PENTINGNYA mewaspadai terorisme plus selayaknya untuk mengapresiasi pengabdian jajaran Korps Bhayangkara, setidaknya memaknai alur cerita film Sayap-sayap Patah.
Film ini mengangkat kisah nyata tentang perjuangan jajaran kepolisian , termasuk Tim Detasemen Khusus 88 Antriteror 88 (Densus 88), ketika menggagalkan amukan ratusan narapidana teroris (napiter).
Film ini ditayangkan perdana (premiere) di bioskop-bioskop di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) sejak Kamis, 18 Agustus 2022 , disusul di seluruh Indonesia termasuk di Kalimantan Barat (Kalbar) sejak awal September 2022.
Judul film ini diadaptasi dari titel buku karya Jubr?n Khal?l Jubr?n, seorang seniman, penyair dan penulis kelahiran Lebanon, 6 Januari 1883, wafat pada 10 April 1931, yang masa produktifnya adalah di AS.
Adapun film Sayap-sayap Patah juga terinspirasi dengan pengabdian Iptu Sulastri, seorang personel dari Tim Densus 88 Polri, kini Kasat Reskrim Polri di jajaran Polda Kalbar berpangkat AKP.
Ketika peristiwa, AKP Sulastri SH, MM, bertugas mengamankan Rutan Markas Komando Brimob Kelapa Dua di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, yang juga merupakan Rutan Cabang Salemba.
Pada Selasa, 8 Mei 2018, sebanyak 155 napiter di rutan tersebut nekat menyandera anggota polisi selama sekitar 39 jam.
Namun, mereka akhirnya menyerahkan diri pada Kamis. 10 Mei 2018 pagi, yang juga diwarnai tewasnya lima anggota Tim Densus 88, serta satu tahanan.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri saat itu, Brigjen (Pol) M Iqbal ketika itu menjelaskan, Kronologi penyerbuan Mako Brimob Kelapa Dua berawal sekitar pukul 21.30 WIB.
Konflik antara aparat dan tahanan terus meningkat pada esok harinya, Rabu, 9 Mei 2018 dini hari,. Aparat kepolisian melakukan pengamanan di sekitar Mako Brimob dengan memasang kawat berduri.
Akses jalan di depan Mako Brimob pun ditutup sementara. Personil Brimob dikerahkan untuk berjaga-jaga di sepanjang jalan tersebut.
Insiden berdarah ini, bermula dari cekcok antara para petugas dan napiter terkait pemberian ransum makanan. Ketika kerusuhan semakin menjadi-jadi, dilansir Kompas, lima anggota Densus 88 Antiteror dan satu orang napi teroris, tewas. Terlihat pula, para napiter berhasil merebut senjata petugas dan menyandera satu anggota Densus 88 Antiteror lainnya. Hingga Rabu tengah malam, napi teroris berhasil menguasai seluruh rutan Mako Brimob. Polisi hanya bisa berjaga di luar gedung.
Pada Kamis, 10 Mei 2018 sekitar pukul 00.00 WIB, polisi yang menjadi sandera terakhir, berhasil dibebaskan dalam keadaan hidup. Korban mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh. Pembebasan personel bernama Bripka Iwan Sarjana tersebut, merupakan hasil negosiasi dengan pihak napiter yang meminta makanan.
Pukul 02.18 WIB, satu unit mobil barakuda masuk ke dalam Mako Brimob untuk mengambil alih rutan. Sebelum melakukan penyerbuan, pihak kepolisian terlebih dahulu memberikan ultimatum kepada para tahanan sebelum menyerahkan diri. Ada 145 tawanan yang menyerahkan diri. Sementara itu, ada 10 orang lainnya yang sempat melawan.
Namun, setelah beberapa saat, 10 tahanan itu akhirnya juga menyerahkan diri. Pukul 07.25 WIB, terdengar bunyi ledakan keras dan suara tembakan dari arah dalam Mako Brimob Kelapa Dua. Inilah tanda bahwa kerusuhan telah berhasil diamankan oleh aparat.
AKP Satu-satunya Polwan yang Selamat
AKP Sulastri merupakan satu-satunya polwan yang selamat dari korban teroris tersebut. Bagi AKP Sulastri kepada Suara Pemred, pengalamannya selama bertugas di Mako Brimob Kelapa Dua tersebut, merupan risiko sebagai seorang insan Korps Bhayangkara.
Anak kedua dari enam bersaudara kelahiran Bengkayang, 10 Mei 1980 ini, lalu, mengalami luka cukup parah di bagian wajah akibat dianiaya para napi teroris. Sulastri sempat dirawat di RS Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua, Depok.
Ketika itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang baru tiba di Tanah Air dari Yordania, menyempatkan diri membezuknya. Kepada Tito, Sulastri menceritakan detik-detik kekejaman para napi teroris. Sulastri dianiaya menggunakan tabung pemadam kebakaran. "Ributnya bukan di ruang pemeriksaan?" tanya Tito, sebagaimana pula terungkap lewat sebuah video yang di media sosial, Jumat, 11 Mei 2018.
Istri Tito, Tri Suswati Karnavian, yang ikut menjenguk, tampak mengusap-usap badan Sulastri. Sedangkan Sulastri tampak kesulitan berbicara karena luka di pipinya. "Jadi (keributannya) bukan di ruang tahanan?" tanya Tito lagi. "Bukan, Bapak. Karena itulah kami nggak tahu," jawab Sulastri, dilansir Detikcom. "Tiba-tiba dia (napiter) menerobos keluar?" Tito bertanya lagi. "Tiba-tiba nggak ada orang, saya minta bantuannya," sambung Sulastri.
Sulastri bersama sejumlah petugas lainnya yang berjaga sempat dikejar para napi napiter dengan peralatan yang ada. "Setelah itu, kita keluar, anggota semua (keluar). Anggota yang turun itu yang saya lihat Iwan (Bripka Iwan Sarjana) juga. Saya turun, mereka ke bawah bawa kayu, pakai helm," kata Sulastri.
Secara terpisah, menurut Kadiv Humas Polri ketika itu, Irjen Setyo Wasisto, Sulastri mendapat pukulan berat dari para napi teroris. "(Sulastri) pakai tabung pemadam kebakaran," kata Setyo.
Tiga polisi, termasuk Sulastri, mengalami luka berat dalam peristiwa itu. Sedangkan lima polisi gugur, yakni Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho; Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji; Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi; Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli; dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.
Tindakan Pembangkangan
Menurut Brigjen M Iqbal, tindakan yang dilakukan kelompok napi teroris ini adalah sebuah pembangkangan. Polisi pun melakukan tindakan sesuai dengan prosedur di samping melakukan negosiasi. "Di dalam ini jelas bahwa menampilkan pembangkangan teroris. Karena itu, untuk ditegakkan SOP di rumah tahanan. Terbukti, petugas kami disandera, senjata diambil, bahkan meninggal dunia," tegasnya.
Diproduseri oleh penggigat media sosial Denny Siregar dengan skenario tulisan Monty Tiwa, Sayap-sayap Patah menceritakan tentang pengorbanan jajaran Korps Bhayangkara termasuk AKP Sulastri.
Menurut Denny, film aksi drama Indonesia ini juga sarat dengan cerita romantis rumah tangga seorang polisi.
Adapun judul Sayap-sayap Patah, menurut Monty Tiwa, mengartikan tentang luka Indonesia akibat dari ulah para teroris.
AKP Sulastri sendiri masih trauma sehingga sempat menolak untuk menonton film tersebut ketika diputar perdana di sebuah bioskop bergengsi di Kabupaten Kubu Raya.
Film yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo ini, merupakan produksi Maxima Pictures dan Denny Siregar Production.
Menampilkan bintang utama Nicholas Saputra dan Ariel Tatum, Sayap-sayap Patah mengisahkan seorang anggota polisi yang harus siaga dalam tugas khususnya selama kerusuhan berdarah tersebut.
Denny mengungkapkan banyak pesan moral yang ingin disampaikan melalui tayangan film itu.
Terutama membuka mata masyarakat bahwa aksi terorisme sangat kejam dan mengancam kehidupan umat manusia.
"Pada intinya kita ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa terorisme itu ada, nyata dan kejam," ujar Denny saat dimintai keterangan pada Jumat, 12 Agustus 2022.
"Sebenarnya film ini juga menggambarkan bagaimana keluarga daripada kepolisian terutama Densus 88 itu juga mendapatkan tekanan yang sama," lanjutnya.
Denny pun, dilansir Tribun News, berharap bahwa manfaat yang bisa diperoleh dari tontonan film itu dapat semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Untuk itu, lanjutnya, karya serupa akan terus diproduksi dengan tujuan Indonesia terbebas dari paham-paham radikalisme dan terorisme.
"Saya tidak hanya akan memproduksi satu ini, saya akan memproduksi banyak film yang lainnya," ungkapnya.
Terorisme bukan hanya mengancam warga sipil namun juga mengancam aparat keamanan.
Seperti meninggalnya lima anggota polisi akibat kerusuhan narapidana kasus terorisme dengan diawali oleh aksi penyanderaan terhadap anggota polisi.
Bela NKRI, Lawan Gerombolan Teroris!
Melalui film yang diangkat dari kejadian nyata itu, Denny juga mengajak kepada publik agar bersama-sama melawan dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap paham serta gerakan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
"Saya ingin semua orang itu melawan teroris, dan tidak menerima mereka sebagai bagian daripada NKRI. Yang saya bicarakan itu adalah pemikirannya, bukan orangnya," tegas Denny.
"Orangnya, kalau dia mau kembali kepada NKRI, berarti kita rangkul kembali, tapi pemikiran yang kita tolak jauh-jauh," lanjutnya.
Nicholas dalam film ini berperan sebagai Adji, seorang anggota tim Detasemen Khusus (Densus) 88 yang bertugas di Mako Brimob; dan Ariel sebagai Nani, istri Adji.
Sementara Edward Akbar memerankan karakter Murot, anggota komplotan teroris.
"Karakter Murot ini memang menantang buat saya, di karakter Murot ini yang menantang untuk saya adalah silent act," tutur Edward Akbar di XXI Epicentrum Jakarta Selatan.
"Saya harus menyampaikan banyak pesan tanpa saya bicara, itu yang saya senangi dalam film ini," terangnya.
"Saya senengnya tuh karena itu saya bisa meranin tindakan diam yang menantang karakter saya," jelas Edward tentang adegannya yang tanpa dialog.
Film ini bercerita mengenai sepasang suami istri, yakni Adji an Nani yang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka.
Tapi, pekerjaan Adji sebagai seorang personel kepolisian membuatnya tidak dapat selalu menemani Nani. Saat Adji sedang menjalankan tugasnya, terjadi kerusuhan yang mengubah nasib keluarga kecil mereka.
Hari Pertama Sedot Sejuta Penonton
Sayap-sayap Patah masuk ke dalam dalam deretan film terlaris 2022 karena berhasil menyedot satu juta penonton pada pertama dirilis pada 18 Agustus 2022, sehari setelah Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebelumnya, terdapat tujuh film seperti Sayap-sayap Patah yang juga berhasil mengumpulkan sejuta penonton lebih. Ketujuh film itu antara lain KKN di Desa Penari, Pengabdi Setan; Kukira Kau Rumah; The Doll 3, dan Kuntilanak 3.
Pada Rabu, 31 Agustus 2022, dilansir Liputan6, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menangis saat menonton film tersebut di XXI Metropole, Jakarta Pusat.
“Pada saat itu, saya membayangkan istri saya seringnya ditinggalkan. Udah nangis beneran (sambil ketawa kencang)”, lanjut Moeldoko.
Film Sayap-Sayap Patah berhasil menghipnotis penontonnya dengan alur cerita yang luar biasa, menurut pengakuan Moeldoko. “Saya secara pribadi melihat ini luar biasa”, kata Moeldoko dengan bangga. Bukan tanpa tujuan Moeldoko mengajak rekan-rekan muda yang bekerja di staf kepresidenan untuk ikut nonton bareng Sayap-Sayap Patah.
Moeldoko ingin anak buahnya yang bekerja di institusi pengambil kebijakan, dapat mengambil makna dalam setiap peristiwa atau momen penting yang terjadi. “Kalau mereka bisa memaknai sebuah peristiwa, maka mereka akan kaya dengan masukan untuk merumuskan kebijakan, gitu kira-kira. Yang kedua, siapa tahu dari mereka nanti akan ada yang dapet tentara atau polisi ya seperti itu,” katanya.***
Reporter: Tim Suara Pemred
Sumber: Liputan, berbagai sumber
Penulis & Editor: Tim Suara Pemred
AKP Sulastri: Tuhan selalu Hadir dalam Hidup Saya!
FILM Sayap-sayap Patah tak lepas dari romantika yang dialami oleh AKP Sulastri SH MM. Sulastri sempat menjadi korban amukan 155 narapidan teroris (napiter) di Mako Brimob Kelapa Dua, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Selasa, 8 Mei 2018.
Ketika itu, Sulastri berpangkat Ipda yang ditugaskan melakukan pengamanan sebagai anggota Detasemen Khusus 88 (Densus) Antiteror Polri di TKP tersebut.
Anak kedua dari enam bersaudara, kelahiran Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, 10 Mei 1980 ini, sempat cedera.
Betapa tidak, kepalanya dihantam dengan tabung gas oleh napiter sehingga giginya rontok.
Sulastri pun satu-satunya polwan yang selamat dari insiden berdarah tersebut.
Dewasa ini, Sulastri adalah satu-satunya polwan di jajaran Satreskrim Polda Kalbar.
Yang pasti, perjuangan Sulastri untuk menjadi bagian keluarga korps Bhayangkara, tidaklah mudah.
Salah satu ujian berat yang dirasakannya adalah keterbatasan dana dari orang tuanya ketika masih bersekolah.
Maklumlah, keluarga Sulastri terbilang berekonomi menengah ke bawah, sehingga untuk mengenyam pendidikan yang layak saat itu, sangatlah mustahil baginya.
Namun, dengan keterbatasan dana dari orang tuanya, semua itu tidak menyurutkan semangat Sulastri untuk melanjutkan pendidikan demi mengubah nasibnya.
Bagi Sulastri, takdir setiap orang memang tidak bisa diubah, namun nasib seseorang masih bisa diperbaiki.
Salah satunya, dengan cara mendapatkan pendidikan yang baik sebagai bekal diri, ketika kelak memasuki dunia kerja .
Untuk dapat melanjutkan pendidikannya, Sulastri pun saat itu terpaksa berpisah dengan keluarganya, dan memilih tinggal bersama ayahnya, seorang guru.
Saat mengeyam pendidikan SMA, misalnya, Sulastri hanya bermodal semangat, dan tekun belajar.
Sulastri ingin memberikan prestasi yang membanggakan, bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga sebagai ungkapan wujud terima kasihnya kepada almarhum ayahnya.
Sang ayah selama ini telah membiayai sekolanyahnya. Selain giat belajar, Sulastri juga sembari bekerja untuk membantu nafkah keluarga.
Setelah lulus SMA, Sulastri kemudian ditawari untuk ikut menjadi abdi negara , yakni sebagai seorang polwan.
Pedihnya Menahan Lapar
Saat itu, Sulastri pun mencoba peruntungannya dengan mengikuti pendaftaran dan seleksi penerimaan Bintara Polri.
Sulastri lolos seleksi yang membawanya sebagai seorang polwan.
Sulastri pun mengisahkan campur tangan Tuhan yang dirasakannya selama mengikuti seleksi penerimaan Bintara Polri.
Banyak lika-liku yang dilaluinya, mulai dari menahan lapar, hingga tak punya ongkos untuk membayar bus yang ditumpanginya karena hanya bermodal nekat.
“Banyak keterbatasan pada saat itu, salah satunya dengan kekurangan ongkos naik bus untuk berangkat mengikuti seleksi Polri," kenangnya.
"Selain kekurangan ongkos waktu itu, saya juga merasakan bagaimana rasanya menahan lapar, karena untuk makan saja susah, karena uang habis untuk ongkos bus," lanjutnya.
Sulastri: Banyak Orang Baik dalam Hidup Saya
Namun dengan keterbatasan itulah Sulastri terus berjuang .
"Dengan banyak kekurangan itulah, saya diberikan kelebihan, juga melalui campur tangan Tuhan yang saya rasakan. Ada saja orang-orang baik yang memberi saya makanan, saat saya lapar,“ kenang Sulastri.
Sulastri pun memulai karir pertamanya ini sebagai seorang Bintara di Polresta Pontianak, kemudian dirotasi dan ke Polda Metro Jaya kemudia ke Polres Depok.
Dari Polres Depok, Sulastri berpindah tugas ke Mabes Polri, dan ditempatkan di jajaran Densus 88 Antiteror Polri.
Dari situlah Sulastri kemudian ditempatkan di Polda Klabar.
Sulastri lantas ditugaskan sebagai Kepala Polisi Sektor Pontianak Kota pada 2021.
Saat bertugas sebagai Kapolsek Pontianak Kota, Sulastti dikenal sebagai sosok polisi lemah lembut yang cepat berbaur dengan masyarakat.
Sulastri ingin menjadikan momentum ini sebagai motivasi kepada rekan-rekan sesama polwan.
Dia menekankan bahwa perempuan juga mampu menjadi seorang Kasat Reskrim.
"Saya juga berharap agar polwna-polwan lainnya tak ragu, dan terus memacu semangat untuk mengukir prestasi dalam bertugas sebagai pelayan negara," sarannya.
“Sebagai seorang polwan, kita harus tetap bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja iklas, dan tetap semangat dalam mengayomi dan melayani masyarakat," katanya.
"Kita harus tunjukkan bahwa polwan mampu berdedikasi untuk mengayomi, dan bekerjasama dengan masyarakat, untuk menumpas semua kejahatan, di manapun kita bertugas. Sebagai polwan, jangan ragu untuk maju dan terus mengukir prestasi,“ tegasnya.(qw)