PONTIANAK, SP – Langkah ganda campuran Indonesia Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu harus terhenti di babak semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Tampil di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (5/9/2026), Dejan/Apriyani harus mengakui keunggulan pasangan China Ma Xi Xiang/Qin Hui Zi dalam dua gim langsung.
Dejan/Apriyani kalah dengan skor 16-21 dan 13-21. Hasil tersebut membuat mereka gagal melangkah ke partai final turnamen BWF World Tour Super 100 tersebut.
Pada gim pertama, Dejan/Apriyani sebenarnya mampu memberikan perlawanan sejak awal. Setelah tertinggal 0-2, mereka terus mengejar hingga beberapa kali menyamakan kedudukan.
Kedudukan sempat sama kuat 4-4, 5-5, 6-6 hingga 7-7. Namun, setelah itu pasangan China mulai mengambil kendali permainan.
Ma/Qin menjauh 9-7 dan kemudian 11-7. Keunggulan tersebut terus dipertahankan hingga mereka memimpin 13-7, 16-8, dan 19-11.
Dejan/Apriyani sempat menunjukkan perlawanan dengan mengejar hingga 14-19. Bahkan mereka kembali memperkecil jarak menjadi 16-20.
Namun, upaya tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan. Pasangan China akhirnya menutup gim pertama dengan kemenangan 21-16.
Memasuki gim kedua, Dejan/Apriyani kembali tertinggal sejak awal. Ma/Qin mampu membuka keunggulan 4-0.
Dejan/Apriyani sempat mendapatkan tambahan poin dan memperkecil ketertinggalan menjadi 2-5. Namun, pasangan China kembali menjauh hingga 8-3, 10-4 dan 11-5.
Dejan/Apriyani berusaha mengejar. Mereka sempat mendekat hingga 11-7 dan 12-8, tetapi Ma/Qin mampu menjaga jarak.
Pasangan China kemudian terus menambah keunggulan hingga 16-8, 17-10, 19-11 dan akhirnya menutup pertandingan dengan skor 21-13.
Dejan mengakui hasil tersebut tidak sesuai dengan harapan mereka. Ia menilai permainan yang ditampilkan juga belum maksimal.
Menurutnya, kondisi fisik turut memengaruhi fokus di lapangan. Namun, Dejan tidak ingin menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan atas kekalahan.
“Hasilnya tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Tapi kita sudah mencoba berusaha sebisa kita, semaksimal mungkin,” ujar Dejan.
Ia mengatakan, secara permainan, kemampuan terbaik mereka tidak sepenuhnya keluar dalam pertandingan semifinal.
“Memang hasilnya belum dan tadi di permainan juga secara permainan tidak maksimal, permainannya tidak keluar. Mungkin kondisi juga memengaruhi. Bukan sebuah alasan, tapi akhirnya fokusnya hilang-hilangan,” katanya.
Apriyani juga mengakui kondisi fisik menjadi salah satu tantangan dalam menjaga konsentrasi selama pertandingan.
Ia mengatakan, pola permainan lawan sebenarnya sudah dipelajari sejak pagi melalui rekaman pertandingan.
Namun, persiapan tersebut belum sepenuhnya mampu diterapkan secara maksimal ketika pertandingan berlangsung.
“Kalau untuk pola permainan sebenarnya sudah lihat tadi pagi. Memang balik lagi, bukan menjadi alasan, tapi cukup apa ya, fokusnya jadi naik turun karena kondisi juga,” ungkap Apriyani.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Dejan yang dinilainya telah berjuang maksimal di lapangan sejak babak sebelumnya.
“Saya juga terima kasih untuk Dejan karena dia mau mengupayakan yang terbaik di lapangan. Sudah mati-matian dari kemarin sampai hari ini,” ujarnya.
Meski gagal mencapai final, Dejan menilai perjalanan mereka di Pontianak memberikan banyak hal positif. Bagi pasangan tersebut, penampilan di Indonesia Masters menjadi pengalaman penting untuk meningkatkan kualitas permainan mereka.
Dejan bahkan melihat adanya perkembangan dibandingkan penampilan mereka di turnamen sebelumnya di Taipei.
“Ini modal awal yang baik untuk kita. Karena kalau kita bandingkan dengan Taipei kemarin, pertama kali, di sini sangat improve,” jelasnya.
Menurut Dejan, perkembangan tersebut terlihat dari berbagai aspek, mulai dari persiapan, latihan, adaptasi di lapangan hingga pertandingan.
“Persiapan, latihan, nge-fight di lapangan, pertandingan juga. Kita dapat modal yang bagus untuk evaluasi nanti di belakang, setelah latihan,” katanya.
Karena itu, Dejan mengaku tetap bersyukur dengan pengalaman yang mereka dapatkan selama tampil di Pontianak.
“Saya sangat senang di sini dengan hasil-hasil yang kita dapat. Karena banyak banget pelajaran dan evaluasi juga yang bisa kita perbaiki di luar dan di lapangan,” tuturnya.
Apriyani pun menilai perjalanan mereka di Pontianak harus dijadikan bagian dari proses untuk terus berkembang sebagai pasangan.
Ia dan Dejan akan membawa berbagai catatan dari pertandingan ini untuk diperbaiki dalam latihan maupun pertandingan berikutnya.
“Sekiranya ini bisa menjadi modal juga. Saya dan Dejan juga harus terus belajar supaya bisa lebih baik lagi di pertandingan selanjutnya,” ujar Apriyani.
Dejan memastikan mereka tidak akan berhenti melakukan evaluasi. Kekalahan di semifinal menjadi bahan untuk memperbaiki kekurangan sekaligus mempertahankan hal-hal positif yang sudah terlihat selama turnamen.
“Semoga ke depannya kita pasti berusaha terus untuk improve, dan semoga ke depannya kita bisa mendapatkan hasil yang lebih-lebih lagi,” pungkasnya.(din)