Oleh: Syamsul Kurniawan / Ketua Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban /PW Muhammadiyah Kalimantan Barat
ADA sebuah gejala sosial yang menarik dalam kehidupan manusia Indonesia hari ini: semakin banyak orang memilih menciptakan jarak dengan persoalan bangsanya sendiri.
Mereka tidak meninggalkan Indonesia, tidak pindah dari ruang sosialnya, tetapi secara perlahan menarik diri dari keterlibatan emosional terhadap realitas bersama. Mereka tetap menjadi warga negara secara administratif, tetapi mulai kehilangan ikatan batin dengan persoalan kebangsaan.
Fenomena ini dapat disebut sebagai munculnya budaya melarikan diri. Sebuah budaya yang tidak selalu tampak dalam bentuk penolakan terbuka terhadap bangsa, tetapi hadir melalui sikap diam, ketidakpedulian, dan pencarian ruang alternatif yang dianggap lebih nyaman daripada realitas sosial yang penuh tekanan.
Dalam perspektif sosiologi, melarikan diri bukan semata-mata tindakan individual. Ia merupakan respons manusia terhadap kondisi sosial tertentu. Ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpastian politik, konflik identitas, ketidakpercayaan terhadap institusi, dan derasnya arus informasi negatif, manusia mencari cara untuk melindungi dirinya.
Eskapisme menjadi salah satu cara manusia modern bertahan. Ia merupakan kecenderungan seseorang untuk mengalihkan pikiran, perhatian, atau perasaan dari realitas yang dianggap terlalu berat.
Dalam kadar tertentu, eskapisme merupakan mekanisme psikologis yang sehat karena manusia memang membutuhkan ruang istirahat dari tekanan kehidupan.
Masalahnya muncul ketika pelarian tersebut berubah menjadi kebiasaan permanen. Ketika manusia tidak lagi menggunakan waktu jeda untuk memperkuat diri, tetapi menjadikannya alasan untuk menghindari persoalan yang harus dihadapi. Eskapisme yang berlebihan dapat membuat seseorang semakin jauh dari tanggung jawab sosialnya.
Hari ini, budaya melarikan diri dapat ditemukan dalam banyak bentuk. Sebagian masyarakat menghabiskan waktu berjam-jam dalam dunia hiburan digital, serial, permainan daring, konsumsi berlebihan, atau media sosial. Aktivitas seperti menonton film, bermain gim, membaca fiksi, hingga terus-menerus menggunakan media sosial menjadi ruang alternatif ketika realitas dianggap melelahkan.
Namun pertanyaannya adalah: mengapa manusia Indonesia membutuhkan ruang pelarian sedemikian besar? Mengapa sebagian masyarakat lebih nyaman membicarakan kehidupan selebritas daripada membicarakan masa depan bangsa? Mengapa persoalan publik sering kalah menarik dibandingkan konflik dunia maya?
Jawabannya tidak sederhana. Manusia tidak melarikan diri tanpa sebab. Ada pengalaman sosial yang melatarbelakanginya. Ketika masyarakat berulang kali menyaksikan ketidakadilan, konflik politik, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakpastian masa depan, muncul kelelahan kolektif yang membuat sebagian orang memilih berhenti berharap.
Dalam konteks kekuasaan, persoalan ini memiliki hubungan erat dengan bagaimana masyarakat memandang negara dan institusi publik. Kekuasaan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk menentukan arah kehidupan bersama. David Nyberg menjelaskan bahwa kekuasaan berkaitan dengan kemampuan seseorang atau kelompok untuk menjalankan kehendaknya terhadap pihak lain.
Akan tetapi, kekuasaan memiliki wajah yang ambigu. Ia dapat menjadi instrumen menciptakan keteraturan, tetapi juga dapat berubah menjadi alat dominasi. Thomas Hobbes dalam Leviathan menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan mempertahankan kepentingannya sendiri, sehingga kekuasaan diperlukan untuk menciptakan ketertiban.
Apakah Sebab Tren Stoik?
Di tengah masyarakat yang mengalami kelelahan sosial tersebut, muncul fenomena menarik: meningkatnya ketertarikan terhadap Stoikisme. Banyak manusia modern menemukan ketenangan melalui filsafat yang berasal dari Yunani dan Romawi kuno ini.
Stoikisme yang diperkenalkan Zeno dari Citium mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri, berpikir rasional, dan menerima hal-hal yang berada di luar kendali. Tradisi ini kemudian berkembang melalui tokoh seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.
Popularitas Stoikisme hari ini tidak muncul secara kebetulan. Ia hadir sebagai jawaban atas masyarakat yang mengalami kecemasan. Dunia modern memberikan manusia begitu banyak informasi, tetapi tidak selalu memberikan kemampuan untuk mengendalikan keadaan.
Prinsip Stoik tentang dikotomi kendali menjadi menarik karena menawarkan batas yang jelas: manusia hanya perlu fokus pada apa yang dapat ia kendalikan, seperti pikiran, tindakan, dan responsnya sendiri.
Namun dari sudut pandang sosiologis, tren Stoik perlu dibaca secara kritis. Apakah ia benar-benar menjadi kebijaksanaan baru, atau justru menjadi bentuk eskapisme yang lebih halus?
Ada perbedaan besar antara menerima kenyataan dan menyerah terhadap kenyataan. Stoikisme sejati tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan bagaimana manusia tetap berada dalam dunia tanpa kehilangan kendali atas dirinya.
Marcus Aurelius adalah contoh penting. Ia bukan seseorang yang melarikan diri dari persoalan sosial. Ia adalah seorang kaisar yang tetap menjalankan tanggung jawab politiknya. Stoikisme baginya adalah cara menjaga kejernihan pikiran ketika menghadapi tekanan kekuasaan.
Karena itu, persoalannya bukan apakah manusia boleh mencari ketenangan. Persoalannya adalah ketika ketenangan pribadi berubah menjadi alasan untuk tidak peduli terhadap penderitaan sosial.
Bangsa tidak dapat dibangun oleh manusia yang hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Kehidupan bersama membutuhkan partisipasi, kritik, dan keberanian moral.
Dalam teori Berger dan Luckmann, realitas sosial terbentuk melalui hubungan antara manusia dan dunia yang mereka ciptakan. Ide, keyakinan, dan kesadaran manusia kemudian membentuk perilaku sosial.
Jika masyarakat terus menerus membangun keyakinan bahwa perubahan tidak mungkin terjadi, maka keyakinan tersebut perlahan menjadi realitas sosial. Manusia kemudian memilih mundur karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk memengaruhi keadaan.
Di sinilah budaya melarikan diri menjadi berbahaya. Ia bukan lagi sekadar aktivitas pribadi, tetapi menjadi pola sosial. Masyarakat kehilangan energi kolektif untuk memperbaiki keadaan.
Demokrasi membutuhkan warga yang hadir, bukan warga yang menghilang secara sosial. Kekuasaan selalu membutuhkan kontrol dari masyarakat agar tidak berjalan tanpa batas. Ketika masyarakat terlalu sibuk mencari hiburan, sementara persoalan publik dibiarkan berjalan sendiri, ruang sosial akan semakin mudah dikuasai oleh kelompok tertentu.
Namun kita juga harus memahami bahwa manusia yang melarikan diri bukan selalu manusia yang tidak peduli. Banyak di antara mereka hanyalah manusia yang lelah. Kelelahan sosial adalah tanda bahwa masyarakat membutuhkan pemulihan. Mereka membutuhkan cara baru untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks.
Karena itu, Stoikisme dapat menjadi jalan keluar jika dipahami secara benar. Ia dapat membentuk manusia yang lebih tenang, rasional, dan kuat menghadapi tekanan. Tetapi Stoikisme akan kehilangan maknanya jika digunakan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab sosial.
Manusia Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak pelarian, tetapi membutuhkan cara baru untuk menghadapi realitas. Bangsa yang besar tidak dibangun oleh manusia yang tidak pernah mengalami kecewa, tetapi oleh manusia yang mampu mengubah kekecewaan menjadi tindakan.
Eskapisme boleh menjadi ruang istirahat, tetapi tidak boleh menjadi rumah permanen. Ketenangan pribadi harus menjadi energi untuk kembali menghadapi persoalan bersama.
Pada akhirnya, budaya melarikan diri adalah cermin dari masyarakat yang sedang mencari keseimbangan. Manusia Indonesia hari ini perlu belajar bahwa tidak semua persoalan dapat dikendalikan, tetapi semua manusia tetap memiliki tanggung jawab terhadap dunia tempat ia hidup.
Indonesia tidak membutuhkan warga yang selalu marah, tetapi juga tidak membutuhkan warga yang selalu menghindar. Indonesia membutuhkan manusia yang mampu menemukan ketenangan dirinya, tanpa kehilangan kepedulian terhadap bangsanya. (*)