Baharuddin, S.Sos.I, M.Si, Dosen PNS Prodi MBS FEBI IAIN Pontianak, Direktur Rumah Literasi FEBI IAIN Pontianak dan Anggota Pengurus Wilayah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Kalimantan Barat
NUZULUL Qur’an merupakan peristiwa agung dan mulia dalam sejarah Islam, yaitu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Peristiwa ini bukan sekadar momen historis, tetapi menjadi titik awal perubahan besar bagi peradaban manusia terutama dan utamanya umat Islam.
Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk hidup, pembeda antara yang hak dan batil, serta rahmat bagi seluruh alam. Dalam memperingati Nuzulul Qur’an, umat Islam tidak cukup hanya mengenang peristiwanya, tetapi juga perlu meneladani bagaimana Rasulullah SAW memaknai dan mengamalkan wahyu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Wahyu pertama yang turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang diawali dengan perintah “Iqra’” (Bacalah) hal ini menjadi titik utama dan pertama Allah menurunkan Al-qur’an dan memberikan gamabaran bahwa manusia itu diserah baca biar banyak, ilmu, banyak tahu dan tidak saling fitnah karena mengetahui berbagai perbedaanilmu yang ada.
Perintah ini mengandung makna mendalam tentang pentingnya ilmu, literasi, dan kesadaran spiritual dalam kehidupan seorang hamba. Rasulullah SAW menerima wahyu tersebut dengan penuh ketundukan dan keikhlasan, meskipun awalnya beliau merasa takut dan gemetar menghadapi pengalaman luar biasa tersebut.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa Al-Qur’an turun sebagai cahaya di tengah kegelapan zaman jahiliyah. Rasulullah tidak hanya menerima wahyu sebagai bacaan, tetapi sebagai amanah besar yang harus disampaikan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata dan ini menjadi momentum awal dari penyempurnaan akhlah dan ilmu.
Salah satu bentuk nyata pemaknaan Rasulullah terhadap Al-Qur’an adalah menjadikannya pedoman hidup sepenuhnya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.
Artinya, setiap perilaku, ucapan, dan keputusan beliau mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci tersebut. Beliau tidak hanya membaca dan menghafal wahyu, tetapi juga: 1. Mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi – Rasulullah menunjukkan kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan sebagaimana diajarkan Al-Qur’an.
2. Menyampaikan wahyu dengan penuh tanggung jawab – Meski menghadapi berbagai penolakan dan ancaman, beliau tetap istiqamah berdakwah. 3.Mendidik para sahabat dengan nilai-nilai Qur’ani – Generasi sahabat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia karena dididik langsung oleh Rasulullah dengan bimbingan wahyu.
Di era modern yang penuh tantangan moral dan arus informasi yang begitu deras, semangat Nuzulul Qur’an menjadi semakin relevan.
Meneladani Rasulullah dalam memaknai Al-Qur’an berarti menjadikan kitab suci ini sebagai rujukan utama dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: 1. Meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami tafsir, dan menghafalkannya. 2. Mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian sosial.
3. Menyebarkan pesan kebaikan dengan cara yang bijak dan penuh hikmah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Apabila langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, maka Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai bacaan ritual, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
Di tengah derasnya informasi yang belum tentu benar, Al-Qur’an menjadi sumber kebenaran yang menuntun umat Islam agar tetap kritis, bijaksana, dan berakhlak mulia.
Dengan demikian, semangat Nuzulul Qur’an akan terus hidup dalam tindakan nyata, membentuk pribadi yang kuat secara spiritual dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Ada banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa Nuzulul Qur’an, di antaranya: 1. Pentingnya ilmu dan membaca, sebagaimana pesan pertama yang diturunkan. 2. Kesabaran dan keteguhan dalam berdakwah, meneladani perjuangan Rasulullah.
3. Komitmen terhadap perubahan diri, karena Al-Qur’an hadir untuk memperbaiki akhlak dan membimbing manusia menuju kebaikan. Ketiga hikmah tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh dalam kehidupan seorang Muslim.
Ilmu menjadi fondasi utama untuk memahami kebenaran, kesabaran menjadi kekuatan dalam memperjuangkannya, dan komitmen terhadap perubahan diri menjadi bukti nyata bahwa ajaran Al-Qur’an benar-benar dihayati.
Dengan mengamalkan ketiganya, peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berubah menjadi momentum transformasi spiritual yang terus hidup dalam setiap langkah kehidupan.
Dengan memahami hikmah ini, peringatan Nuzulul Qur’an tidak berhenti pada seremonial semata, tetapi menjadi momentum pembaruan iman dan akhlak.
Meneladani Rasulullah dalam memaknai Nuzulul Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai pedoman hidup yang membentuk karakter dan peradaban. Rasulullah SAW telah memberikan contoh nyata bagaimana wahyu Allah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga melalui peringatan Nuzulul Qur’an, kita semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin mencintainya, dan mampu mengamalkan ajarannya dalam setiap aspek kehidupan.
Dengan demikian, kita dapat menjadi bagian dari generasi Qur’ani yang membawa kebaikan bagi diri sendiri, masyarakat, dan umat manusia secara keseluruhan. (*)