Kubu Raya post author Kiwi 09 September 2026

Dosen Poltekkes Kemenkes Pontianak Edukasi Warga Teluk Kapuas Manfaat Kayu Secang untuk Kontrol Gula Darah

Photo of Dosen Poltekkes Kemenkes Pontianak Edukasi Warga Teluk Kapuas Manfaat Kayu Secang untuk Kontrol Gula Darah

KUBU RAYA, SP- Dosen Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Pontianak memberikan penyuluhan kepada masyarakat Desa Teluk Kapuas, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, mengenai pemanfaatan rebusan kayu secang sebagai bagian dari upaya menjaga dan mengontrol kadar gula darah.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diikuti sekitar 40 warga dan difokuskan pada peningkatan pemahaman masyarakat terhadap penyakit tidak menular (PTM), khususnya diabetes mellitus.

Dalam penyuluhan, masyarakat diberikan edukasi mengenai faktor risiko diabetes, pola makan seimbang, pembatasan konsumsi gula dan garam, pentingnya aktivitas fisik, serta komplikasi yang dapat muncul apabila kadar gula darah tidak terkontrol.

Tim dosen yang terdiri dari Sri Tumpuk, S.Si., M.Kes., Sutriswanto, SKM., M.Kes., dan Slamet, S.Si., M.Kes., juga memperkenalkan kayu secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai salah satu tanaman yang secara tradisional telah dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal.

Kayu secang diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif, di antaranya flavonoid dan senyawa fenolik. Salah satu senyawa yang menjadi perhatian adalah brazilin, yang dalam berbagai penelitian memiliki potensi aktivitas biologis, termasuk yang berkaitan dengan pengendalian kadar glukosa.

Namun, pemanfaatan rebusan kayu secang dalam kegiatan ini ditekankan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, bukan sebagai pengganti obat atau terapi medis bagi penderita diabetes.

Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Rata-rata capaian pengetahuan yang sebelumnya berada di angka 27,5 persen meningkat menjadi 82,5 persen, atau mengalami peningkatan absolut sebesar 55 persen setelah diberikan edukasi.

Peningkatan tersebut terlihat pada sejumlah aspek, mulai dari pemahaman mengenai gejala diabetes dan gula darah, kandungan brazilin pada kayu secang, hingga pemahaman mengenai aturan konsumsi dan pemanfaatan herbal secara tepat.

Tim pengabdian masyarakat berharap edukasi tersebut dapat mendorong warga untuk lebih memperhatikan pola hidup sehat sekaligus meningkatkan kesadaran melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala.

Sebagai tindak lanjut, tim juga merekomendasikan pemantauan kadar gula darah sewaktu (GDS) secara berkala untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat setelah mendapatkan edukasi.
Pemantauan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dan deteksi dini diabetes di tingkat masyarakat. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda