Oleh: Ahmad Jais
Dosen IAIN Pontianak, Jl. Let. Jend Soeprapto No. 19, Kalimantan Barat | [email protected]
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Di tengah generasi yang tumbuh dengan jemari lincah menggulir layar, mencari jawaban instan dalam hitungan detik, semangat menuntut ilmu dengan kesungguhan yang panjang dan melelahkan terasa seperti sesuatu dari zaman yang jauh berbeda.
Namun justru di sinilah sebuah kisah lama dari Madinah layak dihadirkan Kembali, bukan sebagai dongeng pengantar tidur, melainkan sebagai cermin bagi Gen Z yang sedang berjibaku dengan skripsi yang tak kunjung rampung, tugas kuliah yang menumpuk, atau rasa jenuh menghadapi buku yang kalah menarik dibanding notifikasi di ponsel.
Para pendahulu kita memahami betul bahwa ilmu adalah warisan para nabi, cahaya yang menerangi kegelapan dunia maupun akhirat, dan karena kemuliaannya itulah menuntut ilmu digolongkan sebagai bagian dari jihad fi sabilillah.
Rasulullah saw sendiri menegaskan betapa tingginya kedudukan seorang penuntut ilmu, bahkan hingga ajal menjemputnya di tengah proses belajar. Beliau bersabda, "Apabila kematian datang kepada seorang pencari ilmu dan dia sedang dalam kondisi tersebut, maka ia mati syahid." (HR. Al-Bazzar)
Hadis ini menjadi penghibur sekaligus pemacu semangat bagi siapa saja yang merasa lelah di tengah jalan menuntut ilmu bahwa kelelahan itu, jika dijalani dengan niat yang lurus, bukan kesia-siaan, melainkan jalan menuju kemuliaan yang disetarakan dengan kesyahidan.
Allah Swt berfirman, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini seperti tangga yang terus menjulang, menegaskan bahwa setiap anak tangga ilmu yang dinaiki seorang hamba, betapa pun kecil terasa hari ini, benar-benar mengangkat derajatnya di sisi Allah, jauh melampaui pengakuan yang bisa diberikan dunia.
Imam Ibnu Baththal dalam Syarah Shahih Bukhari meriwayatkan kisah yang disampaikan Imam Malik bin Anas kepada murid-muridnya, khususnya Yahya, santri baru yang perlu dikuatkan semangatnya.
Dikisahkan seorang pemuda dari Syam datang ke Madinah dengan semangat belajar yang begitu besar, hingga ajal menjemputnya di tengah kesungguhannya menuntut ilmu.
"Aku melihat pada jenazahnya sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya," kenang Imam Malik, "para ulama di kota ini berebut mengiringi jenazahnya dengan penuh penghormatan."
Tiga hari kemudian, seorang lelaki saleh bermimpi melihat pemuda itu berwajah bersinar, mengenakan sorban hijau, menunggangi kuda putih dari langit, dan berkata, "Allah memberiku derajat di surga untuk setiap ilmu yang kupelajari."
Kisah ini, sebagaimana riwayat semacamnya, baik diterima sebagai kisah motivasi yang menguatkan hati, bukan dalil utama, dan dikisahkan Imam Malik justru membuat masyarakat Madinah semakin bersemangat menuntut ilmu.
Di era digital ini, godaan untuk berhenti di tengah jalan jauh lebih besar, distraksi datang setiap detik, pencapaian instan lebih menggiurkan dibanding proses panjang.
Namun kisah pemuda Syam mengingatkan bahwa kesungguhan yang tampak sia-sia di mata dunia justru dicatat besar di sisi Allah.
Perlu diwaspadai pula pesan penutup Ibnu Baththal: niat menuntut ilmu hendaknya murni karena Allah, bukan demi validasi media sosial atau pengakuan semata. Allah Swt berfirman, "Katakanlah, 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" (QS. Az-Zumar: 9).
Jadilah seperti pelajar Syam yang menempuh jarak jauh demi setitik ilmu, dan seperti lentera yang tetap menyala meski anginnya kencang. Setiap halaman yang kita baca hari ini kelak akan ditanya, apakah ia menjadi cahaya bagi diri dan sesama.
Ya Allah, kuatkanlah semangat kami menuntut ilmu, luruskanlah niat kami hanya karena-Mu, dan jadikanlah setiap kelelahan dalam belajar sebagai jalan menuju kemuliaan di sisi-Mu. Amin. (*)