JAKARTA, SP - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan hot spot atau titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sudah menurun secara signifikan mencapai 789 titik dibandingkan beberapa hari lalu yang masih mencapai 1.176 hot spot.
"Hal tersebut berdasarkan data dari satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20," ujar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dihadapan awak Media di Jakarta.
Menurut Raja Juli, pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, perkembangan hotspot high confidence tercatat antara lain:
• Sumatera Selatan: 130 titik, turun dari 224 titik;
• Kalimantan Tengah: 86 titik, turun dari 225 titik;
• Kalimantan Selatan: 37 titik, meningkat dari 31 titik;
• Kalimantan Barat: 12 titik, turun dari 47 titik;
• Jambi: 3 titik, turun dari 16 titik; dan
• Riau: nihil, tetap nihil.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot high confidence, turun dari 543 titik sehari sebelumnya.
Lebih lanjut Menhut mengungkapkan penurunan tersebut merupakan perkembangan yang perlu terus dijaga.
"Kewaspadaan tidak dapat dikurangi karena dinamika karhutla dapat berubah dengan cepat dan kondisi antarwilayah tidak selalu sama," tegasnya.
Sementara, "Sumatera Selatan saat ini mencatat hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, diikuti Kalimantan Tengah", jelas Menhut.
Raja Juli mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar.
"Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan yang diperlukan," tuturnya.
Ditambahkannya, operasi Darat dan Udara tetap diperkuat dalam pengendalian karhutla serta terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terkait.
"Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing," ucapnya.
"Operasi udara berjalan bersama penanganan di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan," pungkasnya.
Disisi lain, Menhut Raja Juli menjelaskan perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.
Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan, Wahju Rudianto, mengatakan peran strategis penyuluh sebagai garda terdepan di tingkat tapak. Penyuluh kehutanan juga merupakan unsur penting yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat tapak.
"Oleh karena itu, penguatan kapasitas penyuluh menjadi kunci dalam mendorong pencegahan karhutla melalui peningkatan kesadaran, kesiapsiagaan, dan partisipasi aktif masyarakat,” tutur Wahju.
Lebih lanjut, Wahju menyampaikan Karhutla tidak hanya berdampak pada kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati, namun juga berpengaruh terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta aktivitas sosial dan ekonomi.
"Upaya pencegahan dan deteksi dini perlu diperkuat melalui pelibatan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan," tutupnya. (*)