Transformasi nilai hasil perikanan kini tumbuh dari dapur-dapur rumah di Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Melalui sinergi dengan PT Dharma Inti Bersama selaku pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang, ibu-ibu pesisir berhasil mengolah ikan segar menjadi produk bernilai tambah seperti bakso ikan, nugget, hingga lele marinasi sehingga membuka peluang ekonomi baru di wilayah dengan keterbatasan lapangan kerja.
Program pemberdayaan ini melibatkan puluhan ibu rumah tangga yang tergabung dalam beberapa kelompok usaha berbasis spesialisasi. Tidak hanya meningkatkan keterampilan, program ini juga mendorong perubahan pola pengolahan ikan dari metode tradisional menjadi produk olahan modern dengan nilai jual lebih tinggi.
Mardiana, Ketua Kelompok Bakso Ikan dari Dusun Raya, menjadi salah satu contoh perubahan tersebut.
“Awalnya saya diajak oleh teman-teman untuk membentuk kelompok. Kebetulan di pulau tempat tinggal kami memang minim lapangan pekerjaan, dan tim CSR PT DIB memberikan peluang untuk bikin produk bakso ikan, saya sangat tertarik dan memutuskan untuk ikut,” ujarnya, kemarin.
Dalam kegiatan produksi yang berlangsung dua hingga tiga kali seminggu, Mardiana bertugas pada proses pengukusan. Ia memastikan setiap bakso matang dengan kualitas terbaik sebelum dipasarkan. Dari proses ini, ia mulai merasakan dampak ekonomi secara langsung.
"Biasanya kami mulai bekerja dari pukul 09.00 pagi dan selesai sekitar pukul 12.00 atau pukul 13.00 siang. Tugas utama saya di bagian pengukusan. Setelah adonan ikan digiling dan dibentuk jadi bulatan-bulatan bakso dalam jumlah banyak, sayalah yang bertanggung jawab mengukus sampai matang,” ujarnya,” katanya.
Sejauh ini, ia mengaku sudah dua kali menerima bagi hasil. Tambahan penghasilan ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Pengalaman serupa juga dirasakan Latipah, Ketua Kelompok Nugget Ikan. Ia melihat pengolahan ikan menjadi produk siap konsumsi sebagai langkah penting dalam meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan.
“Daripada waktu luang hanya diam di rumah, lebih baik berkumpul dengan ibu-ibu lain untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dijual. Biarpun jumlahnya belum tetap setiap bulannya, tapi jumlah ratusan ribu rupiah yang kami terima sangat berarti buat kami yang tinggal di pulau,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kualitas produk menjadi perhatian utama kelompoknya. “Keunggulan nugget ikan kami di penggunaan ikan segar. Rasanya lebih gurih dan tentunya lebih sehat,” jelas Latipah.
Seluruh hasil produksi nugget, bakso, dan lele marinasi dijual untuk konsumsi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Kawasan Industri yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dipersiapkan menjadi pusat pengolahan dan pemurnian bijih bauksit untuk produksi alumina dan aluminium yang berkelanjutan.
External Relation Manager PT DIB, Sugeng Sulistiyo, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya nilai tambah hasil perikanan di tingkat masyarakat.
“Kami melihat potensi besar pada perempuan pesisir yang selama ini perannya dalam ekonomi keluarga masih bisa dioptimalkan, ibu-ibu adalah adalah kunci perubahan di tingkat rumah tangga,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelumnya pengolahan ikan masih terbatas pada metode tradisional seperti pengeringan dan pengasinan dengan nilai jual yang fluktuatif.
Melalui pelatihan dan pendampingan, ibu-ibu Desa Pelapis kini mampu menghasilkan produk olahan dengan standar kualitas dan keamanan pangan yang lebih baik.
Saat ini, kapasitas produksi kolektif telah mencapai rata-rata 200 kilogram per bulan. Dampak ekonomi yang dihasilkan pun signifikan, dengan peningkatan pendapatan anggota hingga 40 persen. Selain itu, program ini juga memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong antar warga.
Ke depan, PT DIB akan terus mendorong pengembangan program, termasuk memperluas pasar dan memastikan keberlanjutan produksi melalui penguatan infrastruktur serta pengelolaan bahan baku. (*)