Ponticity post author Kiwi 02 Juli 2026

Inflasi Kalbar Capai 3,28 Persen, Neraca Perdagangan Tetap Surplus Meski Ekspor Melambat

Photo of Inflasi Kalbar Capai 3,28 Persen, Neraca Perdagangan Tetap Surplus Meski Ekspor Melambat

PONTIANAK,SP – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat merilis sejumlah indikator strategis perekonomian daerah yang menunjukkan dinamika pada berbagai sektor sepanjang Mei hingga Juni 2026. Meski inflasi tahunan tercatat sebesar 3,28 persen dan neraca perdagangan masih mengalami surplus, perlambatan ekspor, penurunan Nilai Tukar Petani (NTP), serta berkurangnya mobilitas penumpang menjadi perhatian dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh. Saichudin, dalam kegiatan Berita Resmi Statistik (BRS) dan Workshop Penguatan Peran Media dalam Menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 yang digelar di Kantor BPS Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (1/7/2026).

Dalam kesempatan itu, BPS memaparkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (Inflasi) Juni 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Juni 2026, Ekspor dan Impor Mei 2026, Pariwisata Mei 2026, serta Transportasi Mei 2026.

Inflasi Tahunan 3,28 Persen, Sintang Tertinggi

Muh. Saichudin menjelaskan, inflasi year-on-year (y-on-y) Kalimantan Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,28 persen. Dari seluruh daerah yang menjadi sampel penghitungan, Kabupaten Sintang mencatat tingkat inflasi tertinggi, yakni 3,71 persen.

"Inflasi year-on-year Provinsi Kalimantan Barat pada Juni 2026 sebesar 3,28 persen. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 3,71 persen," ujarnya.

Menurutnya, perkembangan inflasi menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur stabilitas harga barang dan jasa yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Nilai Tukar Petani Menurun

Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Barat pada Juni 2026 berada di angka 176,87 poin, atau turun 0,85 persen dibandingkan Mei 2026.

Sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 181,28 poin, turun 1,43 persen dibanding bulan sebelumnya.

Saichudin menjelaskan, NTP merupakan indikator untuk mengukur tingkat kemampuan tukar hasil pertanian terhadap barang konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.

"Perubahan NTP menjadi salah satu indikator kesejahteraan petani karena mencerminkan kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun biaya usaha pertanian," jelasnya.

Ekspor Turun, Neraca Perdagangan Tetap Surplus

Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Barat selama Mei 2026 tercatat sebesar US$160,68 juta, turun 19,16 persen dibandingkan April 2026.

Di sisi lain, nilai impor justru meningkat 19,10 persen menjadi US$99,52 juta.

Meski demikian, Kalimantan Barat masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$61,16 juta atau sekitar Rp1,09 triliun. Namun nilai surplus tersebut menyusut 46,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya akibat penurunan ekspor.

Menurut Saichudin, surplus perdagangan menunjukkan nilai ekspor masih lebih besar dibandingkan impor, meskipun perlambatan ekspor perlu menjadi perhatian.

Okupansi Hotel Meningkat Dibanding Tahun Lalu

Di sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kalimantan Barat pada Mei 2026 mencapai 56,26 persen.

Angka tersebut meningkat 5,83 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year), namun mengalami penurunan 2,50 poin persentase dibandingkan April 2026 (month-to-month).

Kondisi ini menunjukkan sektor perhotelan masih tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya meskipun terjadi perlambatan secara bulanan.

Mobilitas Penumpang Menurun

Sementara itu, sektor transportasi mencatat penurunan jumlah penumpang baik melalui jalur udara maupun laut.

Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang datang ke Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat sebanyak 100.778 orang, turun 22,75 persen dibandingkan April 2026.

Penurunan lebih tajam terjadi pada angkutan laut domestik. Jumlah penumpang yang datang melalui pelabuhan di Kalimantan Barat hanya mencapai 8.252 orang, atau merosot 66,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Data Statistik Jadi Acuan Kebijakan

Muh. Saichudin mengatakan berbagai indikator yang dirilis setiap bulan menjadi gambaran objektif mengenai kondisi perekonomian Kalimantan Barat dan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan.

"Data statistik yang kami sajikan diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam melihat perkembangan ekonomi Kalimantan Barat secara objektif dan berbasis data," katanya.

Ia menambahkan, meski Kalimantan Barat masih mencatat surplus perdagangan dan tingkat okupansi hotel yang cukup baik, penurunan ekspor, melemahnya Nilai Tukar Petani, serta berkurangnya mobilitas penumpang menjadi indikator yang perlu dicermati guna menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah pada periode-periode berikutnya. (mul)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda