Info Anda post author Kiwi 24 Juli 2026

Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Photo of Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Sukses Gelar Berbagai Agenda Nasional dan Internasional di Kampus Hijau

PONTIANAK, SP - Internasionalisasi menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A.

Selama dua periode memimpin, yakni 2018-2022 dan 2022-2026, Prof. Syarif berhasil membawa IAIN Pontianak menjadi tuan rumah berbagai forum akademik bertaraf nasional maupun internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemimpin perguruan tinggi, tokoh agama, praktisi, hingga mahasiswa dari berbagai negara.

Komitmen tersebut diwujudkan tidak hanya melalui perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan berbagai negara lainnya, tetapi juga melalui penyelenggaraan konferensi internasional, kuliah umum internasional (international guest lecture), seminar nasional dan internasional, forum moderasi beragama, diskusi akademik, hingga berbagai program kolaborasi lintas negara.

Selama dua periode kepemimpinannya, IAIN Pontianak juga dipercaya menjadi tuan rumah berbagai agenda strategis yang melibatkan Kementerian Agama RI, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), pemerintah daerah, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), perguruan tinggi umum, hingga berbagai organisasi profesi akademik.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi besar Prof. Syarif untuk meningkatkan reputasi akademik kampus, memperkuat jejaring kelembagaan, meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi, sekaligus mempersiapkan transformasi IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN).

Sukses Gelar KAIB XVI

Salah satu capaian paling membanggakan adalah suksesnya penyelenggaraan Konferensi Antarbangsa Islam Borneo (KAIB) XVI pada 9 September 2025 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar).

Forum ilmiah internasional tersebut terselenggara atas kerja sama IAIN Pontianak dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Sarawak, Malaysia, dan dihadiri delegasi dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, serta sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.

Mengusung tema "Penguatan Peradaban Islam di Era Transformasi Digital dan Tantangan Global", konferensi itu menjadi ruang bertemunya para akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi untuk mendiskusikan masa depan pendidikan Islam, penguatan moderasi beragama, transformasi digital, hingga tantangan sosial budaya masyarakat Muslim.

Keberhasilan penyelenggaraan KAIB XVI melengkapi sederet agenda nasional dan internasional lain yang berlangsung selama kepemimpinan Prof. Syarif, antara lain International Guest Lecture bersama akademisi mancanegara, seminar internasional moderasi beragama, International Conference on Islamic Studies, forum kolaborasi penelitian lintas negara, student exchange, visiting professor, penandatanganan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri, seminar nasional pendidikan Islam, kuliah umum menghadirkan menteri dan tokoh nasional, forum pengembangan kurikulum, pelatihan peningkatan kapasitas dosen, hingga berbagai kegiatan akademik berskala nasional yang melibatkan PTKIN se-Indonesia.

Di bidang kerja sama internasional, IAIN Pontianak juga memperluas kemitraan dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM), Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), serta sejumlah perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penelitian bersama, publikasi ilmiah internasional, pertukaran mahasiswa dan dosen, pengembangan kurikulum, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Internasionalisasi Tingkatkan Mutu Akademik

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Pontianak, Dr. Ali Hasmy, M.Si., mengatakan internasionalisasi yang dibangun selama kepemimpinan Prof. Syarif merupakan strategi jangka panjang untuk meningkatkan mutu akademik sekaligus memperluas daya saing institusi.

"Selama dua periode kepemimpinan Prof. Syarif, internasionalisasi tidak dimaknai hanya sebagai penandatanganan nota kesepahaman dengan perguruan tinggi luar negeri. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kerja sama itu ditindaklanjuti melalui penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, kuliah umum internasional, visiting professor, hingga publikasi ilmiah bereputasi internasional. Semua itu menjadi bagian dari peningkatan kualitas akademik IAIN Pontianak," ujarnya.

Menurut Ali Hasmy, berbagai konferensi nasional maupun internasional telah membuka ruang kolaborasi yang semakin luas bagi dosen dan mahasiswa.

"Kami ingin sivitas akademika memiliki pengalaman akademik bertaraf global. Ketika dosen dan mahasiswa berinteraksi dengan ilmuwan dari berbagai negara, terjadi pertukaran pengetahuan, penguatan jejaring riset, sekaligus peningkatan kualitas pembelajaran di kampus."

Ia menambahkan, berbagai agenda ilmiah berskala internasional tersebut menjadi modal penting dalam proses transformasi IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri.

Penguatan Tata Kelola Kampus

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan IAIN Pontianak, Dr. Cucu, M.Ag., menilai keberhasilan kampus menjadi penyelenggara berbagai agenda nasional maupun internasional tidak terlepas dari pembenahan tata kelola yang dilakukan secara konsisten.

"Selama kepemimpinan Prof. Syarif, pembenahan tata kelola dilakukan secara menyeluruh. Digitalisasi layanan administrasi, peningkatan sarana dan prasarana, penguatan sistem perencanaan serta pengelolaan anggaran menjadi fondasi agar IAIN Pontianak mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan nasional maupun internasional dengan standar yang semakin baik."

Menurutnya, semakin banyaknya kegiatan nasional dan internasional menunjukkan meningkatnya kepercayaan berbagai institusi kepada IAIN Pontianak.

"Kepercayaan berbagai institusi nasional dan luar negeri kepada IAIN Pontianak terus meningkat. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya kerja sama, kunjungan akademik, hingga penyelenggaraan kegiatan berskala internasional yang dipercayakan kepada kampus ini."

Mahasiswa Mendapat Manfaat Langsung

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Pontianak, Prof. Dr. Ismail Ruslan, S.Ag., M.Si., mengatakan internasionalisasi yang dijalankan kampus memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kapasitas mahasiswa.

"Mahasiswa memperoleh kesempatan yang jauh lebih luas untuk mengikuti seminar internasional, student mobility, pertukaran budaya, kompetisi ilmiah, hingga membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai negara. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membentuk lulusan yang memiliki wawasan global."

Menurutnya, Prof. Syarif selalu menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dalam proses transformasi kampus.

"Beliau mendorong agar mahasiswa tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi, pengabdian kepada masyarakat, kewirausahaan, dan berbagai forum internasional. Kampus memberikan ruang yang luas agar mahasiswa berkembang menjadi lulusan yang adaptif terhadap perubahan zaman."

Mendorong Budaya Mutu

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Pontianak, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd., mengatakan penyelenggaraan berbagai agenda nasional dan internasional memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan mutu institusi.

"Setiap konferensi internasional, seminar nasional, maupun kerja sama akademik merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu berkelanjutan. Kegiatan tersebut memperkuat indikator kinerja perguruan tinggi, mulai dari penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, hingga peningkatan kualitas pembelajaran."

Menurutnya, budaya mutu yang dibangun selama kepemimpinan Prof. Syarif berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan.

"Internasionalisasi menjadi salah satu instrumen penting dalam peningkatan mutu. Semakin luas jejaring akademik yang dimiliki kampus, semakin besar pula peluang kolaborasi riset, publikasi internasional, serta peningkatan reputasi kelembagaan."

Ruang Dialog Peradaban

Kepala Pusat Moderasi Beragama (PMB) IAIN Pontianak, Faisal Abdullah, M.Si., mengatakan penyelenggaraan KAIB XVI memiliki makna strategis karena mempertemukan berbagai perspektif keilmuan dari lintas negara untuk membahas isu-isu kebangsaan, keislaman, dan kemanusiaan yang berkembang di era digital.

"KAIB bukan sekadar forum akademik untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi menjadi ruang dialog peradaban. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, kita membutuhkan ruang bersama untuk merumuskan bagaimana nilai-nilai Islam yang moderat tetap menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadaban."

Menurut Faisal, perkembangan teknologi informasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama.

"Karena itu perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menghadirkan narasi tandingan yang berbasis ilmu pengetahuan, moderasi beragama, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. KAIB menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat misi tersebut."

Ia menambahkan bahwa forum internasional juga meningkatkan kualitas akademik dosen dan mahasiswa melalui kolaborasi penelitian, publikasi internasional, serta jejaring akademik global.

"Internasionalisasi bukan sekadar menghadirkan peserta dari luar negeri, tetapi membangun ekosistem akademik yang terbuka, kolaboratif, dan mampu menghasilkan pemikiran yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Itulah yang terus dibangun IAIN Pontianak."

Diplomasi Akademik dari Pontianak

Keberhasilan menjadi penyelenggara berbagai agenda nasional dan internasional semakin mempertegas posisi IAIN Pontianak sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang terus berkembang di Indonesia.

Kampus tidak hanya berhasil meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga memperluas diplomasi pendidikan, memperkuat jejaring global, meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah, serta melahirkan berbagai kolaborasi riset yang berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Selama dua periode kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., wajah IAIN Pontianak berubah dari perguruan tinggi yang dikenal di tingkat regional menjadi institusi yang semakin diperhitungkan dalam percaturan akademik nasional maupun internasional. Berbagai forum ilmiah yang sukses digelar menjadi bukti bahwa Kampus Hijau mampu tampil sebagai pusat dialog intelektual, pengembangan moderasi beragama, dan penguatan peradaban Islam di kawasan Borneo.

Transformasi tersebut menjadi fondasi penting menuju cita-cita besar menjadikan IAIN Pontianak beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang unggul, moderat, adaptif terhadap perkembangan global, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta kearifan lokal Kalimantan Barat. Dari Pontianak, diplomasi akademik terus dibangun untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan tinggi Islam Indonesia di tingkat dunia. (aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda