar, ekonomi ikut bergerak,” kata Letkol Inf Zulfikar Akbar Helmi, memandang ruas jalan yang hampir rampung. Baginya, pembangunan fisik adalah fondasi kesejahteraan.
Tak jauh dari sana, 10 unit Rumah Tidak Layak Huni direhabilitasi. Dinding yang sebelumnya lapuk kini berdiri tegak. Atap bocor diganti. Lantai yang dulu tanah kini mengeras. Di wajah para pemilik rumah, rasa syukur tak bisa disembunyikan.
Air bersih yang dulu menjadi persoalan juga kini mengalir dari 10 titik sumur bor. Setiap semburan air adalah simbol kehidupan. Ibu-ibu tak lagi berjalan jauh menenteng jeriken. Anak-anak bisa mandi dan belajar dalam kondisi lebih sehat.
Sebanyak 10 unit MCK dibangun untuk memperbaiki sanitasi. Lingkungan dibersihkan dalam tiga kali aksi gotong royong besar. Sungai dirapikan, selokan dibuka, semak dibabat. Desa terasa lebih lapang dan sehat.
Di lahan seluas 5 hektare, prajurit dan petani bekerja berdampingan menguatkan ketahanan pangan. Tanah diolah, bibit dipilih, strategi tanam dibahas bersama. Sebanyak 300 batang pohon ditanam sebagai ikhtiar menjaga keseimbangan alam.
Kepedulian terhadap generasi masa depan pun hadir melalui pembagian 100 paket sembako bagi keluarga terdampak stunting. Bantuan itu sederhana, tetapi sarat makna: negara hadir untuk memastikan anak-anak desa tumbuh kuat.
Penyuluhan yang Menggerakkan Kesadaran
Namun TMMD bukan hanya soal bangunan. Di balai kelurahan, di bawah tenda sederhana, percakapan tentang masa depan desa mengalir hangat.
Penyuluhan pertanian membahas teknik tanam dan pengendalian hama. Penyuluhan kamtibmas mengajak warga menjaga keamanan lingkungan bersama. Dalam penyuluhan narkoba, aparat mengingatkan bahwa ancaman itu bisa menyusup hingga desa.
Penyuluhan wawasan kebangsaan menanamkan nilai cinta tanah air. Penyuluhan kesehatan mengajarkan pola hidup bersih dan pencegahan stunting.
Penyuluhan karhutla mengingatkan bahaya kebakaran hutan dan lahan yang bisa merusak kehidupan. Bahkan penyuluhan judi online digelar, agar masyarakat waspada terhadap jerat ekonomi digital yang menyesatkan.
Semua berlangsung dalam suasana dialog. Prajurit duduk sejajar dengan warga. Tidak menggurui, melainkan mendengar dan berbagi.
Yenni Yunita, Lurah Kapuas Kanan Hilir, menyebut program ini sebagai pembangunan dari hati. “Kami tidak hanya menerima jalan atau rumah. Kami menerima pencerahan,” ujarnya lirih.
Ia melihat perubahan itu nyata. Remaja mulai berbicara tentang cita-cita menjadi tentara. Para ibu lebih sadar pentingnya gizi. Warga semakin peduli menjaga lingkungan.
Sinergi yang Menguatkan Desa
Saat pembukaan TMMD digelar, Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, menegaskan bahwa program ini selaras dengan visi pembangunan daerah: masyarakat yang maju, sejahtera, berkualitas, dan berkelanjutan. Ia berharap TMMD menjadi pemantik kolaborasi antara pemerintah, TNI, dan rakyat.
Dukungan legislatif pun mengalir, memperkuat keberlanjutan pembangunan. Semua menyadari, desa adalah fondasi bangsa.
Lebih dari Sekadar Angka
Di balik angka-angka capaian, 664 meter jalan, 10 RTLH, 10 sumur bor, 10 MCK, 300 pohon, 5 hektare lahan, 100 paket sembako, tiga kali aksi bersih lingkungan, ada cerita yang lebih dalam.
Tentang prajurit yang membantu seorang nenek memanggul kayu. Tentang anak-anak yang tertawa saat diajak bermain oleh anggota Satgas. Tentang makan siang sederhana yang disantap bersama di teras rumah warga.
Cuaca yang berubah-ubah, medan yang tak selalu ramah, dan keterbatasan fasilitas tak menyurutkan langkah. Kepemimpinan Letkol Inf Zulfikar Akbar Helmi menjaga semangat tetap menyala.
“Kami ingin masyarakat mandiri setelah TMMD selesai,” katanya.
Kini, menjelang akhir pelaksanaan, jalan itu telah mengeras. Air terus mengalir. Rumah-rumah berdiri lebih layak. Pohon-pohon muda mulai tumbuh.
Namun yang paling penting, semangat gotong royong telah kembali berakar. Di tepian Kapuas, kisah ini akan terus dikenang, tentang prajurit yang datang bukan hanya membawa pembangunan, tetapi juga harapan.
Tentang desa yang tak lagi merasa sendiri. Tentang negeri yang dibangun dari pinggiran, dengan hati yang tulus dan tangan yang bekerja bersama. (*)