Kapuas Hulu post author Kiwi 14 Agustus 2026

Seribu Harapan di Perbatasan Negeri Membelah Sunyi Pedalaman Kapuas Hulu

Photo of Seribu Harapan di Perbatasan Negeri Membelah Sunyi Pedalaman Kapuas Hulu Satgas TMMD Regta ke-129 Kodim 1206/Psb bersama warga Desa Ulak Pauk dan Desa Belatung, membangun jembatan sebagai salah satu sarana kemajuan pembangunan. suara pemred/aep mulyanto

TMMD Regtas ke-129 Kodim 1206/Putussibau tak sekadar membuka badan jalan sepanjang delapan kilometer, tetapi menghadirkan jembatan, air bersih, sanitasi, rumah layak huni hingga pengetahuan bagi masyarakat Ulak Pauk dan Belatung. Di balik debu, lumpur dan keringat para prajurit, tersimpan cerita tentang sebuah desa yang perlahan membuka pintu menuju masa depan.

KAPUAS HULU, SP - Suatu hari nanti, deru mesin akan berhenti. Sepatu lars para prajurit tak lagi menginjak tanah berlumpur di Desa Ulak Pauk dan Desa Belatung. Seragam loreng yang selama beberapa pekan menjadi pemandangan akrab bagi warga akan kembali ke markas.

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut pergi.

Jalan sepanjang delapan kilometer akan tetap terbentang. Lima jembatan akan terus menghubungkan kawasan yang sebelumnya sulit dijangkau. Sumur-sumur bor akan menyediakan air bagi masyarakat.

Rumah-rumah yang diperbaiki akan menjadi tempat keluarga berlindung dengan lebih layak. Fasilitas MCK akan terus digunakan. Dan pengetahuan yang disampaikan melalui berbagai penyuluhan akan tinggal dalam ingatan masyarakat.

Itulah warisan yang ditinggalkan Satgas TMMD Regtas Ke-129 Kodim 1206/Putussibau Tahun Anggaran 2026 di Kecamatan Embaloh Hulu dan Embaloh Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu.

Bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah upaya menghadirkan harapan agar kehidupan masyarakat di pedalaman bergerak selangkah lebih maju.

Penutupan TMMD yang berlangsung di Lapangan Bola Desa Apan, Kecamatan Embaloh Hulu, Kamis (13/8/2026), menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian prajurit bersama masyarakat.

Upacara dipimpin Irdam XII/Tanjungpura Brigjen TNI Agus Firman Yusmono, S.I.P., M.Si., dan dihadiri unsur TNI, pemerintah daerah, Polri, Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta warga.

Tetapi penutupan itu bukan akhir dari cerita.

Justru dari sinilah masyarakat mulai menerima sepenuhnya apa yang telah dikerjakan bersama.

 

Bukan Sekadar Delapan Kilometer

Pagi di pedalaman Kapuas Hulu memiliki suasana yang berbeda. Kabut perlahan menghilang dari pepohonan, udara masih menyimpan kesejukan, sementara masyarakat mulai menjalankan aktivitasnya.

Di tengah suasana itu, selama pelaksanaan TMMD, prajurit dan warga bekerja bersama.

Ada yang membuka badan jalan. Ada yang membuat parit. Ada yang mengerjakan jembatan. Sebagian lainnya membangun fasilitas air bersih, MCK dan memperbaiki rumah warga.

Pembukaan badan jalan sepanjang delapan kilometer menjadi salah satu sasaran utama TMMD Regtas ke-129.

Di atas kertas, delapan kilometer hanyalah angka.

Namun bagi masyarakat, angka tersebut berarti jauh lebih besar.

Jalan berarti akses yang lebih mudah. Jalan berarti hasil pertanian lebih mudah dibawa. Jalan berarti perjalanan menuju sekolah dan fasilitas kesehatan memiliki peluang menjadi lebih cepat. Jalan juga membuka kemungkinan bagi aktivitas ekonomi masyarakat untuk berkembang.

Di wilayah yang sebagian masyarakatnya menggantungkan kehidupan dari bertani, berladang, menjadi nelayan dan mengolah hasil alam, akses jalan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pembangunan jalan bukan sekadar meratakan tanah agar kendaraan dapat melintas.

Jalan adalah penghubung antara masyarakat dengan kesempatan.

Bersamaan dengan pembukaan badan jalan, Satgas juga mengerjakan parit di sisi kiri dan kanan serta membangun lima jembatan.

Semua itu dikerjakan dengan melibatkan masyarakat melalui semangat gotong royong.

Dandim 1206/Putussibau, Letkol Arm Andreas Prabowo Putro menegaskan, keberhasilan TMMD tidak semata-mata diukur dari selesainya pekerjaan fisik.

“TMMD bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan fisik, tetapi bagaimana setiap sasaran yang dibangun benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Jalan, jembatan, fasilitas air, rumah dan fasilitas umum lainnya diharapkan dapat membantu meningkatkan aktivitas masyarakat sekaligus memperkuat semangat gotong royong antara TNI, pemerintah dan warga,” ujarnya.

Menurut Andreas, masyarakat memiliki peran penting setelah program selesai.

“Kami berharap masyarakat ikut memiliki dan memelihara hasil pembangunan ini. Apa yang dikerjakan bersama harus dijaga bersama, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi dapat digunakan dalam waktu yang panjang,” katanya.

Kalimat itu menjadi pesan penting ketika para prajurit akhirnya meninggalkan lokasi. Sebab, pembangunan yang paling berhasil bukan hanya yang selesai dikerjakan, tetapi yang terus memberikan manfaat setelah orang-orang yang membangunnya pergi.

 

Dua Desa dengan Harapan yang Sama

Desa Ulak Pauk berada di Kecamatan Embaloh Hulu. Desa ini terdiri atas tiga dusun, yakni Kerenglimau, Karato dan Pintas Tim Baru, dengan tujuh RT.

Sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupan dari bertani atau berladang, nelayan dan keratom atau purik. Desa ini memiliki sekitar 691 jiwa dengan luas wilayah sekitar 14.102 kilometer persegi.

Sementara Desa Belatung di Kecamatan Embaloh Hilir memiliki tiga dusun, yakni Belatung, Sengkuang Kuning dan Pala Pintas, dengan enam RT. Mata pencaharian masyarakat juga didominasi pertanian, nelayan dan keratom atau purik.

Jumlah penduduk Desa Belatung tercatat sekitar 503 jiwa dengan luas wilayah sekitar 213,9 kilometer persegi. Di dua desa inilah Satgas TMMD Regtas ke-129 menempatkan sasaran pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Bagi warga, pembangunan tersebut memiliki arti karena dilakukan di ruang kehidupan mereka sendiri.

Kepala Desa Ulak Pauk Aloysius Sukarno mengapresiasi kehadiran TMMD yang menurutnya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Masyarakat tentu sangat terbantu dengan adanya kegiatan TMMD ini. Pembangunan jalan dan fasilitas lainnya merupakan sesuatu yang manfaatnya akan langsung dirasakan warga,” katanya.

Ia berharap masyarakat menjaga hasil pembangunan tersebut. Harapan serupa datang dari masyarakat Desa Belatung. Kehadiran Satgas tidak hanya menghadirkan pembangunan, tetapi juga menciptakan kebersamaan yang meninggalkan kesan tersendiri bagi warga.

“Fasilitas ini bukan untuk satu atau dua orang, melainkan untuk kepentingan seluruh masyarakat desa. Kalau dirawat bersama, manfaatnya tentu akan lebih lama,” ujarnya.

Air Bersih dari Dalam Tanah

Ada pembangunan yang terlihat besar dan mudah dikenali. Ada pula pembangunan yang sederhana, tetapi manfaatnya sangat besar. Sumur bor adalah salah satunya.

Sebanyak lima sumur bor menjadi sasaran tambahan TMMD. Tiga berada di Desa Ulak Pauk dan dua lainnya di Desa Belatung.

Di Ulak Pauk, sumur bor di depan Gedung Serbaguna mencapai progres 80 persen. Sumur bor di belakang Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius mencapai 10 persen, sedangkan sumur bor di kawasan masjid mencapai 80 persen.

Di Desa Belatung, sumur bor di Gedung Serbaguna Taubegulai dan SMPN 4 Satap Embaloh Hilir masing-masing telah mencapai 100 persen.

Air mungkin tidak semegah jalan atau jembatan. Tetapi tanpa air, kehidupan tidak akan berjalan. Air digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, kebersihan, kegiatan keagamaan, sekolah, posyandu dan berbagai aktivitas masyarakat.

Karena itu, pengeboran yang dilakukan Satgas sejatinya bukan hanya mencari air dari dalam tanah. Mereka sedang mencari salah satu kebutuhan paling mendasar bagi masa depan masyarakat.

Kelak, ketika air mengalir dan digunakan setiap hari, mungkin tidak banyak warga yang mengingat bagaimana sumur itu dibuat. Tetapi manfaatnya akan terus terasa.

 

 Ketika Rumah Menjadi Lebih Layak

TMMD juga menyentuh kebutuhan yang jauh lebih personal: rumah tempat sebuah keluarga menjalani kehidupan. Lima rumah menjadi sasaran tambahan program Rumah Tidak Layak Huni atau RTLH.

Rumah Dedi Dores di Dusun Kerenglimau, Ulak Pauk, dan rumah Ibu Marsiana di Dusun Kerenglimau, Ulak Pauk, masih belum dikerjakan berdasarkan data progres yang dihimpun. Sementara rumah Ibu Yustina Ato di Dusun Pala Pintas Tengah, Desa Belatung, juga mencapai progres 100 persen.

Dua rumah lainnya telah selesai 100 persen, yakni rumah Ibu Mariana Tius dan Ibu Yustina Dayang, keduanya berada di Desa Belatung. Rumah bukan hanya bangunan.

Di dalam rumah ada keluarga, ada anak-anak yang tumbuh, ada orang tua yang beristirahat setelah bekerja, ada makanan yang disiapkan dan doa yang dipanjatkan.

Karena itu, memperbaiki rumah tidak hanya berarti memperbaiki dinding atau atap. Ada rasa aman yang dikembalikan. Ada kenyamanan yang diberikan. Ada martabat keluarga yang ikut dijaga.

Fasilitas Sederhana Menentukan Kesehatan

Pembangunan MCK juga menjadi bagian dari sasaran tambahan. Di Desa Ulak Pauk, MCK Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius mencapai progres 50 persen. Sementara MCK masjid dan gereja Protestan masih belum dikerjakan berdasarkan data progres.

Di Desa Belatung, MCK Gereja Santo Mikael dan MCK Posyandu Nirwana telah mencapai 100 persen. Fasilitas sanitasi mungkin terlihat sederhana. Namun dari tempat-tempat seperti itulah perilaku hidup bersih dan sehat dibangun.

Apalagi fasilitas tersebut berada di rumah ibadah dan fasilitas pelayanan masyarakat yang digunakan banyak orang. Dengan demikian, pembangunan MCK menjadi bagian dari investasi kecil yang manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

 Juga Membangun Manusia

Wajah TMMD tidak berhenti pada pembangunan fisik. Berbagai kegiatan nonfisik turut dilaksanakan. Masyarakat mendapatkan sosialisasi rekrutmen TNI AD dan wawasan kebangsaan.

Ada penyuluhan bahaya narkoba dan Kamtibmas dari kepolisian, sosialisasi pertanian dari Kementerian Pertanian, penyuluhan Karhutla dari BPBD Kapuas Hulu, serta sosialisasi Posyandu dan Posbindu PTM dari Dinas Kesehatan.

Kegiatan penanaman pohon juga dilakukan. Semua itu menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya dengan membuka jalan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan.

Petani membutuhkan informasi. Anak-anak muda perlu memahami bahaya narkoba. Masyarakat perlu mengetahui pentingnya kesehatan dan keamanan. Lingkungan juga harus dijaga.

Dengan demikian, pembangunan fisik dan nonfisik berjalan berdampingan.

Jalan membuka akses. Pengetahuan membuka wawasan. Keduanya sama-sama menjadi bekal menuju masa depan.

 Sinergi yang Terlihat di Lapangan

Pelaksanaan TMMD Regtas ke-129 juga memperlihatkan kuatnya sinergi antara TNI, pemerintah daerah, Polri dan masyarakat. Ketua DPRD Kabupaten Kapuas Hulu Yanto, S.P., mengapresiasi semangat kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan tersebut.

Menurutnya, pembangunan akan lebih kuat ketika dilakukan bersama-sama.

“TNI hadir, pemerintah hadir dan masyarakat juga ikut terlibat. Semangat gotong royong seperti ini merupakan kekuatan yang harus terus dipelihara,” ujarnya.

Ia menilai sasaran TMMD memiliki hubungan erat dengan kebutuhan masyarakat, terutama jalan, jembatan, air bersih, sanitasi dan rumah layak.

Sementara itu, Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pembangunan daerah.

“Pembangunan tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah daerah, TNI, masyarakat dan seluruh unsur terkait harus berjalan bersama,” ujarnya.

Pesan tersebut terasa nyata di lapangan. Prajurit bekerja bersama warga. Pemerintah daerah memberikan dukungan. Unsur terkait ikut mengambil bagian. Masyarakat menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat.

Inilah semangat gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan utama TMMD.

Saat Penutupan Menjadi Awal untuk Menjaga

Pada Kamis, 13 Agustus 2026, suasana penutupan TMMD Regtas ke-129 di Lapangan Bola Desa Apan menjadi momen penting. Irdam XII/Tanjungpura, Brigjen TNI Agus Firman Yusmono, S.I.P., M.Si., hadir sebagai Inspektur Upacara.

Turut hadir Kasrem 121/Abw, Kolonel Inf Dadang Ismail Marzuki, S.I.P., Dandim 1206/Putussibau, Letkol Arm Andreas Prabowo Putro, S.I.Pem., M.I.P., M.Han., unsur Forkopimda Kapuas Hulu, Forkopimcam Embaloh Hulu dan Embaloh Hilir serta berbagai unsur terkait.

Dalam amanatnya, Irdam XII/Tanjungpura menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Satgas, pemerintah daerah, instansi terkait dan masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan TMMD.

Menurutnya, TMMD merupakan wujud nyata pengabdian TNI kepada masyarakat. Apa yang telah dibangun, katanya, harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya agar memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Pesan tersebut menjadi sangat relevan di penghujung program. Sebab setelah upacara selesai, pekerjaan Satgas memang berakhir. Tetapi tanggung jawab untuk menjaga hasil pembangunan justru berpindah kepada masyarakat.

 

 Warisan yang Tidak Ikut Pulang

Setiap prajurit yang datang ke sebuah desa melalui TMMD pada akhirnya akan kembali. Itu adalah bagian dari siklus pengabdian, tetapi juga ada warisan yang sengaja ditinggalkan. Jalan delapan kilometer dan lima jembatan, serta Parit di sisi jalan.

Sumur-sumur bor, MCK, rumah-rumah yang diperbaiki, pengetahuan dari berbagai penyuluhan dan pohon-pohon yang ditanam.

Dan yang mungkin paling penting adalah semangat kebersamaan yang tumbuh antara prajurit dan masyarakat. Bagi seorang anak yang kelak berangkat sekolah melalui jalan tersebut, mungkin jalan itu hanya bagian dari perjalanan sehari-hari.

Bagi petani, jalan itu mungkin menjadi jalur membawa hasil ladang. Bagi keluarga penerima RTLH, rumah yang diperbaiki menjadi tempat berlindung yang lebih aman.

Bagi masyarakat yang menggunakan sumur bor, air yang mengalir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin tidak selalu mengetahui siapa saja yang pernah mengangkat tanah, membawa material, mengebor sumur, memasang jembatan atau bekerja di bawah panas matahari.

Namun manfaatnya akan terus mereka rasakan. Dan di situlah ukuran keberhasilan sebuah pengabdian. Bukan semata-mata seberapa meriah penutupannya.

Bukan hanya berapa banyak orang yang hadir dalam seremoni.

Melainkan apakah sesuatu yang ditinggalkan benar-benar membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

 Prajurit Pulang, Harapan Terus Berjalan

TMMD Regtas ke-129 pada akhirnya bukan hanya cerita tentang pembangunan delapan kilometer jalan di pedalaman Kapuas Hulu.

Ini adalah cerita tentang orang-orang yang bekerja bersama.

Tentang prajurit yang datang membawa tenaga. Tentang masyarakat yang membuka pintu dan ikut bergotong royong. Tentang pemerintah dan berbagai instansi yang menyatukan dukungan.

Tentang sebuah desa yang menerima pembangunan bukan sebagai sesuatu yang datang dan pergi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Ketika nanti suasana kembali sunyi, suara mesin pembangunan tidak lagi terdengar setiap pagi.

Prajurit pun telah meninggalkan desa. Tetapi jalan itu tetap terbentang.

Jembatan tetap berdiri. Air tetap dicari dan dialirkan. Rumah tetap menjadi tempat keluarga berteduh. MCK tetap digunakan. Pohon terus tumbuh.

Dan harapan terus berjalan.

Sebab pembangunan yang paling bermakna bukanlah pembangunan yang paling ramai dibicarakan, melainkan pembangunan yang tetap memberikan manfaat ketika orang-orang yang mengerjakannya sudah tidak lagi berada di sana.

Di Ulak Pauk dan Belatung, delapan kilometer jalan itu bukan sekadar garis yang membelah tanah. Ia adalah jalan yang menghubungkan masyarakat dengan kesempatan. Menghubungkan hasil ladang dengan pasar.

Menghubungkan anak-anak dengan pendidikan.

Menghubungkan warga dengan pelayanan. Dan, pada akhirnya,  menghubungkan sebuah desa dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Prajurit boleh pulang. TMMD boleh berakhir. Tetapi warisan pengabdian itu akan tetap tinggal, dan harapan masyarakat akan terus berjalan di atasnya. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda