KUBU RAYA, SP - Upaya pengembangan energi terbarukan di Kalimantan Barat kembali diperkuat dengan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Kuala Mandor berkapasitas 5 Mega Watt (MW) di Kabupaten Kubu Raya. Pembangkit yang dioperasikan PT Pundi Global Investama ini diharapkan menjadi salah satu solusi penyediaan energi ramah lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Peresmian pembangkit yang berstatus Independent Power Producer (IPP) tersebut dihadiri Direktur Manajemen Pembangkit PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo dan Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto, General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria Goretti Indrawati Gunawan, dan pejabat PLN lainnya, Senin (2/3/2026).
Direktur Manajemen Pembangkit PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo mengatakan, keberadaan PLTBm Kuala Mandor berpotensi untuk terus dikembangkan di masa mendatang. Kapasitas pembangkit bahkan dapat diperluas hingga mencapai 10 hingga 20 MW apabila pasokan biomassa mencukupi.
Menurutnya, pengembangan pembangkit biomassa menjadi langkah strategis di tengah semakin terbatasnya pasokan batu bara dengan kalori menengah hingga tinggi untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional.
“Ke depan suplai batu bara kalori menengah hingga tinggi semakin terbatas, baik dari sisi produksi nasional maupun pasokan ke pembangkit PLN dan IPP. Karena itu, salah satu jawabannya adalah menambah pembangkit di luar PLTU seperti biomassa,” ujar Rizal.
Ia menambahkan, pembangkit biomassa juga dinilai lebih ramah lingkungan karena dapat mengurangi penggunaan energi fosil, khususnya pembangkit diesel yang masih digunakan di sejumlah daerah.
Selain itu, operasional PLTBm juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat karena terciptanya ekosistem pemasok bahan baku biomassa.
“Potensi biomassa di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 100 hingga 150 juta metrik ton atau setara dengan potensi listrik sekitar 10 hingga 15 gigawatt. Kalimantan Barat, khususnya Kubu Raya, menjadi salah satu daerah dengan potensi biomassa yang besar,” katanya.
PLN, lanjut Rizal, memberikan perhatian besar terhadap pengembangan energi biomassa di Kalimantan Barat. Jika ketersediaan pasokan biomassa memadai, maka peluang pembangunan pembangkit baru melalui skema IPP masih terbuka dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Sementara itu, Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto menilai keberadaan PLTBm Kuala Mandor menjadi peluang besar bagi daerah, mengingat bahan baku biomassa tersedia melimpah di Kalimantan Barat.
“Pembangkit listrik tenaga biomassa ini luar biasa karena bahan bakunya ada di Kalbar. Selama ada pengusaha, pembeli seperti PLN, serta dukungan pembiayaan dari perbankan, maka ini bisa terus berkembang,” ujarnya.
Ia juga berharap teknologi energi berbasis biomassa dapat membantu pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan sampah, khususnya di wilayah Kubu Raya, Kota Pontianak, dan Mempawah yang tergabung dalam kerja sama regional Kopunwah.
Menurut Sukiryanto, pengolahan sampah menjadi energi dapat menjadi solusi bagi masalah lingkungan yang selama ini belum terselesaikan.
“Kami tidak semata mengejar keuntungan, tetapi lebih pada bagaimana persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah dapat diselesaikan. Mudah-mudahan kehadiran pembangkit ini menjadi pemicu agar sampah tidak lagi menjadi persoalan bagi daerah,” katanya. (jee)