Melawi, SP - Menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih berlangsung, Forum Pembangunan Berkelanjutan Melawi (FPBM) menggelar Forum Rembuk Warga di Nanga Pinoh, Sabtu, (5/9). Forum ini membahas kondisi tanggap darurat, kebutuhan lapangan, bantuan kemanusiaan, hingga strategi mitigasi dan pemulihan pascabencana.
Ketua FPBM, M. Firman, menegaskan pertemuan digagas untuk membangun gerakan kepedulian dan kemandirian masyarakat.
“Karhutla ini persoalan bersama. Yang terbakar memang lahan, tapi dampak asap, gangguan kesehatan, krisis air, dan terganggunya aktivitas dirasakan seluruh warga,” ujar Firman.
FPBM bersama Komunitas Merampot dan KGBN telah memulai gerakan donasi dari dana awal Rp1,5 juta untuk membeli logistik petugas pemadam. Setelah dipublikasikan, donasi berkembang hingga bisa menyediakan sekitar 200 bungkus makanan bagi petugas. Firman juga mengusulkan pembentukan posko yang mudah dijangkau warga untuk menyalurkan bantuan langsung ke lapangan.
"Sekarang kita perlu mencari solusi dan mitigasi bencana yang sedang terjadi serta langkah kedepan pasca .encana terjadi, " Katanya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Daniel, menyampaikan Melawi telah mengalami lebih dari 70 hari tanpa hujan. Dampaknya meliputi krisis air bersih, debit Sungai Pinoh menyusut, dan peningkatan laporan gangguan kesehatan akibat asap. Daniel juga mengungkapkan adanya indikasi pembakaran disengaja. Di kawasan Bukit Condong dan Panorama ditemukan barang yang diduga terkait pembakaran seperti karung dan korek api. BPBD kini berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Melawi untuk patroli dan efek jera.
"Luasan kebakaran di Melawi diperkirakan telah mendekati 5000 hektare dengan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah. Kebakaran juga terjadi di kawasan konsesi PT Rafi hingga ke desa Laman Bukit dan Sepan Tonak, serta 200 hektare lahan karet dan sawit warga di Nanga Tikan yang diduga terbakar karena puntung rokok saat acara pernikahan, " ungkapnya.
BPBD mencatat Melawi sudah memasuki masa tanggap darurat selama dua minggu dan akan dievaluasi untuk kemungkinan perpanjangan. Untuk mitigasi jangka panjang, BPBD mengusulkan pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) dengan memanfaatkan jaringan Karang Taruna di 169 desa.
Sementara itu, Lembaga SUAR mengusulkan pembangunan embung biomembran ukuran 2x3 meter dengan sebagai cadangan air saat kebakaran.
“Embung di lokasi tinggi bisa menampung air hujan dan jadi cadangan saat terjadi kebakaran,” kata Sukartaji Ketua SUAR.
Taji, sapaan akrabnya mengungkapkan dampak ekonomi sangat besar akibat karhutla. Seperti di Selalu, Kebun karet dan pinus yang terbakar berarti hilangnya sumber pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah. SUAR mengusulkan bantuan bibit jangka pendek berupa padi, jagung, ubi, dan jangka panjang berupa karet, kopi, dan buah-buahan.