PONTIANAK, SP – Bagi sebagian orang, rumah tahanan identik dengan pagar besi, tembok tinggi, dan pembatas kebebasan. Namun di balik seluruh sistem pengamanan itu, ada satu hal yang tidak pernah boleh hilang, yakni nilai kemanusiaan.
Prinsip itulah yang kembali ditegaskan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pontianak melalui penyelenggaraan Pemeriksaan Kesehatan dan Pengobatan Gratis Serentak bagi petugas serta Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Kamis (2/7/2026).
Sebanyak 50 peserta, terdiri atas 25 petugas rutan dan 25 warga binaan, mengikuti pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi Rutan Kelas IIA Pontianak bersama Puskesmas Parit H. Husin II dengan dukungan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.
Lebih dari sekadar agenda pelayanan kesehatan, kegiatan ini menjadi gambaran bahwa pemasyarakatan hari ini terus bergerak menuju pendekatan yang lebih humanis, di mana hak-hak dasar setiap manusia tetap dihormati tanpa memandang latar belakang maupun status hukum.
Kepala Rutan Kelas IIA Pontianak, Timbul A. Panjaitan, mengatakan kesehatan merupakan hak fundamental yang harus diterima setiap orang.
Menurutnya, proses pembinaan di dalam rumah tahanan tidak boleh hanya dimaknai sebagai pelaksanaan hukuman, tetapi juga menjadi ruang bagi negara untuk menghadirkan pelayanan, kepedulian, dan harapan bagi setiap individu yang berada di dalamnya.
"Kesehatan adalah hak paling mendasar yang dimiliki oleh setiap manusia, tanpa memandang status sosial mereka. Hari ini, 25 petugas yang mengabdi dan 25 warga binaan yang sedang berproses memperbaiki diri, duduk berdampingan tanpa sekat. Kami ingin memastikan bahwa di balik dinding ini, aspek humanis tetap hidup dan hak pelayanan kesehatan mereka terpenuhi secara berkualitas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pelayanan publik di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya menyasar warga binaan, tetapi juga petugas yang setiap hari menjalankan tugas menjaga keamanan sekaligus membina para penghuni rutan.
Selama kegiatan berlangsung, tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan secara komprehensif kepada seluruh peserta.
Skrining dimulai dari pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, hingga kadar asam urat. Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi secara dini berbagai penyakit yang berpotensi berkembang apabila tidak segera ditangani.
Selain pemeriksaan umum, peserta juga memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gigi serta fungsi pendengaran.
Pendekatan ini dinilai penting karena banyak gangguan kesehatan ringan yang sering kali luput dari perhatian, padahal dapat memengaruhi kualitas hidup maupun produktivitas seseorang.
Suasana pemeriksaan berlangsung hangat. Satu per satu peserta menyampaikan berbagai keluhan kesehatan yang mereka alami kepada tim dokter.
Tak sekadar melakukan pemeriksaan, tenaga kesehatan juga memberikan konsultasi, edukasi mengenai pola hidup sehat di lingkungan rutan, hingga terapi obat sesuai hasil diagnosis masing-masing peserta.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif agar masalah kesehatan dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Timbul menegaskan paradigma pemasyarakatan saat ini terus berkembang. Jika dahulu rumah tahanan lebih identik sebagai tempat menjalani hukuman, kini fungsi pembinaan menjadi semakin dominan.
Negara hadir untuk memastikan warga binaan memiliki kesempatan memperbaiki diri, termasuk menjaga kondisi fisik dan kesehatan mereka.
Menurutnya, seseorang yang sehat secara fisik dan mental memiliki peluang lebih besar untuk kembali menjalani kehidupan yang produktif setelah menyelesaikan masa pidana.
Karena itu, pelayanan kesehatan menjadi salah satu komponen penting dalam proses pembinaan yang berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang layak. Mereka sedang menjalani proses pembinaan dan negara tetap memiliki kewajiban memenuhi hak-hak dasarnya,” katanya.
Keberhasilan kegiatan tersebut juga tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak. Puskesmas Parit H. Husin II menghadirkan tenaga medis yang melakukan pemeriksaan secara langsung, sementara Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat memberikan dukungan agar pelayanan berjalan optimal.
Kolaborasi lintas sektor seperti ini dinilai penting untuk memastikan layanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan dapat terus ditingkatkan.
Dengan keterlibatan fasilitas kesehatan pemerintah, warga binaan maupun petugas memperoleh akses pelayanan medis yang lebih baik sekaligus meningkatkan kualitas hidup di lingkungan rutan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pemasyarakatan, Rutan Kelas IIA Pontianak berharap masyarakat dapat melihat sisi lain dari dunia pemasyarakatan.
Di balik jeruji besi, terdapat proses pembinaan yang terus berjalan, mulai dari pembentukan karakter, peningkatan keterampilan, hingga pemenuhan hak-hak dasar seperti kesehatan.
Pendekatan tersebut diyakini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih sehat, produktif, dan memiliki kesempatan membangun kehidupan yang lebih baik.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa rumah tahanan bukan hanya tempat menjalani hukuman. Di sini juga ada proses merawat, membina, dan mempersiapkan setiap warga binaan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat,” pungkas Timbul.
Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, Rutan Kelas IIA Pontianak kembali mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak berhenti di balik tembok penjara. Justru di tempat itulah nilai-nilai penghormatan terhadap martabat manusia harus terus dijaga sebagai bagian dari wajah negara yang hadir bagi seluruh warganya.(din)