Opini post author Kiwi 14 Oktober 2026

Tetangga yang Berbeda Keyakinan: Berbaik Sangka dan Merawat Hubungan

Photo of Tetangga yang Berbeda Keyakinan: Berbaik Sangka dan Merawat Hubungan

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com


"Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku mengira ia akan menjadikannya ahli waris." (HR. Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2624)

Di banyak lingkungan, pagar rumah kita hanya berjarak satu tembok dari pagar rumah yang lain, dan di baliknya hidup keluarga dengan keyakinan yang berbeda. Kita mendengar lantunan doa mereka di hari-hari tertentu, mereka mendengar azan kita.
Kadang kita saling melempar senyum, kadang hanya saling mengangguk, dan kadang juga, tanpa sadar, ada jarak yang tumbuh dari hal-hal yang tak pernah kita tanyakan: dugaan yang belum diperiksa, cerita dari orang lain yang kita telan mentah-mentah, atau rasa canggung yang dibiarkan menjadi dinding.
Padahal mereka orang-orang yang paling dekat dengan kita, yang lebih dulu tahu ketika lampu rumah kita padam terlalu lama, atau ketika ada yang sakit di dalamnya.

Rasulullah saw mengajarkan cara memandang manusia yang melampaui sekat keyakinan. Suatu hari, jenazah seorang Yahudi lewat di hadapan beliau, lalu beliau berdiri.
Ketika para sahabat mengingatkan bahwa itu jenazah seorang Yahudi, beliau menjawab, "Bukankah ia juga manusia (jiwa)?" (HR. Bukhari no. 1312 dan Muslim no. 961).
Satu kalimat pendek itu menyimpan penghormatan yang dalam: sebelum seseorang adalah penganut agama tertentu, ia adalah manusia yang pantas dihormati.

Al-Qur'an menegaskan hal yang sama. "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil" (QS. Al-Mumtahanah: 8). Ayat ini bagai pintu halaman yang dibuka lebar, mengingatkan bahwa keadilan dan kebaikan adalah jalan yang Allah cintai, bahkan kepada mereka yang berbeda jalan ibadah dengan kita.

Ada kisah indah dari sahabat Abdullah bin Amr ra. Suatu hari keluarganya menyembelih seekor kambing. Ia bertanya, "Sudahkah kalian menghadiahkan sebagian kepada tetangga kita yang Yahudi?"
Lalu ia menuturkan alasannya: ia pernah mendengar Rasulullah bersabda tentang wasiat Jibril mengenai tetangga (HR. Abu Dawud no. 5152 dan At-Tirmidzi no. 1943). Perhatikan urutannya. Pertanyaan pertama bukan "apa agamanya?", melainkan "sudahkah kita berbagi?"

Rasulullah saw juga berpesan kepada Abu Dzar, "Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetanggamu" (HR. Muslim no. 2625). Kebaikan kepada tetangga tidak menunggu perayaan besar. Ia bisa berupa semangkuk kuah, sepiring kue, atau sekadar menanyakan kabar.

Di era digital, jarak antartetangga sering diperlebar bukan oleh pagar, tetapi oleh layar. Kabar yang belum jelas beredar di grup percakapan, potongan video memanaskan suasana, dan prasangka menyebar lebih cepat daripada sapaan.
Allah mengingatkan, "Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti" (QS. Al-Hujurat: 6). Rasulullah saw pun bersabda, "Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta" (HR. Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 2563).
Berbaik sangka bukan berarti polos. Ia berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk dikenal sebelum dinilai.

Hendaknya dijauhi sikap memvonis, sebab urusan akhir seseorang adalah hak Allah semata. Rasulullah saw mengingatkan, "Apabila seseorang berkata: manusia telah binasa, maka dialah yang paling binasa" (HR. Muslim no. 2623).
Bergaul dengan baik pun tidak berarti mencampuradukkan akidah dan ibadah. Allah mengajarkan batas yang jernih dan damai, "Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku" (QS. Al-Kafirun: 6). Kita menjaga keyakinan masing-masing, dan tetap merawat hubungan sebagai tetangga.

Inilah sikap yang Allah perintahkan: "Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh" (QS. An-Nisa': 36). Tetangga disebut dekat dan jauh, tanpa syarat keyakinan yang tertulis di dahinya.

Seperti hujan yang turun membasahi semua halaman, dan pohon di tepi pagar yang buahnya jatuh ke halaman sebelah tanpa bertanya siapa pemiliknya, begitulah kebaikan yang paling tulus mengalir: tidak memilih tanah, tidak menunggu balasan.
Sebab pagar rumah hanya memisahkan tanah, bukan hati, dan barangkali tidak ada yang perlu kita menangkan dari perbedaan ini selain kehangatan. Maka sapalah mereka dengan senyum, tanyakan kabarnya, kirimkan semangkuk makanan, dan jenguklah ketika mereka sakit, karena hal-hal kecil itulah yang diam-diam meruntuhkan dinding yang selama ini hanya kita bayangkan.
Boleh jadi, di hari ketika kita atau mereka dilanda kesulitan, kebaikan kecil yang pernah kita tanam akan menjadi tangan pertama yang terulur.

Ya Allah, lembutkanlah hati kami dan jauhkan kami dari prasangka serta kebencian. Jadikanlah kami tetangga yang baik bagi siapa pun yang tinggal di sekitar kami, teguhkanlah keyakinan kami, dan ajarilah kami berlaku adil dan penuh kasih kepada sesama manusia. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda