Opini post author Kiwi 06 Oktober 2026

Kejutan di Hari Pertama Tahun Kelima, 4 Tahun Mengabdi dan Menginspirasi: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I., di Kalimantan Barat

Photo of Kejutan di Hari Pertama Tahun Kelima, 4 Tahun Mengabdi dan Menginspirasi: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I., di Kalimantan Barat

ADA KEJUTAN yang benar-benar di luar dugaan saya pada hari pertama memasuki tahun kelima pengabdian sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat.

Senin, 5 Oktober 2026, saya datang memimpin apel kerja seperti biasa. Namun pagi itu menjadi berbeda ketika sebuah buku diserahkan kepada saya. Judulnya, “4 Tahun Mengabdi dan Menginspirasi: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I. di Kalimantan Barat.”

Saya terdiam sejenak.

Bukan karena melihat nama dan foto saya terpampang pada sampulnya. Justru yang membuat saya terharu adalah mengetahui bahwa perjalanan empat tahun yang saya jalani bersama keluarga besar Kementerian Agama Kalimantan Barat ternyata diam-diam dicatat, dihimpun, ditulis, dan dirangkai menjadi sebuah buku hampir 500 halaman.

Saya sama sekali tidak menduga akan menerima kejutan seperti ini.

Buku tersebut diterbitkan oleh Tim Humas, Data dan Informasi (HDI) Kanwil Kemenag Kalbar, dengan keterlibatan para pengarah, penasihat, ketua tim, editor, kontributor tulisan dan berita, serta berbagai pihak yang selama ini membersamai perjalanan pengabdian kami.

Membuka lembar demi lembar buku itu seperti diajak berjalan mundur menyusuri waktu.

Dari Pelantikan Menuju Pengabdian

Bab pertama, “Jejak Pengabdian di Tanah Khatulistiwa,” membawa saya kembali pada 4 Oktober 2022, ketika amanah sebagai Kakanwil Kemenag Kalbar diberikan kepada saya.

Tidak lama setelah pelantikan, perjalanan kerja dimulai. Mendampingi kontingen Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Nasional Kalimantan Barat, menghadiri MTQ Nasional, menghadiri berbagai kegiatan masyarakat, penguatan moderasi beragama, evaluasi program dan anggaran, penguatan zakat, kegiatan pesantren, pendidikan, serta berbagai pelayanan keagamaan lainnya.

Melihat kembali dokumentasi itu membuat saya semakin menyadari satu hal: pelantikan hanyalah awal sebuah amanah. Pengabdian yang sebenarnya dimulai ketika kita bekerja dan menghadirkan manfaat.

Dan perjalanan itu tentu bukan perjalanan saya seorang.

Di belakang setiap kegiatan ada ASN yang bekerja, ada guru dan tenaga kependidikan yang mengabdi, ada penghulu dan penyuluh yang melayani, ada jajaran Kankemenag dan KUA, madrasah, tokoh agama, organisasi keagamaan, serta begitu banyak mitra yang berjalan bersama.

Karena itu, jika ada sesuatu yang baik tercatat dalam buku ini, saya memandangnya sebagai hasil kerja bersama.

Ketika Pikiran Menjadi Tulisan

Saya kemudian sampai pada Bab II, “Pikiran yang Bekerja, Gagasan yang Berdampak.”

Bagian ini terasa sangat personal karena menghimpun berbagai tulisan yang selama ini saya bagikan melalui media sosial.

Ada refleksi Ramadan, puasa dan perjalanan batin; dialog pemikiran dengan Al-Ghazali, As-Suyuthi, Al-Mahalli, Rumi, Ibn Arabi, Al-Shatibi dan Ibn Qayyim. Ada pula kegelisahan mengenai persoalan sosial, ekonomi, pembangunan daerah, masyarakat kepulauan, hingga gagasan tentang Sangihe, tanah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan.

Selama ini saya menulis bukan karena merasa sebagai penulis. Saya menulis karena ada sesuatu yang ingin saya ingat, renungkan, dan bagikan.

Kadang pengabdian memang tidak selalu hadir melalui rapat, keputusan, atau kegiatan besar. Ia juga dapat hadir melalui sebuah tulisan sederhana yang mengajak orang berpikir, mengambil hikmah, kemudian mudah-mudahan bergerak melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Ketika Perjalanan Kita Dibaca Orang Lain

Memasuki Bab III, “Dibaca dari Luar: Muhajirin Yanis di Mata Tokoh Masyarakat,” perasaan saya menjadi berbeda.

Sebab di bagian ini saya tidak lagi membaca apa yang saya kerjakan atau saya tuliskan, tetapi membaca bagaimana orang lain memandang perjalanan tersebut.

Brigjen Pol. (Purn.) Drs. H. Andi Musa, S.H., M.H. menuliskan catatannya mengenai empat tahun pengabdian dan pemikiran. Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, MAg. melihat kepemimpinan dan pengabdian dari perspektif kemampuan menembus sekat dan ego sektoral.

Prof. Dr. Arief Sukino, MAg, menulis tentang jejak keteladanan, sementara Prof. Dr. H. Zaenuddin, SAg., M.A. merefleksikan empat tahun pengabdian sebagai Kakanwil.

Dr. H. Hamzah Tawil, MSi. menyoroti kebersamaan dan kolaborasi dengan BAZNAS, sedangkan Prof. Ibrahim menuliskan pandangannya mengenai jejak pengabdian dan pemikiran.

Membaca semuanya tentu membuat saya bersyukur, tetapi sekaligus merasa malu dan terbebani.
Sebab kata-kata baik dari orang lain bukanlah alasan untuk merasa telah berhasil. Justru ia adalah pengingat bahwa masih banyak harapan yang harus dijaga dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.

Suara dari Mereka yang Bekerja Bersama

Bab IV diberi judul “Dari Dalam Birokrasi: Mereka yang Bekerja Bersamanya.”

Bagian ini terasa lebih dekat lagi karena ditulis oleh mereka yang berinteraksi dan bekerja bersama saya dalam keseharian.
H. Rohadi, MSi. menulis “Empat Tahun Menjaga Amanah.” H. Nahruji, MSi. menulis “Dari Seorang Pemimpin, Kami Belajar tentang Pengabdian.”

H. Mi’rad, M.A.P. memberi judul tulisannya “Atasan dan Sahabat yang Tak Lelah Memotivasi.” Yosef Somen menyoroti keteladanan, kebersamaan, pembelajaran, dan semangat perubahan. Yanto menulis tentang empat tahun pengabdian dan kepemimpinan yang menginspirasi.
Dr. Sihnurjadi menuliskan refleksi kepemimpinan, sementara Hj. Umi Marzuqoh, S.E., M.E. melihat adanya energi baru dan semangat perubahan. H. Kaharudin, SAg. turut menyusuri jejak empat tahun pengabdian tersebut.

Saya membaca judul-judul itu dengan rasa haru, tetapi saya sadar bahwa saya belum tentu sebaik yang mereka tuliskan.

Saya memiliki kekurangan. Ada keputusan yang mungkin belum memuaskan semua pihak. Ada harapan yang belum tercapai. Ada program yang belum sempurna. Bahkan mungkin ada sikap dan perkataan saya yang tanpa sengaja pernah melukai.

Karena itu, tulisan mereka saya terima bukan sebagai pujian, melainkan sebagai doa sekaligus standar moral yang harus saya usahakan untuk dijaga.

Dilihat dari Balik Berita

Bab V, “Dibalik Berita: Muhajirin Yanis dalam Pandangan Wartawan,” menghadirkan perspektif lain.

Aep Mulyanto, S.Hum. menulis tentang birokrasi yang tidak menutup pintu, hubungan dengan pers, dan wajah kehidupan beragama di Kalimantan Barat. Marsita Riandini dari Pontianak Post melihat sisi keramahan dan komunikasi terbuka dengan awak media.

Saya percaya keterbukaan kepada media penting. Pemerintah tidak cukup hanya bekerja.

Masyarakat berhak mengetahui apa yang dikerjakan, mengapa sesuatu dilakukan, dan apa dampaknya bagi mereka.

Publikasi bukan sekadar membuat pejabat terlihat bekerja. Publikasi seharusnya membuat manfaat pekerjaan pemerintah dapat diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Suara dari Garis Depan

Bab VI diberi judul “Suara dari Garis Depan Pelayanan.” Dr. H. Kartono, M.Pd., Ketua IPARI Kalbar, menulis tentang kepemimpinan yang kehadirannya terasa. H. Masri, SAg., MSi., Ketua APRI Kalbar, melihat sosok yang sederhana dan berkarisma.

Sholihin HZ dari MAN 1 Pontianak menuliskan kesan dan testimoninya, sementara Syabarrudin, M.Pd., guru MAN 3 Pontianak dan pegiat konten pendidikan, menulis secara khusus “Muhajirin Yanis: Sosok Pencinta Literasi.”

Bagian ini kembali mengingatkan saya bahwa ukuran sebuah kepemimpinan bukan seberapa sering seorang pemimpin tampil di depan, tetapi seberapa jauh kehadirannya dapat dirasakan oleh mereka yang bekerja dan melayani langsung masyarakat.

Pejabat yang Menulis

Buku ini kemudian ditutup dengan epilog Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar, berjudul “Pejabat yang Menulis, Sebuah Kelangkaan Layak Dicontoh.”

Ada satu kalimatnya yang membuat saya tersenyum sekaligus merenung:

“Kalau pejabat biasanya ditulis, Pak Muhajirin Yanis justru memilih menjadi pejabat yang menulis.”

Dengan gaya khasnya, Rosadi melihat kebiasaan menulis di tengah rutinitas birokrasi sebagai sesuatu yang berbeda. Menurutnya, di tengah dunia birokrasi yang akrab dengan disposisi, nota dinas, stempel, dan tanda tangan, kebiasaan menulis terasa seperti “angin segar dari arah Sungai Kapuas.”

Saya tidak tahu apakah saya layak dengan penilaian tersebut.

Namun saya percaya satu hal: jabatan memiliki batas waktu, kegiatan akan selesai, foto perlahan menjadi arsip, tetapi gagasan yang dituliskan memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama daripada masa jabatan.

Karena itu saya ingin terus belajar menulis. Bukan untuk dikenang, tetapi agar pengalaman, gagasan, kegelisahan, dan pelajaran yang diperoleh selama mengabdi tidak berlalu begitu saja.

Bukan Buku tentang Saya Seorang

Setelah menutup halaman terakhir, saya justru sampai pada kesimpulan sederhana: Buku ini sesungguhnya bukan tentang saya seorang.

Buku ini adalah cerita tentang orang-orang yang selama empat tahun berjalan bersama.

Tentang ASN Kementerian Agama Kalimantan Barat yang bekerja dalam senyap. Tentang guru yang mendidik anak-anak kita. Tentang penghulu dan penyuluh yang berada di garis depan.

Tentang mereka yang melayani sampai ke daerah yang sulit dijangkau. Tentang tokoh agama dan masyarakat yang menjaga kerukunan. Tentang media yang menjadi jembatan informasi. Tentang para mitra yang bersedia berkolaborasi.

Dan tentu tentang keluarga yang terus mendoakan dan memahami bahwa sebuah amanah sering mengambil sebagian waktu kebersamaan.

Karena itu saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Tim Humas, Data dan Informasi (HDI) Kanwil Kemenag Kalbar, para pengarah, penasihat, ketua tim, editor, kontributor tulisan dan berita, seluruh tokoh yang bersedia menulis, serta semua pihak yang diam-diam menyiapkan kejutan ini.

Saya tidak pernah meminta buku ini dibuat. Bahkan saya tidak mengetahui proses penyusunannya. Mungkin justru karena itulah ia terasa begitu istimewa.

Tahun Kelima: Halaman Baru yang Masih Kosong

Empat tahun telah menjadi catatan. Tetapi perjalanan belum selesai.

Hari pertama tahun kelima justru mengingatkan saya bahwa masih ada halaman-halaman kosong yang harus kita tulis bersama.

Bukan lagi sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata, integritas, pelayanan yang semakin baik, keberpihakan kepada masyarakat, kerukunan yang semakin kuat, pendidikan yang semakin bermutu, serta program Kementerian Agama yang benar-benar berdampak.

Buku ini bukan monumen untuk melihat ke belakang terlalu lama. Bagi saya, ia adalah cermin untuk mengevaluasi diri sekaligus kompas untuk melangkah ke depan.

Apa yang sudah baik harus kita lanjutkan. Yang masih kurang harus kita perbaiki. Yang belum tercapai harus kita perjuangkan.

Dan kepada seluruh keluarga besar Kementerian Agama Kalimantan Barat, saya ingin mengatakan:

Terima kasih telah membersamai empat tahun perjalanan ini. Terima kasih atas kerja keras, kritik, dukungan, doa, dan kebersamaan. Mohon maaf atas segala kekurangan saya dan atas harapan-harapan yang belum mampu kita wujudkan.

Mari memasuki tahun kelima dengan semangat baru.

Sebab pada akhirnya, yang terpenting bukan berapa banyak halaman yang menuliskan nama kita, tetapi berapa banyak manfaat yang dapat dirasakan orang lain karena kita pernah diberi kesempatan untuk mengabdi.

Semoga Allah SWT menjaga langkah kita, meluruskan niat kita, dan menjadikan setiap amanah sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Empat tahun telah dituliskan. Tahun kelima sedang kita mulai. Mari menulis halaman berikutnya dengan pengabdian yang lebih bermakna. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda