Alamak, Bahasa Babi Sukses Diterjemahkan Ilmuwan!

Photo of Alamak, Bahasa Babi Sukses Diterjemahkan Ilmuwan! SELEBRITI BABI- Seekor babi yang tersenyum menjadi selebriti online setelah diselamatkan dari banjir di wilayah otonomi Guangxi Zhuang, China. [Foto/China Daily)

BAHASA babi berhasil diterjemahkan. Tapi  tentunya para ilmuwan di Kopenhagen, Ibukota Denmark ini, tidak menggunakan Google Translate, melainkan melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Maka,  jangan heran jika si mamalia tak tahu jika 'rahasia' mereka selama ini bisa terbongkar oleh manusia yang juga banyak yang suka memangsa mereka.

Jadi, andai seekor babi menyeringai sambil mendengus  'ngumaka pasang telinga Anda.  Bisa jadi,  artinya: 'Bener-bener deh gue kekenyangan'.

Atau juga ketika si babi bersuara 'grook' panjang-panjang bernada tinggi, rada-rada emosionalah, maka ini juga bisa berarti: 'Heran aku, kok aku mau dibikin bipang sama si bos?'

Percaya atau tidak, beginilah setidaknya 'kode-kode' dari dengusan atau gerutuan babi,  yang diyakini mewakili suasana hati mamalia ini.

Juga  termasuk ketika si babi remaja sedang jatuh cinta, patah hati, atau terlibat tawuran antaranak babi atau 'antarremaja' babi.

Suara-suara  'grook' dan 'nguik' mereka beda-beda tipis artinya dengan teriakan pelajar yang tawuran.

Dilansir dari The Guardian, Senin, 7 Maret 2022,  semua ini bisa dilakukan karena para ilmuwan melibatkan teknologi kecerdasan buatan.

AI ini juga bisa membuat mamalia -yang kerap dijadikan menu babi panggang (bipang)- ini mengalahkan manusia di video game atau catur.

Para ilmuwan percaya bahwa penerjemah 'bahasa' babi dengan menggunakan AI, dapat digunakan untuk secara otomatis memantau kesejahteraan hewan.

Juga,  teknologi  ini dapat membuka jalan untuk perawatan ternak yang lebih baik di peternakan dan di tempat lain.

Algoritma Gerutuan Babi

“Kami telah melatih algoritme untuk memecahkan kode gerutuan babi,” kata Dr Elodie Briefer, pakar komunikasi hewan yang ikut memimpin penelitian di Universitas Kopenhagen.

“Sekarang,  kami membutuhkan seseorang yang ingin mengembangkan algoritme menjadi aplikasi yang dapat digunakan petani untuk meningkatkan kesejahteraan hewan mereka," lanjutnya.

Bekerja dengan suatu tim  internasional, Briefer melatih jaringan saraf untuk mempelajari apakah babi mengalami emosi positif, seperti kebahagiaan atau kegembiraan.

Atau juga emosi negatif, seperti ketakutan dan kesusahan, dengan menggunakan rekaman audio dan data perilaku dari babi dalam situasi yang berbeda, sejak lahir sampai mati.

Menulis di jurnal Scientific Reports, para peneliti menggambarkan bagaimana mereka menggunakan AI untuk menganalisis tanda akustik dari 7.414 panggilan babi yang direkam dari lebih dari 400 hewan.

Sementara sebagian besar rekaman ini berasal dari peternakan babi, dan yang lain berasal dari kandang eksperimental di mana babi diberi mainan, makanan, dan benda asing untuk dijelajahi dan dijelajahi.

Para ilmuwan menggunakan algoritme untuk membedakan panggilan yang terkait dengan emosi positif dari yang terkait dengan emosi negatif.

Suara-suara yang berbeda mewakili emosi di seluruh spektrum dan mencerminkan situasi positif.

Misalnya, ketika babi berkerumun dengan temannya,  disusui indknya, berlarian dan berkumpul kembali dengan keluarga.

Bahkan hingga ke situasi negatif,  mulai dari tawuran antaranak babi, mengamuk, pengebirian,  dan suara si babi selama menunggu di rumah potong hewan.

Para peneliti menemukan bahwa ada lebih banyak jeritan bernada tinggi dalam situasi negatif.

Namun, gerutuan pendek pada umumnya merupakan tanda kepuasan babi.

“Ada perbedaan yang jelas dalam panggilan babi ketika kita melihat situasi positif dan negatif,” kata Briefer.

“Dalam situasi positif, panggilan jauh lebih pendek, dengan fluktuasi kecil dalam amplitudo. Suara gerutuan, lebih khusus, mulai tinggi dan secara bertahap menjadi lebih rendah dalam frekuensi," tambahnya.

Menurut para peneliti, algoritme dengan benar mengklasifikasikan 92 persen panggilan sebagai emosi positif atau negatif.

Dengan lebih banyak rekaman, penerjemah babi mungkin dapat belajar membedakan kumpulan emosi yang lebih luas,  dan menjelaskan kesejahteraan mental hewan lain.

Sementara peternak cenderung menyadari bahwa kesehatan mental hewan penting untuk kesejahteraan mereka, sebagian besar mengupayakan kesejahteraan hewan yang berfokus pada kesehatan fisik.  

Briefer dan rekan-rekannya percaya bahwa algoritme mereka dapat membuka jalan bagi sistem otomatis baru di industri peternakan, yang memantau suara di peternakan,  dan situs lain untuk menilai kesejahteraan psikologis hewan.***

Sumber: The Guardian

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda