Opini post author Kiwi 08 Oktober 2026

Benci atau Cinta pada Ilmu: Refleksi di Era Digital

Photo of Benci atau Cinta pada Ilmu: Refleksi di Era Digital

Oleh: Ahmad Jais. Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

"Ilmu itu tidak akan didapatkan oleh orang yang meremehkan dirinya sendiri, dan tidak pula oleh orang yang sombong." (Imam Malik bin Anas, 711-795 M)

Di layar ponsel, sebuah ceramah singkat tentang fikih muncul di beranda media sosial. Namun alih-alih menyimaknya sampai tuntas atau mencari penjelasan lebih dalam, jari-jari justru lebih cepat mengetik komentar sinis, "sok tahu", "ustadz karbitan", "mending diam saja daripada sok alim".
Di kolom lain, seorang penceramah yang keliru mengucapkan satu istilah Arab langsung dibanjiri tangkapan layar yang disebarluaskan dengan nada mengolok-olok, tanpa ada yang repot-repot mengoreksi dengan santun, apalagi mendoakan kebaikan baginya.
Inilah wajah nyata era digital kita hari ini, sebuah zaman ketika membenci ilmu dan orang-orang yang menyampaikannya terasa jauh lebih mudah, lebih cepat, bahkan lebih "viral", dibandingkan upaya mencintainya, mempelajarinya, atau sekadar mendengarkannya dengan hati terbuka.

Padahal, Rasulullah saw telah memberikan empat pilihan mulia bagi setiap hamba yang ingin selamat (naja). Beliau bersabda, "Jadilah engkau seorang yang berilmu, atau penuntut ilmu, atau pendengar, atau pencinta ilmu, dan janganlah menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa" (HR. Thabrani dan Al-Bazzar).
Empat posisi ini sesungguhnya sangat lapang bahkan seseorang yang belum sempat belajar sekalipun masih punya jalan selamat, asalkan ia mencintai ilmu dan memuliakan para pemiliknya.
Namun ironisnya, posisi kelima yang justru paling mudah dijangkau di era digital ini, yakni membenci ilmu dan mencibir ahlinya, adalah satu-satunya jalan yang disebutkan Nabi sebagai jalan kebinasaan.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejak zaman dahulu, selalu ada orang yang memilih mencela dibanding belajar. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, ketika ditanya tentang siapa "golongan kelima" yang dimaksud dalam hadis dan atsar Abu Darda ra, menjawab tegas, "Al-mubtadi'" , mereka yang menciptakan jalan sendiri di luar empat jalan mulia tersebut, termasuk di dalamnya sikap memusuhi ilmu dan ahlinya tanpa dasar yang benar.
Hanya saja, di masa lalu kebencian semacam ini terbatas pada lingkup kecil; kini, lewat layar digital, satu komentar sinis bisa menyebar dalam hitungan detik ke ribuan orang.

Allah berfirman, "Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" (QS. Az-Zumar: 9).
Ayat ini bagai cermin yang memantulkan kembali wajah kita sendiri di hadapan ilmu, apakah kita termasuk yang berusaha memahami, ataukah justru yang menolak bahkan sebelum mencoba mengerti? Sikap semacam ini ibarat seseorang yang menutup mata sebelum melihat cahaya, lalu menyalahkan kegelapan yang sesungguhnya ia ciptakan sendiri.

Ada kisah menarik dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, seorang ulama hadis besar yang di masa mudanya sering menjadi bahan cemoohan karena dianggap terlalu muda untuk berbicara tentang ilmu hadis yang rumit.
Alih-alih membalas dengan kemarahan, beliau memilih terus belajar dan membuktikan kesungguhannya lewat karya-karya besar yang hingga kini menjadi rujukan dunia Islam, seperti kitab Fathul Bari.
Beliau pernah berkata, "Biarkan lisan mereka berbicara apa yang mereka suka, sementara aku akan terus menulis apa yang bermanfaat bagi umat." Sikap ini mengajarkan satu hal penting: jawaban terbaik atas kebencian terhadap ilmu bukanlah perdebatan yang melelahkan, melainkan konsistensi dalam mencintai dan mengamalkan ilmu itu sendiri.

Imam Malik bin Anas rahimahullah menguatkan pelajaran ini dengan ucapannya, "Ilmu itu tidak akan didapatkan oleh orang yang meremehkan dirinya sendiri, dan tidak pula oleh orang yang sombong."
Pesan ini mengingatkan bahwa jalan menuju cinta pada ilmu dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri, bukan dari sikap sok tahu yang justru menjauhkan seseorang dari ilmu itu sendiri.

Di era digital, kemudahan menyebarkan opini tanpa verifikasi telah menciptakan budaya baru: mencela lebih cepat viral daripada mengoreksi dengan santun, dan nyinyir mendapat lebih banyak apresiasi dibanding penghargaan tulus terhadap sebuah ilmu yang disampaikan dengan susah payah. Rasulullah saw mengingatkan, "Cukuplah seseorang dianggap pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar" (HR. Muslim).
Peringatan ini sangat relevan bagi kita yang kerap membagikan potongan video atau tangkapan layar tanpa memahami konteksnya secara utuh, lalu menghakimi seseorang hanya dari sepenggal informasi yang belum tentu benar.

Karena itu, hendaknya kita menjauhi sikap membenci ilmu dan ahlinya yang kini bersembunyi di balik anonimitas akun media sosial, sebab sikap ini adalah jalan kelima yang justru membinasakan, jauh dari empat jalan mulia yang Allah bukakan bagi setiap hamba-Nya.
Allah berfirman, "Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan" (QS. Thaha: 114). Ayat ini merupakan sebuah doa yang justru mustahil terucap dari hati yang telah dipenuhi kebencian terhadap ilmu.
Sebagaimana lebah yang mendatangi setiap bunga untuk menghisap sarinya tanpa merusaknya, begitu pula hendaknya sikap kita terhadap ilmu: mendekat untuk mengambil manfaat, bukan mendekat untuk mencari kesalahan yang bisa dijadikan bahan cemoohan.
Kelak, setiap jari yang mengetik komentar dan setiap unggahan yang disebarkan tentang ilmu dan ahlinya akan menjadi catatan yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang berilmu, yang menuntut ilmu, yang mendengarkan dengan hati terbuka, atau setidaknya yang mencintai ilmu dan para pemiliknya.
Jauhkanlah kami dari sikap membenci ilmu yang menjadi jalan kebinasaan, dan sucikanlah lisan serta jari-jari kami dari kata-kata yang menyakiti hati sesama pencari kebenaran. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda