Opini post author Kiwi 13 Oktober 2026

Satu Pesan dari Banyak Kitab Suci: Cepat Mendengar, Lambat Berbicara

Photo of Satu Pesan dari Banyak Kitab Suci: Cepat Mendengar, Lambat Berbicara

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

"Kita diberi dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara." (Zeno dari Citium, filsuf Stoa, ±334-262 SM),

Pernahkah Anda menyesal bukan karena sesuatu yang tidak sempat dikatakan, melainkan karena sesuatu yang terlalu cepat terucap? Kalimat tajam saat lelah, balasan pesan yang dikirim dalam amarah, komentar yang diketik tanpa jeda. Beberapa detik kemudian kita ingin menariknya kembali, tetapi kata-kata itu bagai anak panah yang telah lepas dari busurnya dan tak bisa dipanggil pulang.

Sebaliknya, ada saat ketika seseorang hanya duduk di samping kita, tidak banyak bicara, hanya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan entah mengapa dada terasa lebih lapang. Tanpa satu pun nasihat, ia seolah berkata: kamu berharga untuk didengar.

Mendengarkan memang bukan sekadar diam menunggu giliran bicara. Ia cara paling sederhana untuk berkata, "Kehadiranmu penting bagiku." Kepercayaan tumbuh dari telinga yang bersedia menampung, bukan dari lidah yang paling cepat menjawab.
Menariknya, kearifan ini tidak lahir dari satu tradisi saja. Seolah-olah banyak kitab suci berbisik dengan suara yang sama.

Dalam Islam, Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Al-Qur'an mengingatkan bahwa "tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" (QS. Qaf: 18). Setiap kata ternyata tercatat, dan karena itu layak ditimbang sebelum dilepas.

Pesan serupa terdengar dalam Alkitab. "Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah" (Yakobus 1:19).
Kitab Amsal menambahkan, "Dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi" (Amsal 10:19). Dalam tradisi Yahudi, Rabi Shimon ben Gamliel berkata dalam Pirkei Avot (1:17) bahwa sepanjang hidupnya di antara para bijak, ia tidak menemukan sesuatu yang lebih baik bagi seseorang daripada diam.

Dari timur, pesan serupa hadir dalam beberapa kitab dan ajaran klasik, yang di sini disajikan dalam bentuk parafrasa. Misalnya, Bhagavad Gita (17:15) menyebut tutur kata yang tidak menyakiti, benar, menyenangkan, dan bermanfaat sebagai bentuk tapa dalam ucapan, dan tradisi Hindu juga mengenal mauna, laku hening yang menjernihkan batin.
Dalam ajaran Buddha, Dhammapada (ayat 100) mengingatkan bahwa satu kata bermakna yang menenangkan hati pendengarnya lebih berharga daripada seribu kata hampa, selaras dengan semangat Samma Vaca (ucapan benar), yakni menjauhi dusta, fitnah, kata kasar, dan obrolan sia-sia.
Sementara dalam Lun Yu (4:24), Konfusius mengajarkan bahwa insan berbudi hendaknya lambat dalam berkata-kata, tetapi cekatan dalam bertindak.

Enam jalan yang berbeda ini bertemu di satu titik: lidah adalah amanah, dan telinga adalah pintu kebijaksanaan. Perbedaan tidak pernah menghapus kesamaan ini.

Di zaman sekarang, pesan itu terasa semakin mendesak. Dulu satu kata yang keliru hanya terdengar di satu ruangan. Kini ia bisa menyebar ke ribuan layar dalam hitungan detik, dan jejaknya tinggal lama.
Kita hidup di zaman ketika semua orang ingin didengar, tetapi sedikit yang bersedia mendengar. Kolom komentar penuh suara, sementara hati banyak orang sepi karena tak ada yang sungguh menyimak.

Maka sebelum mengetik atau berucap, mari beri diri sedikit jeda. Tanyakan dalam hati: apakah ini benar, apakah ini baik, apakah ini berguna? Jika jawabannya tidak, diam bukanlah kekalahan; diam adalah cara kita menjaga hati orang lain, dan menjaga diri kita sendiri.

Barangkali dunia tidak kekurangan orang pandai berbicara. Dunia merindukan orang yang mau duduk, menatap, dan mendengar sampai tuntas, sebab di balik setiap ucapan yang keras, sering ada hati yang kelelahan dan ingin dimengerti.
Seperti telaga yang tenang memantulkan langit dengan jernih, hati yang hening mampu memantulkan kebaikan kepada siapa pun yang datang kepadanya. Karena itu, jadilah telinga yang menenangkan bagi seseorang hari ini, sebab boleh jadi, satu kali mendengar dengan tulus lebih menyembuhkan daripada seribu nasihat.

Ya Allah, ajarkanlah kami cepat mendengar dan lambat berkata. Jagalah lisan dan jari kami dari kata-kata yang melukai, dan lembutkanlah hati kami agar mampu menampung keluh kesah sesama. Jadikanlah ucapan kami penyejuk, dan diam kami penuh kebijaksanaan. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda