Ponticity post author Kiwi 28 Juli 2026

Di Garis Api, Prajurit Para Komando Tak Pernah Mundur, Perjuangan Yon Parako 466 Brajamusti Pasgat Memimpin Pertempuran Melawan Karhutla Demi Menjaga Langit Kalimantan Barat Tetap Biru

Photo of Di Garis Api, Prajurit Para Komando Tak Pernah Mundur, Perjuangan Yon Parako 466 Brajamusti Pasgat Memimpin Pertempuran Melawan Karhutla Demi Menjaga Langit Kalimantan Barat Tetap Biru Perjuangan prajurit Yon Parako 466 Brajamusti Pasgat saat bertempur melawan api Karhutla yang melahap puluhan hektar lahan pada beberapa tempat di Kabupaten Kubu Raya.

PONTIANAK, SP - Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika langkah-langkah berat itu mulai menapaki hamparan lahan gambut yang mengering di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).

Udara telah dipenuhi aroma tanah yang hangus. Kepulan asap putih keabu-abuan perlahan menutupi cakrawala, menyisakan langit yang kehilangan warna birunya.

Dari kejauhan terdengar deru mesin pompa air yang bersahutan dengan suara ranting-ranting kering yang masih terbakar. Di hadapan mereka, api memang tidak selalu tampak.

Namun, bara masih hidup. Ia bersembunyi di bawah lapisan gambut, menjalar perlahan melalui akar-akar kering, lalu muncul kembali beberapa meter dari titik semula.

Setiap embusan angin menjadi ancaman baru. Setiap kepulan asap menjadi pertanda bahwa pertempuran belum berakhir.

Di medan itulah sebuah perang sedang berlangsung. Bukan perang melawan manusia. Bukan pula perang mempertahankan wilayah dari agresi musuh.

Melainkan peperangan melawan kobaran api yang mengancam kehidupan jutaan orang.

Di garis api itulah, selama tiga hari, Jumat-Minggu, 24-26 Juli 2026, para prajurit Batalyon Para Komando (Yon Parako) 466 Brajamusti Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) berdiri.

Dan di barisan paling depan, sang Komandan Yon (Danyon) Parako 466 Brajamusti, Letkol Pas Adim Dwi Prasanda, S.A.P., memilih memimpin langsung anak buahnya.

Ia tidak berada di balik meja komando. Ia tidak menunggu laporan dari posko. Sepatu lorengnya tenggelam di lumpur gambut. Wajahnya menghitam oleh jelaga.

Seragamnya basah oleh peluh yang bercampur asap dan debu. Sesekali ia berhenti, menatap arah angin yang berubah. Matanya menyisir hamparan semak yang masih mengeluarkan asap tipis. Tangannya kemudian menunjuk sebuah titik, kala itu, Jumat Sore, 24 April 2026.

"Basahi sampai ke lapisan bawah... jangan tinggalkan bara sedikit pun," teriaknya. Di mana komando itu segera dijawab suara mesin pompa yang meraung.

Selang-selang pemadam digelar menembus semak belukar. Air disemburkan tanpa henti ke tanah yang sekilas tampak telah padam. Namun beberapa menit kemudian, asap kembali muncul.

Api di lahan gambut memang memiliki cara sendiri untuk bertahan hidup.

Ia menghilang dari permukaan, tetapi tetap menyala di kedalaman tanah.

Karena itulah para prajurit kembali menggali tanah dengan cangkul, membuat sekat bakar, lalu menyiram titik yang sama berulang-ulang hingga benar-benar padam.

Tak seorang pun menghitung berapa kilometer mereka berjalan. Tak ada yang menghitung berapa kali pompa harus diangkat. Tak ada yang menghitung berapa liter air yang telah disemburkan. Yang mereka tahu hanya satu.

Satu bara yang tertinggal hari ini dapat menjadi bencana besar esok hari.

Medan Tempur Bernama Gambut

Bagi prajurit Pasukan Gerak Cepat, medan berat bukanlah sesuatu yang asing.

Mereka ditempa untuk menghadapi berbagai operasi militer, diterjunkan dari udara, bergerak cepat, dan bertempur dalam kondisi ekstrem.

Namun di Kalbar secara umum, dan Kabupaten Kubu Raya adalah wilayah, medan juang mereka berubah. Musuh yang mereka hadapi tidak membawa senjata.

Tidak mengenakan seragam. Tidak terlihat jelas. Musuh itu adalah api. Api yang membakar hutan, menghanguskan lahan, mengancam rumah warga, menyesakkan napas bayi, bahkan dapat melumpuhkan roda perekonomian.

Perang kali ini bukan tentang merebut wilayah. Tetapi mempertahankan kehidupan.

Bagi para prajurit Yon Parako 466 Brajamusti, setiap titik api yang berhasil dipadamkan berarti satu rumah terselamatkan. Satu keluarga terbebas dari ancaman. Satu anak dapat kembali bernapas dengan lega.

"Kami menyelamatkan napas anak-anak. Kami memberikan motivasi, bahwa Karhutla akibat ulang tangan manusia tidak bertanggungjawab, ada yang akan melawannya," papar Letkol Pas Adim.

Di sela-sela operasi pemadaman, Letkol Pas Adim Dwi Prasanda menegaskan bahwa perjuangan yang dilakukan prajuritnya jauh melampaui sekadar memadamkan kobaran api.

"Bagi kami, ini bukan sekadar memadamkan api. Yang kami selamatkan bukan hanya hutan atau lahan, tetapi juga napas anak-anak, kesehatan masyarakat, dan masa depan Kalbar. Selama masih ada bara yang menyala, kami tidak akan berhenti bekerja. Prajurit Pasgat dididik untuk hadir di saat rakyat menghadapi kesulitan, dan hari ini medan juang kami adalah lahan gambut yang terbakar," ujarnya.

Abiturien Akademi Angkatan Udara (AAU) yang resmi menjabat Danyon Parako 466 Brajamusti pada 15 April 2026 itu menjelaskan bahwa memadamkan kebakaran lahan gambut membutuhkan kesabaran luar biasa.

Menurutnya, kobaran api yang hilang di permukaan bukan berarti bahaya telah selesai.

"Api di lahan gambut tidak pernah bisa dianggap selesai hanya karena kobarannya hilang. Bara bisa berpindah di bawah tanah, muncul kembali beberapa meter dari titik awal, lalu membesar dalam hitungan menit. Karena itu, prajurit kami harus menyisir setiap jengkal lahan hingga benar-benar padam. Ini membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kekuatan fisik yang luar biasa," katanya.

Bagi Letkol Pas Adim, kehadiran prajurit Pasgat 466 Brajamusti di tengah bencana merupakan bentuk pengabdian tanpa syarat kepada rakyat.

"Kami tidak pernah bertanya seberapa berat medan yang akan kami hadapi. Yang kami pikirkan hanya satu, jangan sampai api ini mencapai rumah-rumah warga. Jangan sampai asap ini membuat lebih banyak anak jatuh sakit. Selama masyarakat masih membutuhkan, kami akan tetap berada di garis depan bersama mereka," ujar Letkol Pas Adim.

Sebelum kembali memimpin anggotanya menyisir titik api, Letkol Pas Adim menyampaikan pesan sederhana yang sarat makna.

"Kami bisa memadamkan api, tetapi menjaga agar api itu tidak muncul kembali adalah tanggung jawab kita bersama. Hutan adalah warisan bagi anak cucu. Menjaganya berarti menjaga kehidupan," tuturnya.

Doa Seorang Ibu yang Dijawab di Medan Api

Beberapa kilometer dari lokasi pemadaman, Rita Indira memilih menutup rapat seluruh pintu rumahnya. Di pelukannya tertidur bayi yang belum genap berusia satu tahun.

Sesekali terdengar batuk kecil. Bagi Rita, setiap musim kemarau selalu menghadirkan kecemasan yang sama. Ia tahu bahwa ketika langit mulai berubah kelabu, udara yang dihirup anaknya tak lagi bersih.
"Setiap musim kemarau saya selalu cemas. Anak saya masih bayi. Kalau asap mulai pekat, kami tidak berani membuka pintu rumah. Kami hanya berharap ada orang-orang yang mampu menghentikan api itu," ujarnya lirih.

Rita mungkin tidak mengenal nama para prajurit yang berjibaku di tengah asap. Namun sesungguhnya, setiap langkah mereka adalah jawaban atas doa-doa para ibu seperti Rita.

Mereka berjuang agar bayi-bayi tetap dapat menghirup udara bersih.

Agar anak-anak tetap dapat pergi ke sekolah. Agar orang tua tidak lagi menatap langit dengan rasa takut.

Alarm dari Langit

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Supadio, Erika Mardiyanti, S.Kom., M.Si., mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini menunjukkan peningkatan ancaman kebakaran yang sangat signifikan.

"Perkembangan hotspot di Kalimantan Barat meningkat sangat cepat. Pada akhir Juli kami mencatat hingga 1.083 titik panas dalam satu kali pemantauan. Kubu Raya menjadi salah satu wilayah yang harus mendapat perhatian serius karena karakteristik lahan gambutnya sangat rentan terbakar," kata Erika.

Ia menjelaskan, kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang membuat penyebaran api berlangsung jauh lebih cepat.

"Pencegahan jauh lebih efektif daripada pemadaman setelah api membesar," sambungnya.

BMKG juga mencatat kualitas udara terus mengalami penurunan akibat tingginya konsentrasi partikel PM2.5 yang membahayakan kesehatan.

Ketika Rumah dan Bandara Terancam

Data BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Sungai Raya sempat mencapai 202,9 mikrogram per meter kubik, masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

Ancaman tidak berhenti di situ. Api mulai merambat mendekati permukiman warga.

Di Komplek Bumi Serdam Indah, kobaran api hanya berjarak sekitar dua meter dari rumah-rumah penduduk.

Di kawasan Desa Arang Limbung hingga sekitar Bandara Internasional Supadio, lahan gambut yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar sepuluh hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kubu Raya, Ariyanto, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama.

"Keselamatan masyarakat adalah prioritas kami. Karena itu ketika api mulai mendekati permukiman maupun kawasan Bandara Supadio, seluruh personel segera kami fokuskan ke lokasi tersebut," paparnya.

Menurutnya, karakter lahan gambut menjadi tantangan terbesar.

"Api sering tidak terlihat di permukaan, tetapi bara masih hidup di bawah tanah. Itulah sebabnya proses pembasahan harus dilakukan berulang-ulang hingga benar-benar tuntas," sambung Ariyanto.

Menjaga Langit dari Darat dan Udara

Pertempuran melawan Karhutla tidak hanya berlangsung di permukaan bumi. Ketika kobaran api terus bergerak mengikuti arah angin dan menjalar di bawah lapisan gambut, upaya pemadaman di darat diperkuat dengan kesiapsiagaan penuh dari udara.
Di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Supadio, Satuan Tugas Udara (Satgassud) Karhutla bersiaga selama 24 jam. Helikopter Super Puma ditempatkan dalam kondisi stand by untuk melaksanakan patroli udara, pemantauan titik api, hingga operasi water bombing apabila diperlukan.

Kesiapan tersebut menjadi bagian penting dalam sistem penanganan Karhutla terpadu, terutama ketika akses menuju lokasi kebakaran sulit dijangkau oleh personel darat.

Dari udara, setiap perubahan kondisi lapangan dapat dipantau secara lebih cepat. Informasi mengenai munculnya titik panas, arah pergerakan api, hingga ancaman terhadap permukiman warga maupun fasilitas vital dapat segera diteruskan kepada tim gabungan di lapangan.

Dengan demikian, langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat, terukur, dan tepat sasaran.

Komandan Lanud (Danlanud) Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Sidik Setiyono, S.E., M.Han., menegaskan bahwa kesiapsiagaan seluruh unsur menjadi kunci utama agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana kabut asap seperti yang pernah dialami Kalimantan Barat pada tahun-tahun sebelumnya.

"Lanud Supadio sebagai koordinator Satgasud Karhutla terus meningkatkan kesiapsiagaan. Pencegahan merupakan langkah terbaik agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana kabut asap yang lebih luas. Seluruh kemampuan personel, alutsista, dan dukungan operasi kami kerahkan untuk membantu melindungi masyarakat serta menjaga keselamatan wilayah Kalimantan Barat," ujar Marsma TNI Sidik Setiyono.

Menurutnya, keberhasilan penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Diperlukan sinergi yang kuat antara TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, BMKG, instansi terkait, hingga masyarakat sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan melaporkan munculnya titik api.

Sinergi antara operasi darat dan udara menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menjaga langit Kalbar tetap biru. Saat prajurit TNI, personel Polri, BPBD, dan relawan berjibaku memadamkan api di daratan, awak helikopter terus bersiaga di pangkalan untuk memberikan dukungan dari udara kapan pun dibutuhkan. Kolaborasi inilah yang mempercepat proses pemadaman sekaligus meminimalkan risiko meluasnya kebakaran.

Komitmen tersebut juga merupakan implementasi nyata dari arahan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) untuk mewujudkan TNI AU AMPUH, yakni TNI Angkatan Udara yang Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis.

Melalui kesiapsiagaan operasi udara dalam penanggulangan Karhutla, Lanud Supadio tidak hanya menjalankan fungsi pertahanan udara negara, tetapi juga menunjukkan pengabdian kepada masyarakat melalui operasi kemanusiaan, perlindungan lingkungan, dan mitigasi bencana.

Bagi Lanud Supadio, menjaga ruang udara bukan semata memastikan pesawat dapat terbang dengan aman. Lebih dari itu, menjaga langit berarti menjaga kehidupan.

Sebab langit yang bersih dari kabut asap adalah jaminan bagi anak-anak untuk menghirup udara sehat, bagi masyarakat untuk beraktivitas dengan nyaman, dan bagi roda perekonomian serta transportasi udara untuk tetap berjalan tanpa hambatan.

Asap yang Mengancam Kehidupan

Di ruang pelayanan kesehatan, dampak kebakaran mulai dirasakan.

Kepala Puskesmas Sungai Durian, dr. Evi Aprilia, menjelaskan bahwa partikel halus dari asap Karhutla sangat berbahaya.

"Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma atau penyakit paru merupakan kelompok yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan," kata dr. Evi.

Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker apabila kualitas udara memburuk.

"Cara paling efektif melindungi kesehatan masyarakat bukan hanya dengan pengobatan, tetapi dengan mencegah kebakaran hutan dan lahan sejak awal," tuturnya.

Gotong Royong Menjaga Kalbar

Sedikitnya seratus personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan, pemerintah daerah, hingga relawan masyarakat terus berjibaku memadamkan api.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo, turun langsung meninjau lokasi dan turut mengangkat selang-selang air, menyemprot bara api yang melahap pepohonan dan semak belukar.

"Kami mengajak masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Sekecil apa pun api dapat menjadi ancaman besar bagi seluruh masyarakat."

Tokoh masyarakat Kubu Raya, H. Zakaria Ismail pun mengingatkan bahwa tragedi kabut asap tidak boleh kembali terulang.

"Yang terbakar bukan hanya pohon, tetapi juga kesehatan, pendidikan, ekonomi, bahkan masa depan anak-anak kita," katanya.

Ketika Langit Kembali Biru

Menjelang senja, cahaya matahari perlahan tenggelam di balik kabut asap yang masih menggantung. Sebagian titik api telah berhasil dipadamkan.

Sebagian lagi masih mengeluarkan asap tipis yang mengepul dari sela-sela gambut.

Namun langkah para prajurit Yon Parako 466 Brajamusti belum berhenti.

Selama bara masih bernapas, mereka akan tetap berada di garis depan.

Mereka memahami bahwa kemenangan hari itu bukan diukur dari luas lahan yang berhasil diselamatkan.
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika seorang ibu kembali berani membuka jendela rumahnya. Ketika seorang bayi dapat tertidur tanpa batuk.

Ketika anak-anak kembali berlari menuju sekolah di bawah langit yang biru.

Ketika pesawat dapat lepas landas dan mendarat tanpa terhalang kabut asap.

Di balik setiap tetes keringat yang jatuh di atas tanah gambut yang menghitam, tersimpan sumpah sunyi seorang prajurit.

Bahwa kehormatan seorang Prajurit Para Komando tidak hanya lahir di medan perang bersenjata. Kehormatan itu juga lahir ketika ia rela mengorbankan tenaga, waktu, bahkan keselamatannya demi memastikan rakyat tetap dapat hidup dengan aman.

Di tengah asap yang menyesakkan, mereka memilih tetap melangkah.

Di tengah bara yang tak pernah benar-benar padam, mereka memilih tetap bertahan.

Sebab bagi Prajurit Pasukan Gerak Cepat, pengabdian bukan sekadar tugas.

Pengabdian adalah panggilan jiwa dan Pengabdian Tanpa Batas TNI AU AMPUH, Indonesia Maju.

Dan selama masih ada langit Kalbar yang harus dijaga tetap biru, selama masih ada anak-anak yang harus tumbuh dengan udara bersih, selama itu pula para prajurit Yon Parako 466 Brajamusti Pasgat akan terus berdiri di garis api, tanpa pernah mengenal kata mundur. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda