Opini post author Kiwi 05 Oktober 2026

Moderasi Beragama sebagai Pilihan Sosial

Photo of Moderasi Beragama sebagai Pilihan Sosial

Oleh: Syamsul Kurniawan / Ketua Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban / PW Muhammadiyah Kalimantan Barat

ADA satu pertanyaan yang kerap luput ketika kita berbicara tentang moderasi beragama: mengapa seseorang memilih menjadi toleran, sementara orang lain memilih menjadi keras terhadap perbedaan?
Kita sering menjawabnya dengan pendidikan, lingkungan, keluarga, atau kualitas pemahaman agama. Semua itu tentu penting. Tetapi di balik berbagai faktor tersebut, ada lapisan lain yang tidak kalah menentukan, yakni pilihan manusia sendiri dalam merespons realitas yang dihadapinya.

Di sinilah pemikiran William Glasser melalui Choice Theory menjadi relevan. Glasser dalam bukunya berjudul Choice Theory: A New Psychology of Personal Freedom (1998) melihat manusia bukan semata-mata sebagai makhluk yang dikendalikan lingkungan, tetapi sebagai individu yang terus-menerus membuat pilihan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Hampir semua perilaku manusia, dalam pandangan ini, merupakan usaha untuk memperoleh sesuatu yang dianggap penting bagi dirinya: rasa aman, rasa memiliki, penghargaan, kebebasan, dan kesenangan.

Jika perspektif ini dibawa ke dalam praktik moderasi beragama, kita akan menemukan satu hal penting. Moderasi tidak cukup diperintahkan. Ia harus dipilih. Seseorang boleh mendengar ratusan ceramah tentang toleransi, tetapi tidak akan otomatis menjadi toleran apabila nilai tersebut tidak masuk ke dalam sistem pilihannya sendiri.
Moderasi baru memiliki daya ketika seseorang menyadari bahwa hidup damai dengan orang lain bukan ancaman terhadap identitasnya, melainkan bagian dari cara memenuhi kebutuhan sosialnya secara sehat.

Glasser menyebut lima kebutuhan dasar manusia: kelangsungan hidup, cinta dan rasa memiliki, kekuasaan atau penghargaan diri, kebebasan, serta kesenangan. Kelima kebutuhan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya sangat menentukan cara orang beragama.
Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dipenuhi secara sehat, agama dapat saja dipakai sebagai sarana kompensasi. Seseorang yang kehilangan rasa memiliki, misalnya, dapat mencari kelompok yang memberikan identitas kuat. Persoalannya muncul apabila kelompok itu membangun solidaritas dengan menciptakan musuh bersama.

Karena itu, radikalisme tidak selalu lahir karena seseorang terlalu banyak belajar agama. Dalam banyak kasus, masalahnya justru terletak pada bagaimana seseorang mencari rasa memiliki, harga diri, atau kuasa melalui identitas agama.
Ketika sebuah kelompok mengatakan, “hanya kita yang paling benar, sementara yang lain salah,” seseorang dapat memperoleh rasa istimewa. Ia merasa mempunyai tempat, identitas, dan martabat. Sayangnya, rasa memiliki tersebut dibangun dengan harga yang mahal: mengurangi martabat orang lain.

Masjid memiliki posisi strategis. Masjid dapat menjadi ruang tempat kebutuhan akan rasa memiliki dipenuhi tanpa harus menciptakan kebencian. Jamaah perlu merasa bahwa mereka menjadi bagian dari komunitas, tetapi komunitas tersebut tidak dibentuk melalui permusuhan. Rasa kebersamaan justru diperkuat dengan saling membantu, mendengar, menghargai perbedaan, serta melakukan kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Prinsip tawassuth, ta'adul, dan tawazun dapat dibaca melalui cara ini. Tawassuth mengajarkan jalan tengah; ta'adul menekankan keadilan; sedangkan tawazun mengingatkan pentingnya keseimbangan. Ketiganya bukan sekadar konsep normatif, tetapi juga mekanisme sosial yang membantu manusia mengelola kebutuhannya tanpa merampas kebutuhan orang lain. Seseorang dapat mempertahankan keyakinannya tanpa meniadakan kebebasan orang lain.

Moderasi, karena itu, bukan kelemahan. Ia justru bentuk kematangan dalam mengelola pilihan. Orang yang moderat tidak berarti kehilangan pendirian, melainkan mampu mengendalikan respons ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangannya. Ia mengetahui bahwa dirinya hanya dapat mengendalikan perilakunya sendiri, bukan memaksa orang lain agar berpikir sama.

Gagasan kendali internal dari Glasser menjadi sangat penting di sini. Banyak konflik sosial muncul karena manusia ingin mengendalikan orang lain. Kita ingin orang lain beragama seperti kita, berpikir seperti kita, berpakaian seperti kita, memilih seperti kita, bahkan menafsirkan dunia seperti kita. Ketika mereka tidak mau, kita merasa terancam. Dari sanalah muncul kecenderungan memberi label, menghakimi, atau bahkan memaksa.

Padahal kehidupan sosial tidak mungkin dibangun di atas keinginan untuk mengontrol semua orang. Masyarakat yang majemuk justru menuntut kemampuan mengelola diri. Yang dapat kita kontrol adalah cara kita berbicara, merespons, menilai, dan memperlakukan orang lain. Dalam perspektif inilah moderasi beragama sesungguhnya merupakan bentuk disiplin diri.


Ceramah keagamaan kemudian memiliki tugas yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan benar dan salah. Ia perlu membantu jamaah memahami mengapa mereka bereaksi terhadap perbedaan dengan cara tertentu. Ketika seseorang marah kepada kelompok lain, pertanyaannya bukan hanya apakah kemarahan itu dibenarkan, tetapi kebutuhan apa yang sedang berusaha dipenuhinya melalui kemarahan tersebut. Apakah ia merasa terancam? Kehilangan rasa memiliki? Atau sedang mencari penghargaan?

Pendekatan seperti ini membuat ceramah agama menjadi lebih manusiawi. Penceramah tidak sekadar berbicara kepada jamaah sebagai objek yang harus menerima pesan, tetapi sebagai manusia yang memiliki pengalaman, kebutuhan, kecemasan, dan pilihan. Dakwah kemudian bukan proses mengendalikan, melainkan proses membantu seseorang mengambil pilihan yang lebih bertanggung jawab.

Itulah sebabnya materi ceramah yang inklusif menjadi penting. Inklusivitas bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Ia berarti menjelaskan agama dengan cara yang membuat jamaah mampu hidup berdampingan dengan realitas sosial. Jamaah dapat tetap memiliki keyakinan teologis yang kuat, sambil memahami bahwa orang lain memiliki hak untuk hidup, beribadah, dan menjalankan keyakinannya tanpa intimidasi.

Dialog antaragama juga memperoleh makna baru dalam perspektif Teori Pilihan. Dialog tidak bertujuan menyeragamkan keyakinan. Dialog membantu manusia memenuhi kebutuhan akan hubungan secara sehat. Ketika seseorang mendengar pengalaman orang lain, ia memperoleh kesempatan untuk melihat bahwa perbedaan tidak selalu mengancam dirinya. Dalam banyak hal, hubungan yang baik justru mengurangi ketakutan.

Toleransi, dengan demikian, bukan hanya kewajiban moral. Ia merupakan keterampilan sosial untuk mengelola kebebasan. Kita ingin bebas menjalankan keyakinan sendiri; karena itu, kita juga perlu mengakui kebebasan orang lain. Di sinilah prinsip timbal balik menjadi penting. Kebebasan tidak berarti melakukan apa saja, tetapi menjalankan pilihan tanpa merampas ruang hidup manusia lain.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada komitmen kebangsaan. Pancasila tidak perlu dipahami sebagai pesaing agama. Dalam kehidupan sosial, Pancasila justru menjadi ruang kesepakatan agar berbagai kelompok yang berbeda dapat tetap hidup dalam rumah yang sama. Ia menyediakan batas bersama sehingga kebebasan satu kelompok tidak berubah menjadi dominasi terhadap kelompok lain.

Moderasi juga menjadi penting ketika agama bertemu budaya lokal. Konflik antara agama dan budaya kerap muncul karena keduanya ditempatkan dalam posisi saling meniadakan. Padahal manusia selalu hidup di dalam kebudayaan. Cara berpakaian, bahasa, simbol, upacara, dan kebiasaan merupakan bagian dari pengalaman sosial yang membentuk identitas seseorang. Karena itu, penyikapan terhadap budaya memerlukan keseimbangan, bukan penolakan serampangan.

Dalam praktik ceramah, pendekatan moderasi dapat dilakukan melalui tiga jalan. Pertama, memasukkan semangat moderasi ke dalam materi yang memang relevan. Kedua, menggunakan pendekatan yang membuat jamaah berpikir, bertanya, dan menghargai perbedaan. Ketiga, menyiapkan penceramah melalui pendidikan dan pelatihan khusus agar mereka mampu menyampaikan agama secara proporsional. Ketiganya penting karena pilihan manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi dan relasi yang tersedia baginya.

Namun pelatihan penceramah saja tidak cukup. Masjid harus menjadi ekosistem sosial yang konsisten. Pesan toleransi akan kehilangan makna apabila struktur sosial di sekitarnya masih dipenuhi praktik diskriminasi. Jamaah perlu melihat bahwa nilai yang disampaikan dari mimbar juga tercermin dalam cara masjid memperlakukan kelompok berbeda, mengelola konflik, membantu masyarakat miskin, serta menjalin hubungan dengan pranata sosial lain.

Karena itu, indikator moderasi sebenarnya dapat dilihat dari pilihan-pilihan kecil. Apakah seseorang memilih berdialog atau menghina? Memilih menahan diri atau menyebarkan kebencian? Memilih memahami atau cepat menghakimi? Memilih bekerja sama atau terus-menerus membangun jarak? Pilihan-pilihan inilah yang, jika dilakukan berulang kali, perlahan membentuk budaya.

Pada akhirnya, moderasi beragama tidak akan hidup hanya karena ada modul, sertifikasi, atau program pemerintah. Ia akan hidup ketika menjadi bagian dari quality world masyarakat; dunia ideal dalam pikiran mereka tentang kehidupan yang baik. Jika masyarakat mulai membayangkan masjid sebagai tempat damai, agama sebagai sumber kasih sayang, perbedaan sebagai kenyataan yang dapat dikelola, dan kebangsaan sebagai rumah bersama, pilihan sosial mereka pun akan bergerak ke arah yang sama.

Di titik itulah Teori Pilihan membantu kita melihat moderasi secara lebih dalam. Perdamaian tidak semata-mata lahir karena orang diperintah untuk hidup rukun. Perdamaian lahir ketika manusia memilih kerukunan karena ia memahami bahwa pilihan tersebut menjaga martabatnya sekaligus martabat orang lain. Moderasi, dengan demikian, bukan sekadar cara beragama di tengah perbedaan. Ia merupakan keberanian untuk memilih hubungan daripada permusuhan, keseimbangan daripada ekstremitas, dan kemanusiaan daripada hasrat menguasai sesama. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda