Opini post author Kiwi 09 Oktober 2026

Followers Banyak, Manfaat Berapa?

Photo of Followers Banyak, Manfaat Berapa?

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

“Kuburlah wujudmu di dalam tanah ketidakterkenalan, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna buahnya.” (Ibn Atha’illah As-Sakandari, Al-Hikam, w. 1309 M).

Ada orang yang hidupnya tidak banyak diketahui, tetapi kehadirannya selalu membawa kebaikan. Ia tidak banyak bicara tentang dirinya dan tidak sibuk menunjukkan amalnya.
Mungkin ia bahkan tidak merasa telah berbuat sesuatu yang besar. Namun ketika ia tidak ada, ada ketenangan yang ikut pergi.
Di sisi lain, ada kehidupan yang penuh pencapaian, dengan banyak pengikut, pujian, dan sorotan. Tetapi setelah semua itu berlalu, tidak banyak yang tertinggal bagi orang lain.
Namanya masih disebut, tetapi manfaatnya tidak ikut tinggal. Di era ketika angka pengikut sering dianggap ukuran nilai seseorang, pertanyaan yang lebih jujur layak kita ajukan: followers sudah banyak, tetapi manfaatnya berapa?

Rasulullah saw adalah pemimpin umat yang paling mulia, namun beliau tidak sibuk menampilkan diri. Aisyah ra, menuturkan bahwa beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya, dan ketika waktu shalat tiba, beliau segera berdiri untuk shalat (HR. Bukhari no. 676).
Dari sosok yang sesederhana itu lahir tolok ukur yang mengubah cara kita menilai hidup: “Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580).
Yang dihitung adalah manfaat yang sampai kepada orang lain, bukan keramaian di sekeliling kita.

“Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada gunanya; adapun yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap tinggal di bumi.” (QS. Ar-Ra’d: 17).
Popularitas ibarat buih di atas arus, tampak besar dan berkilau, tetapi sebentar saja lenyap. Manfaat ibarat air di bawahnya yang diam-diam menghidupkan tanah dan menumbuhkan ladang.

Sejarah mencatat sosok semacam itu pada Ali bin Husain, yang dijuluki Zainal Abidin, cicit Rasulullah saw. Diriwayatkan dalam Hilyatul Auliya dan Siyar A’lam an-Nubala’ bahwa pada malam hari ia memikul karung roti di punggungnya dan menyedekahkannya kepada orang miskin tanpa diketahui siapa pun.
Setelah ia wafat, tampak bekas kehitaman di punggungnya saat jenazahnya dimandikan, dan ternyata ia menanggung kebutuhan seratus keluarga di Madinah.
Penduduk Madinah berkata bahwa mereka tidak kehilangan sedekah rahasia sampai ia wafat. Ketika ia tiada, ada kebaikan yang hilang, dan barulah semua orang mengerti betapa besar manfaat yang selama ini mengalir tanpa suara.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang merasa cukup (hatinya), dan yang tersembunyi (tidak mencari popularitas)” (HR. Muslim no. 2965). Beliau juga menyebut di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat adalah “seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).
Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia mengenal kita, tetapi oleh ketulusan dan manfaat yang kita tinggalkan.

Di era digital, kebaikan sering ikut terseret arus pertunjukan. Kita terbiasa memotret sedekah, memamerkan kegiatan sosial, dan mengukur keberhasilan dari jumlah like.
Rasulullah saw mengingatkan, “Barangsiapa beramal agar didengar orang, Allah akan membeberkan niat sebenarnya; dan barangsiapa beramal agar dilihat orang, Allah akan menampakkan riyanya” (HR. Bukhari no. 6499 dan Muslim no. 2987).

Meski begitu, media sosial tidak perlu dimusuhi. Ia bisa menjadi jalan kebaikan yang luas untuk menyebarkan ilmu, menggalang bantuan, dan menginspirasi.
Yang perlu dijaga adalah niat. Hendaknya dijauhi riya (beramal agar dilihat), sum’ah (beramal agar didengar), dan ujub (bangga pada diri sendiri), sebab ketiganya diam-diam menggerogoti amal, betapapun besar tampaknya.

Allah memuji hamba-hamba-Nya yang berbuat baik dengan ikhlas, “Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan maupun ucapan terima kasih dari kamu” (QS. Al-Insan: 9). Itulah sikap terbaik: memberi tanpa menunggu tepuk tangan, dan bermanfaat tanpa perlu disorot.

Seperti mata air di balik bukit yang tak pernah dilihat orang, namun airnya mengalir menghidupkan sawah dan kampung di bawahnya, begitulah kebaikan yang paling dalam: tenang dalam alirannya, besar dalam hasilnya.

Hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang apa yang mengalir melalui diri kita menjadi kebaikan bagi makhluk Allah. Menjadi besar belum tentu berarti menjadi bermanfaat, dan memiliki banyak belum tentu berarti banyak memberi.
Jumlah pengikut bisa naik dan turun, tetapi manfaat yang tulus terus mengalir, bahkan setelah nama kita tak lagi disebut.
Maka sebelum bertanya berapa banyak orang yang melihat kita, tanyakanlah lebih dulu: berapa banyak orang yang terbantu oleh kita? Kelak yang ditimbang di hadapan Allah bukanlah jumlah pengikut kita, melainkan manfaat dan keikhlasan yang kita tinggalkan.

Ya Allah, bersihkanlah niat kami dari keinginan untuk dipuji dan dilihat. Jadikanlah kami hamba yang kehadirannya membawa ketenangan dan kebaikan bagi sesama, meski tak dikenal manusia, asalkan dikenal dan diridhai di sisi-Mu. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda