Opini post author Kiwi 13 Oktober 2026

Mute Sebentar: Manfaat Diam di Tengah Bisingnya Media Sosial

Photo of Mute Sebentar: Manfaat Diam di Tengah Bisingnya Media Sosial

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

"Segala kemalangan manusia bermula dari satu hal: ia tidak sanggup duduk diam di dalam sebuah kamar." (Blaise Pascal )

Satu jam lalu kita membuka ponsel "hanya sebentar". Jempol bergerak, video berganti, notifikasi berdenting, komentar saling berbalas. Ketika layar akhirnya gelap, kepala terasa penuh, tetapi hati anehnya kosong.
Kita telah mendengar puluhan atau ratusan suara, namun tak sempat mendengar suara kita sendiri. Di tengah dunia yang tak henti berbicara, siapa yang masih sempat diam?

Ada alasan mengapa kita takut pada diam. Kita ingin dilihat, didengar, dan disukai. Setiap unggahan seperti pertanyaan halus, "Apakah aku cukup?", dan setiap suka seperti jawaban yang kita tunggu-tunggu.
Dalam hiruk-pikuk itu, diam terasa seperti menghilang. Padahal justru dalam diam kita berjumpa dengan diri sendiri tanpa riasan. Di sana kita menyadari bahwa bahagia tidak harus menunggu tepuk tangan siapa pun, dan bahwa kita tetap berharga ketika tak ada yang likes, comments, atau menonton.

Diam juga memberi pikiran ruang untuk bernapas. Berbicara dan berpikir sulit dilakukan sekaligus. Mereka yang terburu-buru bersuara sering kali belum sempat memahami isi kepalanya sendiri.
Jeda sejenak sebelum membalas komentar, atau sebelum meneruskan kabar yang belum jelas, memberi kita kesempatan bertanya: benarkah ini, dan perlukah ini? Al-Qur'an mengingatkan, "Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya" (QS. Al-Isra': 36). Apa yang kita lihat, dengar, dan sebarkan, semuanya kelak akan ditanya.

Rasulullah saw bahkan memperingatkan betapa ringannya sebuah kata bisa menjadi berat akibatnya.
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang tidak ia perhatikan akibatnya, lalu kalimat itu menjerumuskannya ke neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat" (HR. Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988).
Di zaman ketika kata cukup diketik dalam sedetik dan menyebar dalam sekejap, peringatan ini terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Namun diam bukan kelemahan. Ketika Maryam kembali kepada kaumnya dengan bayi dalam gendongan dan tahu bahwa tuduhan akan datang, Allah mengajarkannya untuk berkata, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini" (QS. Maryam: 26).
Ia tidak membalas dengan pembelaan panjang. Ia menyerahkan urusannya kepada Allah, dan sang bayi yang menjawab untuknya. Ada saat ketika diam yang dijaga dengan tawakal lebih menenangkan daripada seribu bantahan.

Maka "mute" sebentar bukan berarti lari dari dunia. Ia bisa berupa mematikan notifikasi yang terus menarik perhatian, menyenyapkan akun yang selalu menyulut amarah, dan menahan jempol dari dorongan untuk membalas.
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47). Diam adalah cara menyiapkan diri, supaya ketika kita berbicara, kata-kata kita lebih jernih, dan ketika kita mendengar, hati kita benar-benar hadir.

Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara, melainkan lebih banyak ruang. Ruang untuk mendengar napas sendiri. Ruang untuk menatap wajah orang-orang tercinta tanpa layar di tangan.
Ruang untuk menyadari bahwa hati yang lelah tidak selalu perlu dihibur, kadang ia hanya ingin ditemani. Tekanlah tombol "mute" sebentar.
Dunia akan tetap ramai saat kita kembali, tetapi kita akan kembali sedikit lebih tenang, sedikit lebih lembut, dan sedikit lebih dekat dengan suara hati yang lama kita tinggalkan, juga dengan Tuhan yang selalu dekat, bahkan dalam sunyi.

Ya Allah, ajarilah kami diam yang menenangkan dan bicara yang menyejukkan. Lepaskanlah hati kami dari dahaga akan tepuk tangan, jagalah lisan dan jari kami dari melukai sesama, dan dekatkanlah kami kepada-Mu dalam sunyi. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda