UKRAINA hingga Senin, 17 Januari 2022 terus diserang oleh hacker yang diduga bermodus pemerasan (ransomeware). Serangan yang terjadi sejak Sabtu, 15 Januari 2021 malam waktu setempat ini, diduga bercampur dengan aksi Ransomware, serangan mengunci situs internet lewat enskpripsi untuk tujuan pemerasan.
Belum jelas asal negara dari sindikat ransomware tersebut, tetapi diduga kuat pelakunya berasal dari Rusia, bahkan intelijen Rusia diklaim terlibat.
Rusia adalah negara dengan geng ransomware paling banyak di dunia, dan sejak 2021 menyerang berbagai situs sejumlah perusahaan raksasa termasuk di Amerika Serikat.
Serangan di Ukraina ini diduga bagian dari konspirasi antara Pemerintah Federasi Rusia dengan kelompok-kelompok penjahat, yang pada 2021 dibantah oleh negara itu sendiri, dan mengklaim akan bekerjasama dengan FBI, ketika Amerika Serikat mengamuk setelah diserang oleh para penjahat ransomware.
Toh belum jelas apakah serangan hacker ini terkait dengan rencana invasi Rusia ke Ukraina dan kemungkinan adanya konspirasi dari bekas raksasa Uni Soviet itu dengan para penjahat ransomware.
Dilansir Suara Pemred dari The Associated Press, Senin, 17 Januari 2022, pihak Microsoft menyatakan pada Sabtu lalu bahwa lusinan sistem komputer di sejumlah lembaga Pemerintah Ukraina telah terinfeksi oleh malware perusak, yang menyamar sebagai ransomware.
Tingkat kerusakan tidak segera jelas, tapi serangan itu terjadi saat ancaman invasi Rusia ke Ukraina dan pembicaraan diplomatik untuk menyelesaikan ketegangan tampak terhenti.
Pihak Microsoft meegaskan dalam sebuah posting blog singkat bahwa serangan ini membuat sekitar 70 situs web pemerintah offline untuk sementara waktu.
Secara terpisah, seorang eksekutif keamanan siber sektor swasta terkemuka di Kyiv, Ibukota Ukraina, merinci kepada The Associated Press tentang bagaimana serangan itu berhasil: Para penyusup menembus jaringan pemerintah melalui pemasok perangkat lunak secara bersama.
Modus serangan ini mirip dengan serangan rantai pasokan dengan cara perang spionase dunia maya Rusia, SolarWinds 2020, yang menargetkan objek-objek vital milik Pemerintah AS.
Menurut pihak Microsoft dalam posting teknis yang berbeda, bahwa sistem yang terpengaruh 'mencakup beberapa organisasi pemerintah, nirlaba, dan teknologi informasi'.
Microsoft tidak mengetahui seberapa banyak lagi organisasi di Ukraina atau di tempat lain yang mungkin terpengaruh, tetapi ditegaskan bahwa pihaknya bakal segera mengetahui lebih banyak yang terinfeksi.
“Malware tersebut menyamar sebagai ransomware, tetapi jika diaktifkan oleh penyerang, akan membuat sistem komputer yang terinfeksi tidak dapat dioperasikan, sehinggas, singkatnya, tidak ada mekanisme untuk pemulihan tebusan," tegas Microsoft.
Microsoft menambahkan, malware 'dieksekusi ketika perangkat terkait dimatikan, yang merupakan reaksi awal yang khas atas serangan ransomware.
Belum dapat dinilai maksud dari aktivitas destruktif atau mengaitkan dari serangan itu termasuk aktornya.
Sementara Wakil Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional. Ukraina, Serhiy Demedyuk, sebagamana dikutip oleh Reuters, menyatakan bahwa para penyerang menggunakan malware, yang mirip dengan milik intelijen Rusia.
Penyelidikan awal membuat Layanan Keamanan Ukraina, SBU, menyalahkan bahwa perusakan web pada 'kelompok peretas' yang terkait dengan dinas intelijen Rusia, sekalipun Moskow telah berulang kali membantah terlibat dalam serangan siber ke Ukraina.
Ketegangan dengan Rusia meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Moskow mengumpulkan sekitar 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina.
Para ahli menyatakan, invasi apa pun akan memiliki komponen dunia maya, yang merupakan bagian integral dari perang 'hibrida' modern.
Demedyuk menambahkan, perusakan itu 'hanyalah kedok untuk tindakan yang lebih merusak yang terjadi di belakang layar, dan konsekuensi yang akan dirasakan dalam waktu dekat'.
Ceritanya tidak merinci, dan Demedyuk tidak bisa segera dihubungi untuk dimintai komentar.
Sementara Oleh Derevianko, pakar sektor swasta terkemuka dan pendiri perusahaan keamanan siber ISSP, menyatakan kepada The Associated Press bahwa dia tidak tahu seberapa serius kerusakan itu.
Dia juga menyatakan tidak diketahui apa lagi yang mungkin telah dicapai para penyerang setelah membobol KitSoft, yang dieksploitasi pengembang untuk menabur malware.
Pada 2017, Rusia menargetkan Ukraina lewat serangan siber paling merusak yang pernah tercatat dengan virus NotPetya, menyebabkan kerusakan lebih dari 10 miliar dolar AS secara global.
Virus itu juga menyamar sebagai ransomware atau juga disebut 'penghapus', yang melenyapkan seluruh jaringan. Ukraina telah mengalami nasib malang, menjadi tempat pembuktian dunia untuk konflik siber.
Peretas yang didukung Rusia, hampir menggagalkan Pemilihan Nasional 2014, dan secara singkat melumpuhkan bagian dari jaringan listriknya selama musim dingin pada 2015 dan 2016.
Dalam perusakan web massal pada Jumat lalu, sebuah pesan yang ditinggalkan oleh para penyerang mengklaim bahwa mereka telah menghancurkan data, dan menempatkannya secara online, yang menurut pihak berwenang Ukraina, tidak terjadi.
Pesan itu menegaskan kepada Ukraina untuk 'takut dan mengharapkan yang terburuk'.
Profesional keamanan siber Ukraina telah memperkuat pertahanan infrastruktur penting sejak 2017, dengan bantuan AS senilai lebih dari 40 juta dolar AS.
Mereka sangat prihatin atas serangan Rusia ke jaringan listrik, jaringan kereta api, dan bank sentral.***
Sumber: Reuters, The Associated Press